PT Nusantara Regas terus menunjukkan prestasinya setelah
berhasil meraih catatan kinerja positif hingga Triwulan II Tahun 2018. Berikut
penuturan Direktur Utama PT Nusantara
Regas Moch. Taufik Afianto kepada Energia
Bagaimana pencapaian kinerja Nusantara Regas hingga triwulan II tahun 2018 ini?
Nusantara Regas terus menunjukkan kinerja positif hingga
triwulan II tahun 2018 ini. Penyaluran gas sudah mencapai 14,8 kargo, atau 32%
di atas target TW II sebesar 11 kargo. Selain itu dari sisi operasi, tercatat plant availability factor (PAF) tercapai
96,4% sedangkan targetnya adalah 94,8%. Target PAF TW II memang relatif rendah
karena ada pelaksanaan turn around
(TA) di bulan Juni. Meski demikian, pencapaian PAF TW II masih di atas target
dan akhir tahun 2018 kami optimis realisasi PAF bisa mencapai level 97-98%.
Pencapaian positif ini tidak terlepas dari kerja sama yang solid di internal NR
dan keberhasilan customer intimacy
kepada konsumen.
Adakah pengembangan bisnis lain yang akan dilakukan oleh Nusantara Regas?
Saya menyemangati dan sudah menyosialisasikan secara intens
ke teman-teman di Nusantara Regas bahwa saat ini Nusantara Regas sudah harus
mempersiapkan diri untuk memasuki siklus kedua kehidupannya. Sebagaimana
diketahui bawa siklus pertama kehidupan Nusantara Regas akan segera berakhir,
dimana kontrak utama kami dengan PLN sebagai major customer akan berakhir pada tahun 2022. Untuk itu, kami harus
melakukan seluruh persiapan yang diperlukan dimulai dari sekarang. Untuk itu
kita sudah mulai menyusun satu proposal pengembangan bisnis komprehensif yang
tetap kita akan kaitkan dengan sektor kelistrikan sebagai major customer, dan menambahkan potensi-potensi pasar di sektor
industri serta membangun sinergi bisnis dengan sesama anak perusahaan di
lingkungan Pertamina Group.
Bagaimana dengan rencana pembangunan LNG offloading skala kecil dan progress seperti apa?
Saat ini aktivitas utama Nusantara Regas adalah
meregasifikasi LNG menjadi gas untuk selanjutnya kami kirim ke tiga pembangkit
utama PLN di sistem kelistrikkan di Jakarta antara lain Muara Karang, Tanjung
Priok, dan Muara Tawar. Sementara itu proyek offloading tersebut merupakan bagian dari upaya kami untuk
diversifikasi jasa kepada customer.
Dengan adanya fasilitas offloading
ini, kami dapat melakukan proses transfer atau discharge LNG dari fasilitas Floating Storage and Regasification Unit
(FSRU) ke kapal LNG yang lebih kecil ataupun LNG skid tank (masih dalam bentuk
LNG) dan selanjutnya membawa LNG tersebut ke lokasi customer yang relatif jauh dan terpencil. Kajian atas hal tersebut
sudah dilakukan di beberapa tempat dan satu target pasar yang sekarang sedang
kami fokuskan adalah IPP (Independent
Power Producer) yang direncanakan dibangun di daerah Tulang Bawang,
Lampung.
Adakah Kendala Yang
Dihadapi Nusantara Regas Dalam Menjalani Proses Bisnisnya? Jika Ada, Bagaimana
Solusi Mengatasinya?
Kendala utama yang
kami hadapi sekarang adalah kita masih hanya memiliki satu major customer, yaitu power
sector. Boleh dikatakan saat ini kami hanya memiliki satu revenue stream. Memang kami akui bahwa
sektor kelistrikan mengonsumsi gas dalam volume yang relatif besar. Namun kami
tidak ingin hanya berhenti di situ, kami terus mencoba mencari ataupun
mengupayakan customer-customer lain
di luar sektor kelistrikan. Sebagai contoh, kami akan coba menjalin kerja sama
dengan rekan-rekan sesama anak perusahaan di dalam Pertamina Group untuk
mendapatkan customer dari sektor
industri. Hal itulah yang melatarbelakangi kenapa kami membangun fasilitas offloading tersebut di atas untuk
mengantisipasi apabila ada customer
dari sektor industri dengan karakteristik khusus antara lain lokasi jauh dan
terpencil yang membutuhkan gas atau LNG fasilitas.
Terkait dengan penyelenggaraan Asian Games 2018, apa kontribusi Nusantara Regas?
Terkait dengan penyelenggaraan Asian Games 2018, kami di-challenge untuk dapat menjamin
ketersediaan pasokan gas pada tingkat kapasitas terpasang fasilitas FSRU kami
di angka 500 mmscfd. Sebagaimana diketahui selama ini operasi fasilitas kami
selalu disesuaikan dengan serapan yang ada dari PLN, yaitu berada pada kisaran
serapan gas di angka 200 hingga 250 mmscfd. Selama penyelenggaran Asian Games,
kami dituntut untuk siaga satu dalam arti siaga setiap saat apabila diperlukan
serapan gas hingga mencapai tingkat kapasitas terpasang di angka 500 mmscfd.
Masa siaga kami sejak bulan Juli hingga Oktober 2018.
Apa harapan bagi Nusantara Regas ke depannya?
Tentunya kami sangat berharap bahwa fasilitas Nusantara
Regas tetap dapat memberikan kontribusi atas pasokan gas kepada sistem
kelistrikan di Jakarta terutama sampai 20 hingga 25 tahun ke depan, di samping
itu juga dapat menjadi entry point pasokan
gas dan/atau LNG bagi pemenuhan kebutuhan industri di Jawa bagian barat. Kami
memiliki lokasi fasilitas yang sangat strategis, tepat di mulut demand gas.
Fasilitas kami juga sudah terhubung dengan jaringan pipa gas yang
dimiliki/dikelola oleh sesama anak perusahaan di lingkungan Pertamina Group.
Oleh karenanya, kami juga sangat berharap bahwa seluruh stakeholder terkait mendukung dan memahami arti dari strategis dari
fasilitas ini serta mengoptimalkan pemanfaatannya. Terlebih lagi fasilitas ini
juga sudah termasuk dalam salah satu kawasan Objek Vital Nasional (Obvitnas)
Artikel ini telah tayang di Energia Weekly, No. 37 Tahun LIV, 10
September 2018

Komentar