Peluang dan Tantangan Pertamina Menghadapi Persaingan Bisnis Energi Dunia

23 July 2018, Editor Anovianti Muharti

Oppie Muharti | MigasReview.com
Oppie Muharti | MigasReview.com
facebook
10
twitter
google+
0
linkedin
0

Geliat industri minyak dan gas (migas) dunia yang sangat dinamis menjadikan para pelaku bisnis di dalamnya harus siap menghadapi segala perkembangan maupun tantangan yang akan dihadapi. Lantas bagaimana kesiapan Pertamina menyikapi hal tersebut?

Berikut penjelasan Vice President Corporate Business Strategic Planning Pertamina Ernie D. Ginting.

 

Saat ini dinamika bisnis migas dunia sangat dinamis. Bagaimana Pertamina menyikapi hal ini?

Memang industri energi menghadapi kondisi VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity). Dalam kondisi tersebut, Pertamina harus tetap punya tujuan untuk bisnis ke depan serta menyikapinya sebagai peluang sekaligus tantangan.

Itu sebabnya ke depan, Pertamina perlu membangun strategi yang lebih flexible, dimana uncertainty dijadikan basis penyusunan rencana jangka panjang untuk alokasi investasi yang lebih adaptive.

Contoh beberapa uncertainty adalah seberapa cepat perkembangan electric vehicle, perkembangan new renewable energy, keekonomian bahan bakar kendaraan, dan sebagainya. Studi ini sudah selesai dilakukan dan sebagai deliverables adalah strategi Pertamina 2030 yang memiliki tiga skenario: market montage, green transformation, dan oil & gas superabundance. Strategi korporat ini dituangkan dalam RJPP dan secara regular, kita revisit RJPP secara dinamis untuk menyesuaikan dengan kondisi dan arahan dari direksi.

Di strategi bisnis, Pertamina mengembangkan bisnisnya agar lebih balance antara upstream-midstream-downstream, serta strategi memaksimalkan kontribusi anak perusahaan baik secara operasional dan finansial. Salah satu hal strategis yang fundamental guna mendukung strategi tersebut adalah dengan mengalokasikan proporsi capex secara jangka panjang untuk upstream dan non-upstream masing-masing sekitar 50%.

Di samping itu, perusahaan juga memandang perlu untuk membangun Pertamina Energy Institute (PEI) yang terdiri dari tenaga-tenaga spesialis energy economist untuk menjalankan kegiatan business intelligent (seperti outlook perubahan bisnis energi, trend industry, market analysis, dan sebagainya), sebagai masukan bagi strategi perusahaan ke depan. Diharapkan nantinya, PEI ini akan menjadi pusat kajian strategis ekonomi dan energi di Pertamina yang bisa membantu Pertamina dalam mengeluarkan publikasi-publikasi energi sebagai upaya edukasi stakeholders serta dalam menyuarakan kebijakan-kebijakan yang diperlukan dalam rangka mendukung bisnis Pertamina.

 

Dengan kondisi tersebut, bagaimana peran fungsi Corporate Business Stategic Planning dalam menguatkan eksistensi Pertamina dalam bisnis energi global?

Tantangan besar sedang terjadi di industri migas secara global, antara lain pesatnya pertumbuhan energi baru dan terbarukan, fluktuasi harga minyak mentah, terbatasnya sumber-sumber energi konvensional serta dibutuhkannya teknologi tinggi untuk mengeksploitasi sumber energi unconventional.

Untuk menghadapi tantangan ini, CBSP mengidentifikasi potensi kerja sama Pertamina dengan calon-calon partner, yang didorong tidak hanya melalui skema business to business (B to B), tetapi juga melalui skema government to government (G to G) untuk memperlancar kerjasama melalui pemerintah Indonesia dengan negara-negara yang mana memiliki industri atau pasar yang potential bagi Pertamina.

Selain itu, pada tataran strategi bisnis, fungsi CBSP juga telah secara eksplisit memasukkan strategi partnership menjadi salah satu strategi yang harus dilakukan di seluruh lini bisnis Pertamina, termasuk dalam hal ini untuk bisnis Pertamina di luar negeri. Strategi partnership ini memungkinkan Pertamina memiliki akses ke finansial, pasar dan teknologi di luar sebagai modal penting untuk menjadi pemain global. Sebagai contoh, dapat kita ambil indikator produksi migas dari PT Pertamina International EP (PIEP). PIEP akan berperan sebagai sub-holding Pertamina untuk bisnis hulu secara global, dan dengan memaksimalkan strategi partnership, maka diharapkan volume produksinya pada tahun 2025 diproyeksikan dapat mencapai sekitar 250 mboepd, dari sebelumnya pada tahun 2017 sekitar 150 mboepd.

