Sudah hampir sebulan, sejak 20 April yang lalu, perusahaan
sebesar dan sepenting Pertamina tidak memiliki Direktur Utama. Ini sungguh aneh
dan meremehkan aturan GCG (Good Corporate
Governance) sebuah Perusahaan Terbatas (PT) yang selama ini menomor-satukan
aturan itu.
Pertamina, yang Desember 2018 nanti akan memasuki usia 61
tahun, terlihat lebih tua dari umurnya, bak orang tua yang kelelahan menanggung
beban yang begitu berat. Semangat patriot yang sejak dulu dipompakan kepada
jajaran manajemen dan pekerjanya seakan pudar dengan berbagai perombakan pucuk
pimpinan yang tak ada habisnya. Teriakan “Pertamina
b.e.r.u.b.a.h !!” seperti menggaung di dalam gua dengan pantulan gema suara
yang berulang-ulang, menjadikan kata yang sakral itu menjadi “Pertamina berubah!, ubah, ubah, ubah…”
tanpa kepastian yang seharusnya.
Bisa jadi Pertamina sedang istirahat melepas penatnya. Atau
sedang mengumpulkan tenaga untuk bersaing di tengah percaturan bisnis migas
global yang semakin sulit. Namun apapun kondisinya kita harus membangun(kan)
Pertamina agar menjadi perusahaan energi nasional yang berkelas dunia, seperti
visi yang selalu didengungkan oleh para pendirinya.
Kalau pun sekarang ada yang memandang remeh peran Pertamina
dalam industri migas nasional dan internasional, harusnya mereka melihat betapa
setiap denyut nadi distribusi energi dan detak jantung perekonomian kita
(Indonesia) dapat lumpuh seketika seandainya Pertamina terkapar sakit atau tak
bernyawa lagi.
Bayangkan, setiap hari perusahaan ini harus mengelola
ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) sekitar 1.3 juta barrel (184 juta liter)
yang berasal dari kilang-kilang dalam negeri dan impor untuk didistribusikan ke
seluruh negeri. Belum lagi pengelolaan Avtur, LPG, CNG, LNG, gas pipa,
petrokimia, pelumas, dan lain-lain. Harga BBM pun dipatok sama di seluruh penjuru
tanah air, dan masih harus mendapatkan untung dari setiap bisnis yang
dijalankannya.
Maka, tidak ada teori logistik dan pemasaran mana pun yang
mampu menerjemahkan bisnis model semacam ini ke dalam strategi korporasi agar
perusahaan ini memperoleh keuntungan maksimal untuk maju dan berkembang.
Di tengah harga minyak yang naik-turun-naik, seperti
layaknya pendulum, memang tidak ada cara lain kecuali menerapkan manajemen
portofolio dan risiko antar bisnis hulu dan hilir dengan cermat. Selagi harga
minyak rendah, mestinya aktifitas hilir akan meraup margin yang cukup besar dan
aktifitas hulu menjadi kurang diperhatikan. Begitu sebaliknya, jika harga
minyak merangkak naik, maka aktifitas hulu akan menikmati keuntungannya dengan
senang hati. Hanya saja kadang kita lupa bahwa dengan harga minyak yang
turun-naik seperti itu strategi dan eksekusi bisnis kita tidak berubah. Juga
lupa menyisihkan keuntungan untuk diinvestasikan lagi pada bisnis yang tepat
agar pada masa sulit perusahaan masih tetap meraup untung yang setara.
Pertamina seharusnya dapat memainkan peran yang lebih besar
dalam mengelola bisnis hulu dan hilir migas yang secara alami memang sering
bertolak belakang. Namun karena dibatasi dengan aturan dan penugasan-penugasan
sehingga jangankan ikut berlari dengan perusahaan migas lainnya, bangun dan
berdiri pun sudah kepayahan.
Perolehan keuntungan dari hasil jualan minyak mentah
tentunya bergantung dari aktifitas eksplorasi dan produksi di sektor hulu.
