MigasReview, Jakarta – Berbagai spekulasi atas penurunan harga minyak bertebaran. Jelas, hukum ekonomi soal pasokan dan permintaan menjadi faktor utama dalam penentuan harga. Tapi masalah berkembang tidak sampai di situ saja.
Mulai dari penurunan ekonomi China yang merupakan salah satu konsumen minyak terbesar di dunia dan ketidakpastian pertumbuhan ekonomi di Eropa hingga penolakan OPEC untuk memangkas produksi menjadi sejumlah penyebab utama kemerosotan ekonomi dunia.
Tapi di luar itu, ada sisi menarik atau bisa juga dibilang memprihatinkan ketika sejumlah negara menilai hal itu sebagai sebuah sistem untuk memorak-porandakan ekonomi Rusia, Venezuela, dan negara-negara Islam yang notabene tidak terlalu bersahabat dengan Amerika Serikat.
Mereka menilai ada konspirasi antara AS dan Arab Saudi, dua negara produsen minyak utama dunia. Arab sudah lama menjadi raja minyak sementara AS muncul sebagai the rising star minyak dengan produksinya minyak serpihnya yang terus membanjiri pasar.
Lalu, bagaimana peluang minyak mentah untuk kembali berjaya di tahun ini?
Sebelumnya, marilah kita sedikit menengok berbagai spekulasi di ranah ini dan perang komentar para pemimpin dunia.
“Tidak ada konspirasi. Tidak ada maksud untuk menyasar siapapun. Ini adalah pasar yang naik turun,” kata Menteri Perminyakan Uni Emirat Arab Suhail Bin Mohammed al-Mazroui.
“Kita semua melihat harga minyak terus menurun. Ada banyak spekulasi mengenai apa yang menyebabkannya. Mungkinkah ini adalah kesepakatan antara AS dan Arab Saudi untuk menghukum Iran dan memengaruhi ekonomi Rusia dan Venezuela? Bisa saja,” kata Presiden Rusia Vladimir Putin.
Presiden Venezuela Nicolas Maduro tampaknya berpikir seperti itu. Dalam wawancara dengan Reuters, Maduro mengatakan, dirinya berpikir bahwa AS dan Arab Saudi ingin mendorong harga minyak terus turun untuk ‘menyakiti Rusia’.
Presiden Bolivia Evo Morales sepakat dengan Maduro.
“Penurunan harga minyak diprovokasi oleh AS sebagai serangan ekonomi terhadap Venezuela dan Rusia. Di tengah serangan ekonomi dan politik semacam itu, negara-negara ini musti bersatu,” kata Morales.
Presiden Iran Hassan Rouhani malah memberikan komentar yang menyangkut SARA.
“Alasan utama (penurunan harga minyak) adalah konspirasi politik oleh beberapa negara terhadap kepentingan kawasan ini dan dunia Islam. Iran dan penduduk di kawasan ini tidak akan melupakan pengkhianatan terhadap dunia Islam seperti ini,” kata Rouhani.
Pengkhianatan oleh AS dan Arab Saudi? Apa yang sesungguhnya mendorong harga minyak terus merosot?
Tidak menurut Menteri Perminyakan Arab Saudi Ali al Naimi. Dia berkali-kali membantah bahwa kerajaan tersebut terlibat dalam konspirasi semacam itu.
Dikatakannya bahwa kemerosotan harga adalah akibat lemahnya kerjasama di antara negara-negara penghasil minyak non OPEC, meluasnya informasi yang tidak benar, dan keserakahan spekulan.
“Kebijakan minyak Saudi telah menjadi subjek spekulasi liar dan tidak akurat selama beberapa minggu ini. Kami tidak berniat memolitisasi minyak. Bagi kami ini adalah soal pasokan dan permintaan. Ini murni bisnis,” kata al Naimi.
Dengan kata lain, semua pihak disalahkan kecuali negara tersebut yang secara historis menjaga harga dengan mengendalikan produksi, pernyataan yang dinilai banyak pihak sebagai suatu hal yang dibesar-besarkan. Apalagi sejak – menurut Financial Times — para pemimpin OPEC telah secara de facto meninggalkan ‘strategi yang menjadi tradisinya’ dan mengumumkan bahwa mereka tidak akan memangkas produksi meskipun harga tumbang hingga US$20 per barel.
