MigasReview, Jakarta - Bersama dengan PT Buana Energi Surya Persada, PT Conergy telah merampungkan pembangunan fasilitas pembangkit listrik tenaga matahari dengan kapasitas 1 MegaWatt (MW) yang menggunakan teknologi photovoltaic (PV) di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur. Proyek ini merupakan proyek berskala besar Conergy pertama di Indonesia.
Akan tetapi, kesuksesan untuk mengimplementasikan proyek PV tenaga surya terdapat tantangan yang harus dihadapi, berikut penuturan President Conergy Asia & ME Pte Ltd Alexander Lenz kepada MigasReview.com
---
Apa saja tantangan yang dihadapi saat membangun pembangkit listrik tenaga surya di Sumba dan bagaimana Conergy mengatasi tantangan tantangan tersebut?
1. Logistik
Pelabuhan Internasional hanya tersedia di Jakarta dan Surabaya (kedua kota terletak di pulau Jawa). Untuk mendistribusikan komponen pembangkit listrik kelokasi proyek, muatan harus dikirim melintasi beberapa pelabuhan dan dermaga lokal. Kapal lokal jarang melintasi lokasi proyek dan kapal ini memiliki keterbatasan kapasitas muatan (hanya sekitar 20 kontainer yang dapat dia komodasi dalam satu waktu). Custom Clearance juga membutuhkan waktu (minimal 10 hari). Tim kami juga terkendala oleh kondisi cuaca yang kurang baik dan mogoknya pelabuhan juga menyebabkan keterlambatan pengiriman yang berdampak pada biaya proyek dan jadwal.
Untuk mengatasi masalah logistik ini, kami memerlukan warehouse layanan di daerah Surabaya.
2. Keterlibatan lokal / mencari kontraktor lokal yang berpengalaman
Untuk pembangunan pembangkit listrik, pekerja lokal harus terlibat. Namun, masalahnya adalah pekerja lokal memiliki keterbatasan pengalaman dan keterampilan dalam pembangkit listrik tenaga surya. Sehingga diperlukan pengawas dan mandor yang didatangkan dari Jakarta/Jawa untuk mempercepat proses konstruksi, yang tentunya berdampak pada biaya proyek dan jadwal.
Sesi training harus dilakukan sebelum proses pembangunan instalasi agar sesuai dengan prosedur. Keterbatasan jumlah pengawas yang berpengalaman di bidang pembangkit listrik tenaga surya juga turut memperlambat proses konstruksi.
Namun, pada akhirnya segala usaha terbayar ketika pekerja lokal akhirnya terlatih dalam menangani pembangkit listrik tenaga surya dan manfaat lebih luas energi surya dapat dimanfaatkan oleh masyarakat setempat.
3. Integrasi Grid
Sebagai bagian dari proses pembangunan, studi dampak grid sangat penting untuk menganalisa pola kerja pembangkit listrik teknologi PV dan dampaknya terhadap grid karena operator lokal belum memiliki pengalaman cukup menangani pembangkit listrik tenaga surya. Sehingga koordinasi yang erat dengan PLN sangat penting saat sedang memasukkan listrik kedalam grid
Untuk mengatasi masalah ini, komunikasi lewat radio antara PLN dan operator pembangkit listrik sangat penting dibentuk sebelum semuanya dihubungkan agar selaras dan membuat interkoneksi sukses.
4. Pemantauan
Pembangkit listrik tenaga surya harus memiliki kemampuan pemantauan. Tapi lokasi yang terpencil mempunyai tantangan dalam masalah konektivitas.
Di lokasi proyek, sinyal telekomunikasi sangat lemah dan tidak memadai untuk proses pemantauan jarak jauh. Jadi sistem komunikasi berbasis satelit harus diinstalasi untuk mengirimkan data pembangkit listrik kepada tim O & M sehingga mereka dapat menganalis kinerja pembangkit listrik.
Apa dasar pemikiran dari perusahaan hingga berkonsentrasi (pemilihan) dalam mengembangkan di industri energi baru terbarukan (pada umumnya), atau pembangkit listrik tenaga matahari?
Conergy berasal dari Jerman dan perkembangannya mengikuti dengan seksama pertumbuhan energi surya di Jerman, yang merupakan perintis di industri tenaga matahari. Pada pertengahan tahun 2000-an Conergy menjadi pemain global dengan kantor di seluruh dunia dan membangun fasilitas manufaktur untuk komponen tenaga surya mulai dari modul, struktur dan Inverter di Jerman. Namun, setelah itu, Conergy telah berkembang dan kini mendominasi bisnis hilir tenaga surya yang menawarkan layanan dalam pengembangan, desain, pembiayaan, pembangunan dan manajemen aset jangka panjang dari sistem komersial, industri dan sistem tenaga surya skala besar.
Dapatkan Anda memberikan gambaran, kisaran investasi untuk membangun pembangkit listrik tenaga surya (skala kecil maupun besar)?
Proses konstruksi pembangkit listrik tenaga surya yang kami bangun di Sumba mulai pada tahun 2016 dan selesai pada bulan Maret, dengan total investasi sebesar US$ 2,2 juta (Rp 28 miliar). Namun, jumlah ini mencakup pembangunan proyek dan biaya EPC (kontraktor) lebih dari setahun yang lalu. Harga modul tenaga surya telah turun sejak saat itu.
