Sekretaris Perusahaan PT Timah Tbk Amin Haris Sugiarto

Kompetisi Positif dan Peningkatan Kualitas

03 September 2018, Editor Anovianti Muharti

dok. PT Timah
facebook
10
twitter
google+
0
linkedin
0

MigasReview, Jakarta - Terbentuknya Holding Pertambangan dari 3 perusahaan BUMN yaitu PT Antam Tbk (ANTM), PT Bukit Asam Tbk (PTBA), dan PT Timah Tbk (TINS), tentunya terdapat manfaat dan tantangan yang akan dihadapi oleh masing-masing perusahaan. Sekretaris Perusahaan PT Timah Tbk Amin Haris Sugiartomengatakan, dengan keberadaan holding juga dapat memperbesar skala bisnis sehingga mampu bersaing dengan perusahaan pertambangan asing. Hal ini juga tergambarkan dari hasil laporan keuangan selama semester I/2018, berikut penjelasannya kepada MigasReview.com

 

Sebagai salah satu dari bagian Holding Pertambangan, apakah ada program tertentu yang direncanakan PT Timah kedepannya?

Selaku bagian dari holding, program jangka pendek PT Timah Tbk adalah membangun sinergitas dan kerjasama dalam berbagai bidang dengan anggota holding lainnya. Salah satu contohnya pada tanggal 27 Juli lalu, dilakukan perjanjian kerjasama oleh anak perusahaan PT Timah Tbk yaitu PT Dok & Perkapalan Air Kantung (PT DAK) dengan anak perusahaan PT Bukit Asam Tbk, yakni PT Pelabuhan Bukit Prima. Kesepakatan antara kedua perusahaan ini dalam hal kerjasama pengadaan, operasional dan perawatan kapal.

 

Apa dampak atau manfaat terhadap PT Timah menjadi bagian dari Holding Pertambangan dan adakah tantangannya?

Bagi PT Timah, keberadaan holding tentu diharapkan membawa manfaat, sebagaimana salah satu tujuan pembentukannya yakni untuk peningkatan nilai tambah dan optimalisasi sumber daya alam dan mineral serta penguatan posisi keuangan BUMN industri pertambangan dalam melakukan investasi. Selain itu, holding juga dapat memperbesar skala bisnis sehingga mampu bersaing dengan perusahaan pertambangan asing.

Tantangan tentu ada, salah satunya adalah munculnya kompetisi positif dalam peningkatan kualitas kinerja dan SDM (sumber daya manusia) antar sesama anggota holding.

 

PT Timah sendiri miliki beberapa anak perusahaan, bergerak bidang apa saja?

PT Timah memiliki delapan anak usaha, yakni

  1. PT Timah Industri (PT TI), bergerak di bidang industri kimia (tin chemical) dan tin solder
  2. PT Rumah Sakit Bakti Timah (PT RSBT), bergerak di bidang fasilitas dan pelayanan kesehatan
  3. PT Dok Perkapalan & Air Kantung (PT DAK), bergerak di bidang industri perawatan dan pembuatan kapal
  4. Indometal London Ltd, anak perusahaan yang menjadi agen penjualan timah Indonesia untuk kawasan Eropa dan Amerika Serikat
  5. PT Timah Karya Persada Properti (PT TKPP), bergerak di bidang properti
  6. PT Timah Agro Manunggal (PT TAM), bergerak di bidang usaha agrobisnis, seperti pertanian, peternakan maupun jasa reklamasi dan penataan lahan pertanian
  7. PT Timah Investasi Mineral (PT TIM), bergerak di bidang trading dan penambangan batubara
  8. Timah International Investment (TinVest), bergerak di bidang investasi dalam skala internasional

 

Apakah anak perusahaan tersebut bagian dari penunjang kinerja PT Timah?

Untuk jangka pendek, keberadaan anak perusahaan adalah untuk menghidupi diri sendiri terlebih dahulu. Untuk jangka panjang tentu dapat memberikan kontribusi positif terhadap kinerja induknya.

 

Berapa produksi (rata-rata) PT Timah?

Produksi bijih timah tahun 2018 ditargetkan sebesar 30.500 ton Sn. Sementara, berdasarkan laporan hingga periode 30 Juni 2018, produksi bijih timah sebesar 15,122 ton, mengalami penurunan sebesar 6% dari jumlah tersebut produksi bijih timah onshore sebesar 5,817 ton atau berkontribusi sebesar 38% dan offshore sebesar 9,306 ton atau berkontribusi sebesar 62%. Sedangkan produksi logam timah sebesar 12,366 Mton, mengalami penurunan sebesar 17% dari periode yang sama pada tahun sebelumnya sebesar 14,905 Mton.

