Geliat industri minyak dan gas (migas) dunia yang sangat
dinamis menjadikan para pelaku bisnis di dalamnya harus siap menghadapi segala
perkembangan maupun tantangan yang akan dihadapi. Lantas bagaimana kesiapan
Pertamina menyikapi hal tersebut?
Berikut penjelasan Vice President Corporate Business Strategic
Planning Pertamina Ernie D. Ginting.
Saat ini dinamika bisnis migas dunia sangat dinamis. Bagaimana Pertamina menyikapi hal ini?
Memang industri energi menghadapi kondisi VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity,
Ambiguity). Dalam kondisi tersebut, Pertamina harus tetap punya tujuan
untuk bisnis ke depan serta menyikapinya sebagai peluang sekaligus tantangan.
Itu sebabnya ke depan, Pertamina perlu membangun strategi
yang lebih flexible, dimana uncertainty
dijadikan basis penyusunan rencana jangka panjang untuk alokasi investasi yang
lebih adaptive.
Contoh beberapa uncertainty
adalah seberapa cepat perkembangan electric
vehicle, perkembangan new renewable
energy, keekonomian bahan bakar kendaraan, dan sebagainya. Studi ini sudah
selesai dilakukan dan sebagai deliverables
adalah strategi Pertamina 2030 yang memiliki tiga skenario: market montage, green transformation,
dan oil & gas superabundance.
Strategi korporat ini dituangkan dalam RJPP dan secara regular, kita revisit RJPP secara dinamis untuk
menyesuaikan dengan kondisi dan arahan dari direksi.
Di strategi bisnis, Pertamina mengembangkan bisnisnya agar
lebih balance antara upstream-midstream-downstream, serta
strategi memaksimalkan kontribusi anak perusahaan baik secara operasional dan
finansial. Salah satu hal strategis yang fundamental guna mendukung strategi
tersebut adalah dengan mengalokasikan proporsi capex secara jangka panjang untuk upstream dan non-upstream
masing-masing sekitar 50%.
Di samping itu, perusahaan juga memandang perlu untuk
membangun Pertamina Energy Institute (PEI) yang terdiri dari tenaga-tenaga
spesialis energy economist untuk
menjalankan kegiatan business intelligent
(seperti outlook perubahan bisnis
energi, trend industry, market analysis,
dan sebagainya), sebagai masukan bagi strategi perusahaan ke depan. Diharapkan
nantinya, PEI ini akan menjadi pusat kajian strategis ekonomi dan energi di
Pertamina yang bisa membantu Pertamina dalam mengeluarkan publikasi-publikasi
energi sebagai upaya edukasi stakeholders
serta dalam menyuarakan kebijakan-kebijakan yang diperlukan dalam rangka
mendukung bisnis Pertamina.
Dengan kondisi tersebut, bagaimana peran fungsi Corporate Business Stategic Planning dalam menguatkan eksistensi Pertamina dalam bisnis energi global?
Tantangan besar sedang terjadi di industri migas secara
global, antara lain pesatnya pertumbuhan energi baru dan terbarukan, fluktuasi
harga minyak mentah, terbatasnya sumber-sumber energi konvensional serta
dibutuhkannya teknologi tinggi untuk mengeksploitasi sumber energi unconventional.
Untuk menghadapi tantangan ini, CBSP mengidentifikasi
potensi kerja sama Pertamina dengan calon-calon partner, yang didorong tidak
hanya melalui skema business to business
(B to B), tetapi juga melalui skema government
to government (G to G) untuk memperlancar kerjasama melalui pemerintah
Indonesia dengan negara-negara yang mana memiliki industri atau pasar yang
potential bagi Pertamina.
Selain itu, pada tataran strategi bisnis, fungsi CBSP juga
telah secara eksplisit memasukkan strategi partnership
menjadi salah satu strategi yang harus dilakukan di seluruh lini bisnis
Pertamina, termasuk dalam hal ini untuk bisnis Pertamina di luar negeri.