Dalam kondisi harga minyak tinggi, sumur-sumur yang tadinya tidak ekonomis
dapat dibuka kembali sehingga produksi meningkat dan keuntungan perusahaan naik
signifikan. Namun, sudah terlanjur di saat harga minyak rendah aktifitas
eksplorasi dibatasi karena dianggap tidak mendatangkan pendapatan secara cepat
(quick yield), sehingga pada saat
harga minyak naik tidak ada cadangan baru yang dapat diproduksikan. “Tabungan” cadangan migas pun tergerus
habis pelan-pelan tapi pasti, karena kebutuhannya yang terus meningkat.
Jangan heran jika makin lama kita mengimpor minyak mentah
dan BBM semakin banyak, karena di tengah harga minyak yang rendah budaya
konsumtif masyarakat justru terus meningkat, sementara produksi minyak terus
menurun karena tidak sedikit lapangan yang menjadi tidak ekonomis dan ditutup.
Hal ini menyebabkan reserve replacement
ratio, yakni perbandingan cadangan yang ditemukan terhadap produksinya, di
bawah 1 (satu). Artinya dunia minyak kita sudah lama dalam kondisi “defisit”. Besar pasak daripada tiang.
Sekarang Pertamina akan dibangun(kan) kembali dengan dua
cara sekaligus, yakni di sektor hulu diberi hak pengelolaan lapangan-lapangan
migas yang berakhir masa kontraknya dan di sektor hilir didorong untuk
membangun kilang minyak baru (GRR - grass-root
refinery), dan pengembangan kilang lama (RDMP – refinery development master plan).
Namun, disengaja atau tidak, penyerahan WK (wilayah kerja)
yang tanpa didahului dengan due-diligence
dan transisi operasi yang serius justru dapat menyebabkan meningkatnya
liabilitas, bukannya profitibiltas, perusahaan. Aset-aset yang sudah tua
tentunya banyak memerlukan biaya perawatan/pemeliharaan/restorasi yang tinggi
di tengah kesulitan mencegah penurunan produksi secara alamiah.
Di sektor hilir, dengan akan dibangunnya kilang baru maupun
pengembangan kilang lama, juga menimbulkan masalah tersendiri karena minyak
mentah yang diolah bukan berasal dari dalam negeri tapi diimpor dari negara
lain. Jadi, dari sisi risiko bisnisnya hampir sama dengan mengimpor langsung
bahan bakar minyak (BBM) yang sudah jadi. Kecuali jika dilihat dari penyerapan
tenaga kerja dan derivasi produknya. Dengan demikian, tujuan pembangunan kilang
untuk kemandirian dan ketahanan energi nasional sebetulnya masih relevan untuk
dipertanyakan.
Lalu, dengan begitu, muncul solusi bahwa Pertamina harus
kuat di sektor tengah (midstream) migas. Dibuatlah organisasi yang memperkuat
logistik, distribusi, pemasaran korporat, dan retail. Selain minyak, gas juga
digarap dengan lebih seksama. Dibuatlah Holding Migas, yang menyatukan
Perusahaan Gas Negara (PGN) dengan PT Pertagas (anak perusahaan Pertamina) agar
memiliki infrastruktur pipa transmisi dan distribusi gas yang terintegrasi.
Apakah dengan demikian Pertamina lantas dapat bangun (lagi)
dan berlari, kita lihat saja indikasinya bulan-bulan ini. Kebutuhan energi di
bulan Ramadhan biasanya lebih besar dibanding bulan-bulan lainnya. Jika tren
kinerja Pertamina itu tidak turun, bahkan melesat naik, maka barangkali
Pertamina tidak penting lagi memiliki Direktur Utama. Pertamina hanya perlu
pekerja front liners dan manajer yang berjibaku tiap hari, baik di hulu
(orang-orang yang menjaga sumur di pelosok negeri, di hutan dan di tengah laut,
agar mereka tetap produksi), maupun di hilir (orang-orang yang tidak kenal jeda menjaga kilang dan stok di
depot-depot, SPBU, serta distribusi BBM agar tetap dapat melayani pembeli)
di saat orang lain menikmati Lebaran dan Cuti Bersama yang ditambah
berhari-hari, yang tentunya menambah penggunaan energi dari tangan-tangan yang
tanpa lelah mereka cari dan salurkan ke seluruh negeri.
Opini ini ditulis oleh Salis
S. Aprilian

Komentar