Sebagai direktorat yang baru
terbentuk pada April 2018 lalu, Direktorat Logistik, Supply Chain dan
Infrastruktur (LSCI) PT Pertamina (Persero) saat ini tengah mengembangkan
berbagai proyek strategis di Indonesia. Satu di antaranya adalah pengembangan
Terminal BBM Maumere di Nusa Tenggara Timur. Langkah tersebut sebagai upaya
untuk memudahkan proses pendistribusian BBM dan LPG ke seluruh wilayah di tanah
air. Berikut penjelasan Direktur Logistik, Supply Chain dan
Infrastruktur (LSCI) Pertamina Gandhi Sriwidodo tentang direktorat yang
dipimpinnya dan 29 proyek strategis untuk mempermudah distribusi BBM dan LPG.
Sebagai Direktorat baru di Pertamina, apa saja tugas pokok Direktorat LSCI yang Bapak pimpin?
Direktorat LSCI fokus pada
aktivitas pemasaran dan distribusi BBM dan LPG dengan beberapa tugas pokok.
Pertama, mengelola aktivitas
operasi dan sarana suplai dan distribusi BBM serta LPG domestik. Kedua,
mengelola operasi perkapalan dan sarana pelabuhan untuk distribusi BBM dan LPG
domestik serta internasional. Ketiga, menjaga reliability aset operasi BBM dan
LPG serta mengembangkan Sarfas dan Infrastruktur Distribusi BBM dan LPG.
Apakah Direktorat LSCI termasuk membawahi supply chain yang selama ini ditangani oleh fungsi ISC?
Tugas supply chain yang ditangani Direktorat LSCI berbeda dengan yang
ditangani fungsi ISC. Fungsi ISC menangani pengadaan crude maupun produk dari sumber impor maupun eks Kilang termasuk
pengangkutannya ke Terminal utama. Sedangkan fokus Direktorat LSCI adalah pada supply chain produk BBM dan LPG dari
terminal utama hingga ke end terminal
bahkan hingga ke konsumen (seperti bunkering, BBM Industri dan lainnya). Selain
itu, Direktorat LSCI juga bertanggung jawab dengan perencanaan kapal, sarana
kepelabuhan berikut dengan kargonya.
Dengan banyaknya Terminal BBM dan
LPG serta kompleksnya pola supply domestik
memang memerlukan penanganan khusus agar dapat handal dari sisi operasi tetapi
juga efisien dari sisi biaya.
Bagaimana dengan infrastruktur di
Direktorat lain seperti Direktorat Hulu atau Pengolahan? Infrastruktur yang
menjadi tanggung jawab Direktorat LSCI adalah infrastruktur Pemasaran Group.
Seperti kita ketahui bersama, jumlah Terminal BBM saat ini ada 111 unit,
Terminal LPG ada 18 unit, dan 68 DPPU.
Belum lagi sarana kepelabuhan dan
perkapalan yang juga termasuk bagian dari tugas dan tanggung jawab Direktorat
LSCI. Kesemuanya tersebar di seluruh penjuru negeri.
Apa target utama Direktorat LSCI dalam jangka pendek dan jangka panjang?
Kami sudah menyusun beberapa
target, baik jangka pendek maupun jangka panjang, yang fokus pada tigal hal.
Yaitu, penurunan IPT (integrated port
time), penghilangan FSO (floating
storage and offloading), serta optimalisasi pola supply. Dalam jangka
pendek (setahun pertama), kita menargetkan adanya cost saving sebesar US$55 juta/tahun dan dalam jangka panjang
adanya cost saving sebesar US$172
juta/tahun dari beragam program yang akan kita jalankan.
Untuk mencapai target tersebut, apa saja upaya yang akan dilakukan?
Langkah pertama, kami meluncurkan
29 proyek strategis. Proyek ini bersifat multi
years senilai Rp 20 triliun yang bertujuan untuk meningkatkan ketahanan
energi nasional dan mendukung program pemerintah. Di antaranya adalah program
BBM Satu Harga, Konversi Minyak Tanah ke LPG dan Konektivitas Udara sejalan
dengan pengembangan bandara baru.
Rinciannya untuk pembangunan
terminal BBM dan pipanisasi sebanyak 10 proyek senilai Rp4,9 triliun mendukung
pola suplai yang lebih efisien serta program BBM Satu Harga. Sedangkan untuk
pembangunan terminal LPG sebanyak 11 proyek senilai Rp10 triliun untuk
mendukung program Konversi Minyak Tanah ke LPG di wilayah Indonesia timur serta
efisiensi pola suplai dengan menghilangkan Floating
Storage and Offloading (FSO).
Selanjutnya, untuk meningkatkan
kehandalan operasi serta konektivitas antar pulau sejalan dengan pengembangan
bandara baru, kita tengah mengeksekusi 4 Proyek Strategis perbaikan dan
pengembangan sarana tambat kepelabuhan senilai Rp1,6 triliun dan 3 Proyek
Strategis pembangunan DPPU senilai Rp3,4 triliun.
Untuk memulainya, minggu lalu
(30/07/2018) kami sudah melakukan kick
off di Maumere dalam rangka pengembangan Terminal BBM Maumere sebagai point supply utama di Wilayah Nusa
Tenggara Timur.
Mengapa Pertamina memilih Maumere sebagai point supply utama di wilayah Nusa Tenggara Timur?
Pemilihan Terminal BBM Maumere
sebagai point supply utama didasarkan
pada pertimbangan lokasi Maumere yang strategis sebagai pusat (center of gravity) wilayah Nusa Tenggara
Timur dan didukung dengan kondisi perairan dalam yang memungkikan Pertamina
membangun dermaga kapal tanker berukuran besar yang dapat disandari kapal
dengan ukuran hingga 50.000 DWT (kategori MR). Proyek ini direncanakan akan
selesai pada tahun 2020 mendatang.
Bagaimana dengan strategi pembiayannya?
Kita bersinergi dengan anak
perusahaan untuk pendanaannya. Sedangkan untuk pelaksanaannya bersinergi dengan
BUMN Karya seperti Wijaya Karya (Wika), Hutama Karya, Barata Indonesia, dan
Rekayasa Industri (Rekin) serta BUMN lain yang terlibat dalam kegiatan pendukung
lainnya seperti Sucofindo, Biro Klasifikasi Indonesia (BKI) dan Surveyor
Indonesia, dll.
Kita juga melibatkan perusahaan
lokal dalam pembangunannya.
Dengan sinergi ini diharapkan
biaya pembangunan tidak membebani arus kas Perseroan dan dapat diselesaikan
lebih cepat.
Artikel ini telah tayang di
Energia Weekly, No. 32 Tahun LIV, 6 Agustus 2018

Komentar