Strategi partnership ini memungkinkan
Pertamina memiliki akses ke finansial, pasar dan teknologi di luar sebagai
modal penting untuk menjadi pemain global. Sebagai contoh, dapat kita ambil
indikator produksi migas dari PT Pertamina International EP (PIEP). PIEP akan
berperan sebagai sub-holding
Pertamina untuk bisnis hulu secara global, dan dengan memaksimalkan strategi partnership, maka diharapkan volume
produksinya pada tahun 2025 diproyeksikan dapat mencapai sekitar 250 mboepd,
dari sebelumnya pada tahun 2017 sekitar 150 mboepd.
Bagaimana Corporate Business Strategic Planning dalam menjalankan tugas dan peran tersebut dapat bersinergi dengan direktorat lain, unit operasi maupun anak perusahaan?
Suatu strategi akan dapat tercapai jika melibatkan seluruh stakeholder sejak awal. Itu sebabnya,
CBSP sejak penyusunan strategi sudah melibatkan stakeholder mulai dari sosialisasi aspirasi BoD, kick off arahan penyusunan RJPP, SVP
forum maupun forum sinergi antar direktorat dan anak perusahaan lainnya.
Selain itu untuk memberikan pemahaman tentang dinamika
industri energi global, CBSP menginisiasi adanya kegiatan Pertamina Energy
Forum dan Wood Mackenzie Forum dengan menghadirkan praktisi-praktisi energi
global.
Apa yang menjadi tantangan bisnis tahun ini? Bagaimana solusi dari fungsi Corporate Business Strategic Planning?
Sebagai sebuah BUMN, Pertamina dituntut untuk menyeimbangkan
dua peran yang secara nature cukup berbeda. Yaitu pada satu sisi harus
mendukung program pemerintah dalam bidang energi, serta pada sisi lain mengejar
pertumbuhan perusahaan dan profit
seoptimal mungkin.
Untuk tahun 2018 sendiri, terdapat beberapa tantangan yang
dihadapi Pertamina dalam menjalankan proses bisnisnya. Diantaranya harga minyak
mentah yang cenderung meroket, hingga menyebabkan biaya pokok produksi BBM yang
juga meningkat, serta kurs Rupiah terhadap USD.
Melihat hal tersebut, Pertamina harus memperhitungkan secara
cermat atas eksekusi program kerja pengembangan perusahaan yang dapat
menyeimbangkan target pencapaian perusahaan secara komprehensif.
Fungsi CBSP telah menyampaikan usulan solusi agar strategi
bisnis Pertamina tahun ini aligned dengan tema strategis jangka panjang
Pertamina untuk menyeimbangkan portofolio bisnis dan mengutamakan proyek-proyek
yang quick yield maupun memiliki
basis potensi market/demand yang
kuat.
Pertamina tetap harus berinvestasi, namun juga harus
mempertahankan posisi fundamental keuangan perusahaan yang baik. Diupayakan
agar ending cash flow Pertamina tetap
pada level US$ 4-5 Bn, serta financial
covenants perusahaan tetap terjaga.
Sesuai peran dan tugasnya, fungsi CBSP akan mengoordinasikan
langkah-langkah strategis sesuai arahan direksi dan mengkaji implikasinya
terhadap pertumbuhan perusahaan ke depan, seperti mengoptimalkan aset dan
investasi ke depan serta mengkaji peluang – peluang kerja sama bisnis regional
dan internasional yang potensial.
Apa harapan Ibu kepada seluruh insan Pertamina agar kinerja perusahaan meningkat?
Dalam kondisi industri energi yang VUCA saat ini, seperti
harga minyak yang terus naik, kita tetap harus mengedepankan efisiensi. Selama
kita masih bisa menggunakan resource
dari dalam, pakailah resource dari
dalam. Insan Pertamina juga diharapkan untuk lebih kreatif, inovatif dan
adaptif dalam menjalankan perannya di Pertamina serta terus meningkatkan dan
mempertahankan kerja sama tim.
Artikel ini telah tayang di Energia Weekly, No. 30 Tahun LIV, 23 Juli
2018

Komentar