MigasReview,
Jakarta - Terbentuknya Holding Pertambangan dari 3 perusahaan BUMN yaitu PT
Antam Tbk (ANTM), PT Bukit Asam Tbk (PTBA), dan PT Timah Tbk (TINS), tentunya
terdapat manfaat dan tantangan yang akan dihadapi oleh masing-masing
perusahaan. Sekretaris Perusahaan PT
Timah Tbk Amin Haris Sugiartomengatakan, dengan keberadaan holding juga dapat memperbesar skala
bisnis sehingga mampu bersaing dengan perusahaan pertambangan asing. Hal ini
juga tergambarkan dari hasil laporan keuangan selama semester I/2018, berikut
penjelasannya kepada MigasReview.com
Sebagai salah satu dari bagian Holding Pertambangan, apakah ada program tertentu yang direncanakan PT Timah kedepannya?
Selaku
bagian dari holding, program jangka pendek PT Timah Tbk adalah membangun
sinergitas dan kerjasama dalam berbagai bidang dengan anggota holding lainnya. Salah satu contohnya
pada tanggal 27 Juli lalu, dilakukan perjanjian kerjasama oleh anak perusahaan
PT Timah Tbk yaitu PT Dok & Perkapalan Air Kantung (PT DAK) dengan anak
perusahaan PT Bukit Asam Tbk, yakni PT Pelabuhan Bukit Prima. Kesepakatan
antara kedua perusahaan ini dalam hal kerjasama pengadaan, operasional dan
perawatan kapal.
Apa dampak atau manfaat terhadap PT Timah menjadi bagian dari Holding Pertambangan dan adakah tantangannya?
Bagi
PT Timah, keberadaan holding tentu
diharapkan membawa manfaat, sebagaimana salah satu tujuan pembentukannya yakni
untuk peningkatan nilai tambah dan optimalisasi sumber daya alam dan mineral
serta penguatan posisi keuangan BUMN industri pertambangan dalam melakukan
investasi. Selain itu, holding juga
dapat memperbesar skala bisnis sehingga mampu bersaing dengan perusahaan
pertambangan asing.
Tantangan
tentu ada, salah satunya adalah munculnya kompetisi positif dalam peningkatan
kualitas kinerja dan SDM (sumber daya manusia) antar sesama anggota holding.
PT Timah sendiri miliki beberapa anak perusahaan, bergerak bidang apa saja?
PT
Timah memiliki delapan anak usaha, yakni
- PT Timah Industri
(PT TI),
bergerak di bidang industri kimia (tin
chemical) dan tin solder
- PT Rumah Sakit
Bakti Timah (PT RSBT),
bergerak di bidang fasilitas dan pelayanan kesehatan
- PT Dok Perkapalan
& Air Kantung (PT DAK), bergerak di bidang industri perawatan dan pembuatan
kapal
- Indometal London
Ltd,
anak perusahaan yang menjadi agen penjualan timah Indonesia untuk kawasan Eropa
dan Amerika Serikat
- PT Timah Karya
Persada Properti (PT TKPP), bergerak di bidang properti
- PT Timah Agro
Manunggal (PT TAM),
bergerak di bidang usaha agrobisnis, seperti pertanian, peternakan maupun jasa
reklamasi dan penataan lahan pertanian
- PT Timah Investasi
Mineral (PT TIM),
bergerak di bidang trading dan
penambangan batubara
- Timah
International Investment (TinVest), bergerak di bidang investasi dalam skala
internasional
Apakah anak perusahaan tersebut bagian dari penunjang kinerja PT Timah?
Untuk
jangka pendek, keberadaan anak perusahaan adalah untuk menghidupi diri sendiri
terlebih dahulu. Untuk jangka panjang tentu dapat memberikan kontribusi positif
terhadap kinerja induknya.
Berapa produksi (rata-rata) PT Timah?
Produksi
bijih timah tahun 2018 ditargetkan sebesar 30.500 ton Sn. Sementara,
berdasarkan laporan hingga periode 30 Juni 2018, produksi bijih timah sebesar
15,122 ton, mengalami penurunan sebesar 6% dari jumlah tersebut produksi bijih
timah onshore sebesar 5,817 ton atau
berkontribusi sebesar 38% dan offshore
sebesar 9,306 ton atau berkontribusi sebesar 62%. Sedangkan produksi logam
timah sebesar 12,366 Mton, mengalami penurunan sebesar 17% dari periode yang
sama pada tahun sebelumnya sebesar 14,905 Mton.