Editor ekonomi the Guardian Larry Elliot berspekulasi bahwa AS dan Arab Saudi terlibat dalam satu konspirasi untuk menurunkan harga minyak. Dia mengacu pada pertemuan September lalu antara Menteri Luar Negeri AS John Kerry dan mendiang Raja Arab Saudi Abdullah di mana ada kesepakatan di antara mereka untuk mendorong produksi dalam rangka menyakiti Iran dan Rusia.
Dalam artikel itu disebutkan”………dengan bantuan sekutunya, Saudi, Washington tengah mencoba untuk menurunkan harga minyak dengan membanjiri pasar yang sudah lesu dengan minyak mentah. Mengingat Rusia dan Iran sangat tergantung pada ekspor minyak, asumsinya adalah mereka menjadi lebih mudah untuk melakukan deal dengan……”
Ini menjelaskan mengapa harga terus turun padahal kericuhan di Irak dan Suriah yang diakibatkan oleh pergerakan the Islamic State of Iraq and Syra (ISIS) seharusnya malah mengangkat harga minyak.
Arab Saudi dinilai melakukan hal serupa pada pertengahan 1980-an. Saat itu, motivasi geopolitik yang membuat harga minyak anjlok di bawah US$10 per barel adalah untuk mendestabilisasi rezim Saddam Hussein.
Saat ini, menurut para pakar Timur Tengah, Arab Saudi ingin menekan Iran dan memaksa Moskow untuk melemahkan dukungan mereka pada rezim Assad di Suriah.
Namun tidak semua orang sepakat dengan spekulasi itu.
Kolumnis Washington Post Chris Mooney mengatakan bahwa faktor-faktor utama dari situasi ini adalah permintaan dan pasokan di mana perusahaan-perusahaan minyak yang selama beberapa tahun lalu berinvestasi besar-besaran dalam eksplorasi minyak mulai memproduksi minyak dalam jumlah besar yang kini membanjiri pasar. Selain itu ada isu soal ‘kurangnya konsistensi di antara anggota OPEC yang berasal dari berbagai negara.
Akibatnya, pertumhuha ekonomi dunia diramalkan kembali turun. Dana Moneter Internasional (IMF) memangkas pertumbuhan ekonomi dunia akibat kemerosotan harga minyak.
Dalam 2015 World Economic Outlook, Direktur Pelaksana Christine Lagarde mengatakan bahwa IMF memperkirakan ekonomi dunia tumbuh 3,5 persen tahun ini dan 3,7 persen pada 2016, penurunan 0,3 persen dari prediksi Oktober lalu.
Harga minyak yang tumbang lebih dari 50 persen sejak September lalu dinilai sebagai faktor terpenting dalam koreksi pertumbuhan ekonomi dunia itu.
5 Faktor Pengaruhi Harga Minyak Tahun Ini
Sementara itu, dalam analisisnya, Oilprice.com menyatakan bahwa ada 5 faktor yang akan memengaruhi harga minyak tahun ini.
1. Ekonomi China.
China adalah konsumen minyak terbesar kedua di dunia dan telah melampaui AS sebagai importir minyak pada akhir 2013. Menurut Energy Information Agency (EIA), China diperkirakan membakar 3 juta barel lebih minyak per hari pada 2020 dibandingkan pada 2012 alias sepertiga dari pertumbuhan permintaan dunia selama kurun waktu tersebut. Meski masih banyak ketidakpastian, ekonomi China diperkirakan telah mencapai titik terendahnya pada kuartal keempat dan akan kembali bangkit. Memang belum jelas apakah China akan bisa menghentikan penurunan pertumbuhan ekonominya namun arah ekonomi China akan berpengaruh signifikan pada harga minyak dunia tahun ini.
2. Migas Serpih AS.
Pada akhir 2014, AS memproduksi lebih dari 9 juta minyak per hari atau melonjak 80 persen dibandingkan 2007. Produksi itu jelas membuat pasar kebanjiran minyak. Memang ini membahayakan diri sendiri dan pertanyaannya adalah seberapa terpengaruhnya para produsen AS dengan harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) di bawah US$60? Pengeboran memang berkurang dan belanja dipangkas namun sejauh ini produksi tetap stabil. Apakah industri ini bisa mempertahankan produksi di tengah harga seperti saat ini ataukah produksi akan turun tentu akan berpengaruh sangat besar pada pasokan internasional dan pada akhirnya adalah pada harga.