Penjualan logam timah sebesar 12,741 Mton dengan destinasi penjualan terbesar antar lain Jepang sebesar 31%, Korea Selatan sebesar 21%, Belanda sebesar 11%, Taiwan dan Amerika Serikat masing-masing sebesar 6% sedangkan harga jual rata-rata logam timah mengalami peningkatan dari $20,432/t menjadi $21,389/t.

Produksi tin solder sebesar 627 ton mengalami kenaikan sebesar 59% dibandingkan dengan periode sebelumnya sebesar 394 ton dan untuk volume penjualan mengalami peningkatan sebesar 94% dari periode sebelumnya menjadi 676 ton dari 348 ton pada periode sebelumnya. Sementara itu untuk kinerja tin chemical juga mengalami peningkatan baik di produksi dan penjualan, tercatat peningkatan produksi tin chemical sebesar 12% menjadi 2,971 ton dan peningkatan penjualan tin chemical sebesar 10% menjadi 2,580 ton.

 

Bagaimana kondisi pasar timah secara global saat ini?

Berdasarkan data International Tin Association sampai dengan semester I/2018 harga logam timah berfluktuasi antara US$19,000/t – US$21,000/t namun tertundanya ekspor logam timah dari Indonesia pada bulan Maret dan April berdampak terhadap kenaikan harga timah yang mencapai US$22,000/t. 

Namun, pada Juni 2018 harga logam logam timah relatif mengalami penurunan sebesar 5.4% menjadi US$19,675/t dari sebelumnya US$20,800/t yang disebabkan oleh beberapa faktor antara lain, strategi perang dagang yang dilakukan oleh Amerika Serikat berupa pengenaan tarif impor yang relatif lebih besar terhadap produk-produk China yang akan dikirimkan ke Amerika Serikat, kekhawatiran terhadap pertumbuhan ekonomi China yang disebabkan oleh penurunan konsumsi logam timah di dalam negerinya, serta menurunnya permintaan logam timah dari Jepang, sedangkan permintaan logam timah dari negara-negara Asia lainnya serta Amerika masih lebih baik bila dibandingkan dengan kedua negara tersebut.

 

Apakah berpengaruh dengan pencapaian target PT Timah untuk tahun 2018?

Perseroan telah berhasil melalui kendala selama semester I/2018 dengan mencatatkan laba periode berjalan sebesar Rp170 miliar atau meningkat sebesar 13% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Seperti yang diketahui bahwa pada awal tahun 2018 Perseroan menghadapi beberapa kendala yaitu perubahan regulasi dan kondisi cuaca. Dengan kondisi yang sudah kembali normal, pada semester II/2018 Perseroan terus berupaya meningkatkan produksi dan menjaga biaya usaha agar dapat mencapai kinerja sesuai target yang ditetapkan oleh Perseroan.

Pendapatan usaha sebesar Rp4,377 miliar, tidak terdapat perubahan yang signifikan dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang disebabkan oleh kendala yang dihadapi oleh Perseroan selama semester I/2018, namun dapat diimbangi dengan peningkatan kinerja industri hilirisasi yaitu tin chemical yang mengalami peningkatan pendapatan usaha sebesar 43% menjadi Rp275 miliar pada semester I/2018.

Sampai dengan semester I/2018, Perseroan berhasil menurunkan biaya bahan baku bijih timah sebesar 18% menjadi Rp2,060 miliar dari Rp2,527 miliar pada tahun sebelumnya, sehingga beban pokok pendapatan mengalami sedikit peningkatan sebesar 1% dari Rp3,671 miliar menjadi Rp3,702 miliar dan berdampak terhadap peningkatan laba kotor Perusahaan meningkat menjadi Rp674 miliar dengan margin laba kotor sebesar 15%.

EBITDA semester I/2018 sebesar Rp625 miliar mengalami peningkatan sebesar 10% dari tahun sebelumnya sebesar Rp569 miliar antara lain didorong oleh peningkatan harga jual rata-rata dari $20,432/t menjadi $21,389/t, menjaga biaya produksi serta kontribusi peningkatan dari industri hilirisasi logam timah melalui anak usaha Perseroan yaitu PT Timah Industri.

Belanja modal (capital expenditure) sebesar Rp490 miliar yang diantaranya sebesar Rp156 miliar digunakan untuk mesin dan instalasi, aset dalam penyelesaian sebesar Rp204 miliar yang diantaranya untuk pembangunan teknologi fuming dan sisanya untuk peralatan eksplorasi dan produksi serta pendukung aktivitas usaha lainnya sebesar Rp130 miliar.

 

(anovianti muharti)

Komentar

Artikel Lainnya ×
 
 
 
 
 

Upaya Produksi Pertamina EP Bangkit Lagi Tembus 100 Ribu BPOD

Tahun ini, perlahan tapi pasti produksi Pertamina melalui anak perusahaan menunjukkan hasil yang menggembirakan. Salah satunya berasal dari peningkatan kinerja produksi Pertamina EP (PEP) di beberapa area operasinya. Berikut penjelasan dari Presiden…