Penjualan
logam timah sebesar 12,741 Mton dengan destinasi penjualan terbesar antar lain
Jepang sebesar 31%, Korea Selatan sebesar 21%, Belanda sebesar 11%, Taiwan dan
Amerika Serikat masing-masing sebesar 6% sedangkan harga jual rata-rata logam
timah mengalami peningkatan dari $20,432/t menjadi $21,389/t.
Produksi
tin solder sebesar 627 ton mengalami
kenaikan sebesar 59% dibandingkan dengan periode sebelumnya sebesar 394 ton dan
untuk volume penjualan mengalami peningkatan sebesar 94% dari periode sebelumnya
menjadi 676 ton dari 348 ton pada periode sebelumnya. Sementara itu untuk
kinerja tin chemical juga mengalami
peningkatan baik di produksi dan penjualan, tercatat peningkatan produksi tin chemical sebesar 12% menjadi 2,971
ton dan peningkatan penjualan tin
chemical sebesar 10% menjadi 2,580 ton.
Bagaimana kondisi pasar timah secara global saat ini?
Berdasarkan data International Tin Association sampai dengan semester I/2018 harga logam timah berfluktuasi antara US$19,000/t – US$21,000/t namun tertundanya ekspor logam timah dari Indonesia pada bulan Maret dan April berdampak terhadap kenaikan harga timah yang mencapai US$22,000/t.
Namun, pada Juni 2018 harga
logam logam timah relatif mengalami penurunan sebesar 5.4% menjadi US$19,675/t
dari sebelumnya US$20,800/t yang disebabkan oleh beberapa faktor antara lain, strategi
perang dagang yang dilakukan oleh Amerika Serikat berupa pengenaan tarif impor
yang relatif lebih besar terhadap produk-produk China yang akan dikirimkan ke
Amerika Serikat, kekhawatiran terhadap pertumbuhan ekonomi China yang
disebabkan oleh penurunan konsumsi logam timah di dalam negerinya, serta
menurunnya permintaan logam timah dari Jepang, sedangkan permintaan logam timah
dari negara-negara Asia lainnya serta Amerika masih lebih baik bila
dibandingkan dengan kedua negara tersebut.
Apakah berpengaruh dengan pencapaian target PT Timah untuk tahun 2018?
Perseroan
telah berhasil melalui kendala selama semester I/2018 dengan mencatatkan laba
periode berjalan sebesar Rp170 miliar atau meningkat sebesar 13% dibandingkan
dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Seperti yang diketahui bahwa
pada awal tahun 2018 Perseroan menghadapi beberapa kendala yaitu perubahan
regulasi dan kondisi cuaca. Dengan kondisi yang sudah kembali normal, pada semester
II/2018 Perseroan terus berupaya meningkatkan produksi dan menjaga biaya usaha
agar dapat mencapai kinerja sesuai target yang ditetapkan oleh Perseroan.
Pendapatan
usaha sebesar Rp4,377 miliar, tidak terdapat perubahan yang signifikan
dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang disebabkan
oleh kendala yang dihadapi oleh Perseroan selama semester I/2018, namun dapat
diimbangi dengan peningkatan kinerja industri hilirisasi yaitu tin chemical yang mengalami peningkatan
pendapatan usaha sebesar 43% menjadi Rp275 miliar pada semester I/2018.
Sampai
dengan semester I/2018, Perseroan berhasil menurunkan biaya bahan baku bijih
timah sebesar 18% menjadi Rp2,060 miliar dari Rp2,527 miliar pada tahun
sebelumnya, sehingga beban pokok pendapatan mengalami sedikit peningkatan
sebesar 1% dari Rp3,671 miliar menjadi Rp3,702 miliar dan berdampak terhadap
peningkatan laba kotor Perusahaan meningkat menjadi Rp674 miliar dengan margin
laba kotor sebesar 15%.
EBITDA
semester I/2018 sebesar Rp625 miliar mengalami peningkatan sebesar 10% dari
tahun sebelumnya sebesar Rp569 miliar antara lain didorong oleh peningkatan
harga jual rata-rata dari $20,432/t menjadi $21,389/t, menjaga biaya produksi
serta kontribusi peningkatan dari industri hilirisasi logam timah melalui anak
usaha Perseroan yaitu PT Timah Industri.
Belanja
modal (capital expenditure) sebesar
Rp490 miliar yang diantaranya sebesar Rp156 miliar digunakan untuk mesin dan
instalasi, aset dalam penyelesaian sebesar Rp204 miliar yang diantaranya untuk pembangunan
teknologi fuming dan sisanya untuk
peralatan eksplorasi dan produksi serta pendukung aktivitas usaha lainnya
sebesar Rp130 miliar.
(anovianti muharti)

Komentar