3. Elastisitas Permintaan
Obat dari harga yang rendah adalah harga yang rendah itu sendiri. Ungkapan klasik ini bisa diaplikasikan pada pasokan dan permintaan minyak. Apakah obral harga minyak ini akan memperbarui permintaan? Di beberapa negara di mana harga minyak lebih diatur, rendahnya harga tidak berpengaruh di level ritel. Namun di AS, harga bensin sekarang di bawah US$2,40 per galon, turun lebih dari 35 persen dibandingkan pertengahan 2014. Ini akan mendorong konsumsi bensin.
4. Langkah OPEC Berikutnya
Harga minyak makin tumbang setelah pertemuan kartel tersebut pada November lalu, menunjukkan betapa sangat berpengaruhnya mereka terhadap pergerakan harga. Untuk saat ini, OPEC, terutama arab Saudi, tetap bergeming untuk tidak memangkas produksi. Apakah mereka akan bertahan dengan sikap itu pada 2015, kita lihat saja nanti.
5. Isu Geopolitik.
Belum terlalu lama ini, masalah gangguan produksi kecil saja telah mendorong harga minyak naik. Di awal 2014, misalnya, kekerasan di Libya telah memicu penurunan ekspor minyak dan berkontribusi pada kenaikan harga. Di Irak, ISIS menguasai sejumlah wilayah di negara tersebut dan harga minyak naik di tengah kecemasan akan kurangnya pasokan. Namun sejak itu, gejolak geopolitik tidak terlalu berpengaruh pada harga minyak mentah. Selama beberapa minggu terakhir 2014, kekerasan muncul lagi di Libya. Namun setelah harga sempat naik, pasar tidak lagi memedulikan isu tersebut. Tapi bagaimanapun juga, sejarah menunjukkan bahwa krisis geopolitik adalah salah satu kekuatan terdahsyat yang memepengaruhi harga minyak.
Peluang di 2015
Lalu bagaimana peluang harga minyak untuk kembali menguat?
Sekretaris Jenderal OPEC Abdullah al-Badri mengatakan bahwa pemulihan harga minyak segera terjadi.
“Sekarang harga berada di kisaran US$45-55. Saya pikir ini telah mencapai level terendahnya dan akan segera rebound,” kata dia.
Ditambahkannya, jika tidak ada investasi di sektor migas akibat penurunan harga tersebut, harga akan naik ke level US$200 per barel.
Meski tidak menjelaskan kapan itu bisa terjadi, dia menjabarkan korelasi antara investasi dan produksi. Dikatakannya, produksi minyak secara alamiah turun dan perusahaan minyak harus berinvestasi di produksi baru, tidak saja untuk mengganti penurunan produksi tapi juga harus mememuhi kenaikan permintaan. Namun perusahaan minyak enggan berinvetasi lagi karena aliran modal mereka turun.
Pada akhirnya, dengan harga yang murah sementara produksi minim dan permintaan naik, harga akan naik kembali
Namun masih banyak sentiment negatif . Banyak trader AS yang tidak yakin bahwa yang terburuk telah berlalu.
Raja Arab Saudi Salman yang menggantikan mendiang Raja Abdullah bersikap sama dengan Menteri Perminyakan Ali al-Naimi bahwa tidak ada perubahan dalam level produksi Arab Saudi.
Dirk Lever, direktur pelaksana Altacorp, mengatakan bahwa aksi Arab Saudi untuk memangkas produksi akan lebih meyakinkan pasar ketimbang omongan pejabat OPEC.
“Kita harus menunggu apakah akan ada pemangkasan produksi atau hanya sinyal verbal ke pasar,” kata dia kepada CBC News.
Plt Dirjen Migas I ESDM Gusti Nyoman Wiratmaja Puja mengatakan, harga minyak dunia akan tetap stabil pada di kisaran US$50-60 per barel.
"Saya telah bertemu para analis minyak internasional. Mereka mengatakan, dalam 12 bulan mendatang harga akan stabil di kisaran US$50- 60. Itu (salah satu) yang kami jadikan pegangan dalam menentukan asumsi makro," kata Wiratmadja. (cundoko aprilianto)

Komentar