29 Proyek Strategis untuk Permudah Distribusi BBM dan LPG

06 August 2018, Editor Anovianti Muharti

dok. Oppie Muharti | MigasReview.com
facebook
10
twitter
google+
0
linkedin
0

Sebagai direktorat yang baru terbentuk pada April 2018 lalu, Direktorat Logistik, Supply Chain dan Infrastruktur (LSCI) PT Pertamina (Persero) saat ini tengah mengembangkan berbagai proyek strategis di Indonesia. Satu di antaranya adalah pengembangan Terminal BBM Maumere di Nusa Tenggara Timur. Langkah tersebut sebagai upaya untuk memudahkan proses pendistribusian BBM dan LPG ke seluruh wilayah di tanah air. Berikut penjelasan Direktur Logistik, Supply Chain dan Infrastruktur (LSCI) Pertamina Gandhi Sriwidodo tentang direktorat yang dipimpinnya dan 29 proyek strategis untuk mempermudah distribusi BBM dan LPG.

 

Sebagai Direktorat baru di Pertamina, apa saja tugas pokok Direktorat LSCI yang Bapak pimpin?

Direktorat LSCI fokus pada aktivitas pemasaran dan distribusi BBM dan LPG dengan beberapa tugas pokok.

Pertama, mengelola aktivitas operasi dan sarana suplai dan distribusi BBM serta LPG domestik. Kedua, mengelola operasi perkapalan dan sarana pelabuhan untuk distribusi BBM dan LPG domestik serta internasional. Ketiga, menjaga reliability aset operasi BBM dan LPG serta mengembangkan Sarfas dan Infrastruktur Distribusi BBM dan LPG.

 

Apakah Direktorat LSCI termasuk membawahi supply chain yang selama ini ditangani oleh fungsi ISC?

Tugas supply chain yang ditangani Direktorat LSCI berbeda dengan yang ditangani fungsi ISC. Fungsi ISC menangani pengadaan crude maupun produk dari sumber impor maupun eks Kilang termasuk pengangkutannya ke Terminal utama. Sedangkan fokus Direktorat LSCI adalah pada supply chain produk BBM dan LPG dari terminal utama hingga ke end terminal bahkan hingga ke konsumen (seperti bunkering, BBM Industri dan lainnya). Selain itu, Direktorat LSCI juga bertanggung jawab dengan perencanaan kapal, sarana kepelabuhan berikut dengan kargonya.

Dengan banyaknya Terminal BBM dan LPG serta kompleksnya pola supply domestik memang memerlukan penanganan khusus agar dapat handal dari sisi operasi tetapi juga efisien dari sisi biaya.

Bagaimana dengan infrastruktur di Direktorat lain seperti Direktorat Hulu atau Pengolahan? Infrastruktur yang menjadi tanggung jawab Direktorat LSCI adalah infrastruktur Pemasaran Group. Seperti kita ketahui bersama, jumlah Terminal BBM saat ini ada 111 unit, Terminal LPG ada 18 unit, dan 68 DPPU.

Belum lagi sarana kepelabuhan dan perkapalan yang juga termasuk bagian dari tugas dan tanggung jawab Direktorat LSCI. Kesemuanya tersebar di seluruh penjuru negeri.

 

Apa target utama Direktorat LSCI dalam jangka pendek dan jangka panjang?

Kami sudah menyusun beberapa target, baik jangka pendek maupun jangka panjang, yang fokus pada tigal hal. Yaitu, penurunan IPT (integrated port time), penghilangan FSO (floating storage and offloading), serta optimalisasi pola supply. Dalam jangka pendek (setahun pertama), kita menargetkan adanya cost saving sebesar US$55 juta/tahun dan dalam jangka panjang adanya cost saving sebesar US$172 juta/tahun dari beragam program yang akan kita jalankan.

 

Untuk mencapai target tersebut, apa saja upaya yang akan dilakukan?

Langkah pertama, kami meluncurkan 29 proyek strategis. Proyek ini bersifat multi years senilai Rp 20 triliun yang bertujuan untuk meningkatkan ketahanan energi nasional dan mendukung program pemerintah. Di antaranya adalah program BBM Satu Harga, Konversi Minyak Tanah ke LPG dan Konektivitas Udara sejalan dengan pengembangan bandara baru.

Rinciannya untuk pembangunan terminal BBM dan pipanisasi sebanyak 10 proyek senilai Rp4,9 triliun mendukung pola suplai yang lebih efisien serta program BBM Satu Harga. Sedangkan untuk pembangunan terminal LPG sebanyak 11 proyek senilai Rp10 triliun untuk mendukung program Konversi Minyak Tanah ke LPG di wilayah Indonesia timur serta efisiensi pola suplai dengan menghilangkan Floating Storage and Offloading (FSO).

Selanjutnya, untuk meningkatkan kehandalan operasi serta konektivitas antar pulau sejalan dengan pengembangan bandara baru, kita tengah mengeksekusi 4 Proyek Strategis perbaikan dan pengembangan sarana tambat kepelabuhan senilai Rp1,6 triliun dan 3 Proyek Strategis pembangunan DPPU senilai Rp3,4 triliun.

Untuk memulainya, minggu lalu (30/07/2018) kami sudah melakukan kick off di Maumere dalam rangka pengembangan Terminal BBM Maumere sebagai point supply utama di Wilayah Nusa Tenggara Timur.

 

Mengapa Pertamina memilih Maumere sebagai point supply utama di wilayah Nusa Tenggara Timur?

Pemilihan Terminal BBM Maumere sebagai point supply utama didasarkan pada pertimbangan lokasi Maumere yang strategis sebagai pusat (center of gravity) wilayah Nusa Tenggara Timur dan didukung dengan kondisi perairan dalam yang memungkikan Pertamina membangun dermaga kapal tanker berukuran besar yang dapat disandari kapal dengan ukuran hingga 50.000 DWT (kategori MR). Proyek ini direncanakan akan selesai pada tahun 2020 mendatang.

 

Bagaimana dengan strategi pembiayannya?

Kita bersinergi dengan anak perusahaan untuk pendanaannya. Sedangkan untuk pelaksanaannya bersinergi dengan BUMN Karya seperti Wijaya Karya (Wika), Hutama Karya, Barata Indonesia, dan Rekayasa Industri (Rekin) serta BUMN lain yang terlibat dalam kegiatan pendukung lainnya seperti Sucofindo, Biro Klasifikasi Indonesia (BKI) dan Surveyor Indonesia, dll.

Kita juga melibatkan perusahaan lokal dalam pembangunannya.

Dengan sinergi ini diharapkan biaya pembangunan tidak membebani arus kas Perseroan dan dapat diselesaikan lebih cepat.

 

Artikel ini telah tayang di Energia Weekly, No. 32 Tahun LIV, 6 Agustus 2018

Komentar

Artikel Lainnya ×
 
 
 
 
 

Nusantara Regas Catat Kinerja Positif Hingga Triwulan II 2018

PT Nusantara Regas terus menunjukkan prestasinya setelah berhasil meraih catatan kinerja positif hingga Triwulan II Tahun 2018. Berikut penuturan Direktur Utama PT Nusantara Regas Moch. Taufik Afianto kepada Energia   Bagaimana pencapaian kinerja…