 

Bagaimana Corporate Business Strategic Planning dalam menjalankan tugas dan peran tersebut dapat bersinergi dengan direktorat lain, unit operasi maupun anak perusahaan?

Suatu strategi akan dapat tercapai jika melibatkan seluruh stakeholder sejak awal. Itu sebabnya, CBSP sejak penyusunan strategi sudah melibatkan stakeholder mulai dari sosialisasi aspirasi BoD, kick off arahan penyusunan RJPP, SVP forum maupun forum sinergi antar direktorat dan anak perusahaan lainnya.

Selain itu untuk memberikan pemahaman tentang dinamika industri energi global, CBSP menginisiasi adanya kegiatan Pertamina Energy Forum dan Wood Mackenzie Forum dengan menghadirkan praktisi-praktisi energi global.

 

Apa yang menjadi tantangan bisnis tahun ini? Bagaimana solusi dari fungsi Corporate Business Strategic Planning?

Sebagai sebuah BUMN, Pertamina dituntut untuk menyeimbangkan dua peran yang secara nature cukup berbeda. Yaitu pada satu sisi harus mendukung program pemerintah dalam bidang energi, serta pada sisi lain mengejar pertumbuhan perusahaan dan profit seoptimal mungkin.

Untuk tahun 2018 sendiri, terdapat beberapa tantangan yang dihadapi Pertamina dalam menjalankan proses bisnisnya. Diantaranya harga minyak mentah yang cenderung meroket, hingga menyebabkan biaya pokok produksi BBM yang juga meningkat, serta kurs Rupiah terhadap USD.

Melihat hal tersebut, Pertamina harus memperhitungkan secara cermat atas eksekusi program kerja pengembangan perusahaan yang dapat menyeimbangkan target pencapaian perusahaan secara komprehensif.

Fungsi CBSP telah menyampaikan usulan solusi agar strategi bisnis Pertamina tahun ini aligned dengan tema strategis jangka panjang Pertamina untuk menyeimbangkan portofolio bisnis dan mengutamakan proyek-proyek yang quick yield maupun memiliki basis potensi market/demand yang kuat.

Pertamina tetap harus berinvestasi, namun juga harus mempertahankan posisi fundamental keuangan perusahaan yang baik. Diupayakan agar ending cash flow Pertamina tetap pada level US$ 4-5 Bn, serta financial covenants perusahaan tetap terjaga.

Sesuai peran dan tugasnya, fungsi CBSP akan mengoordinasikan langkah-langkah strategis sesuai arahan direksi dan mengkaji implikasinya terhadap pertumbuhan perusahaan ke depan, seperti mengoptimalkan aset dan investasi ke depan serta mengkaji peluang – peluang kerja sama bisnis regional dan internasional yang potensial.

 

Apa harapan Ibu kepada seluruh insan Pertamina agar kinerja perusahaan meningkat?

Dalam kondisi industri energi yang VUCA saat ini, seperti harga minyak yang terus naik, kita tetap harus mengedepankan efisiensi. Selama kita masih bisa menggunakan resource dari dalam, pakailah resource dari dalam. Insan Pertamina juga diharapkan untuk lebih kreatif, inovatif dan adaptif dalam menjalankan perannya di Pertamina serta terus meningkatkan dan mempertahankan kerja sama tim.

 

Artikel ini telah tayang di Energia Weekly, No. 30 Tahun LIV, 23 Juli 2018

Komentar

Artikel Lainnya ×
 
 
 
 
 

Upaya Produksi Pertamina EP Bangkit Lagi Tembus 100 Ribu BPOD

Tahun ini, perlahan tapi pasti produksi Pertamina melalui anak perusahaan menunjukkan hasil yang menggembirakan. Salah satunya berasal dari peningkatan kinerja produksi Pertamina EP (PEP) di beberapa area operasinya. Berikut penjelasan dari Presiden…