Apa yang perlu diperhatikan untuk membangun pembangkit listrik tenaga surya (teknis) skala kecil maupun besar (berikut dengan perawatannya)?
Secara umum ada banyak faktor kunci sukses ketika mengimplementasikan proyek PV tenaga surya sebagaimana yang telah diilustrasikan di atas. Pertimbangan yang paling penting dalam pandangan kami adalah untuk menggunakan komponen berkualitas dan kontraktor berpengalaman. Hanya dengan menggunakan komponen kualitas tinggi dan memiliki pembangkit listrik yang dibangun dengan baik maka investor dapat melihat hasil maksimum dari pembangkit mereka dan yakin bahwa pembangkit listrik mereka dapat tahan terhadap gangguan alam. Pada akhirnya, pembangkit listrik tenaga surya, diharapkan dapat bertahan selama 25 tahun.
Pertimbangan kunci lainnya yang biasanya tidak mudah untuk diatur tetapi mutlak diperlukan adalah untuk membangun hubungan kerja yang baik diantara semua pemegang saham (dari pembangun, tim konstruksi, EPC, PLN, penyedia keuangan).
Hal lain yang harus diperhatikan sehubungan dengan interkoneksi grid, logistik, dan kepemilikan/penyewaan lahan, pembiayaan dan membuat bank terbiasa dan nyaman dengan proyek energi surya.
Memilih kontraktor O & M berpengalaman adalah faktor kunci sukses lainnya untuk mengoptimalkan produksi listrik. Dengan melakukan pemantauan secara proaktif dan dukungan teknis, pemain berpengalaman seperti Conergy akan menemukan masalah pada pembangkit listrik sebelum masalah itu menjadi nyata dengan produksi negatif dan mempengaruhi pendapatan bagi pemiliknya.
Menurut Anda, potensi daerah mana lagi yang dapat menggunakan teknologi photovoltaic atau dapat dikembangkan?
Pembangkit tenaga surya dapat dibangun di hampir disetiap lokasi, karena persyaratan utama untuk memanfaatkan energi matahari adalah akses kepada sinar matahari. Tapi terkait dengan Indonesia, kami merekomendasikan pemilihan tempat yang belum terjangkau oleh tersedianya listrik (karena dengan begitu energi surya dapat memberi nilai tambah), adanya lahan dan akses yang cocok untuk grid.
Bisakah Anda ilustrasikan atau gambaran dengan kapasitas 1 MW dapat menyuplai listrik untuk apa saja? Apakah dapat berlaku kelipatannya?
Dalam kasus Sumba, lebih dari 11.000 rumah tangga dapat menikmati tenaga listrik yang disuplai oleh pembangkit tenaga surya sebesar 1 MWp karena konsumsi listrik di daerah ini masih sangat rendah. Tapi di kota yang lebih maju yang memiliki tingkat konsumsi listrik per kapita yang lebih tinggi, 1 MWp mungkin hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan seperempat dari jumlah rumah tangga di atas.
Dalam setiap kasus, pembangkit tenaga surya baru mencerminkan sebuah model baru dari pembangkit listrik bagi masyarakat. Dengan meningkatnya permintaan energi bersih yang dapat diandalkan di Indonesia, keahlian yang kami miliki dalam membangun pembangkit tenaga surya ini akan memungkinkan kami dan mitra lokal untuk membangun pembangkit tenaga surya yang serupa di berbagai daerah di Indonesia yang membutuhkan daya yang terpercaya dan hemat biaya.
Indonesia memiliki kondisi ideal untuk tenaga surya. Ini mencakup pancaran sinar matahari yang tinggi dan dapat diprediksi, (sebanyak 4.8 kWh/m2 rata-rata per hari), Ketersediaan lahan dan tenaga kerja yang murah, tingginya permintaan listrik dan harapan tingkat pertumbuhan ekonomi tahunan yang tinggi. Dengan membangun instalasi pembangkit listrik tenaga Surya skala besar, energi surya bisa menjadi benar-benar kompetitif dan bertahan di Indonesia, terutama jika dijalankan dengan skala yang sesuai.
Dengan inisiatif komunitas ekonomi ASIAN datang harapan kuatakan pertumbuhan PDB ASEAN dan pembangkit energi akan memainkan peran penting untuk membantu mendorong pertumbuhan ekonomi dan pembangunan di wilayah tersebut. Infrastruktur energi sangat penting untuk mengamankan kemajuan yang berkelanjutan bagi Indonesia dan kawasan yang lebih luas.
Tentang Conergy
PT Conergy adalah salah satu perusahaan terbesar tenaga surya hilir di dunia – dengan spesialisasi dalam pengembangan, desain, pendanaan, pembangunan dan manajemen aset jangka panjang dari sistem tenaga surya untuk komersial, industri, dan pembangkit berskala utilitas. Didirikan pada tahun 1998, perusahaan ini menjadi perintis ekspansi pembangkit tenaga surya di dunia global dan telah membangun lebih dari 1,5 GW pembangkit tenaga surya di enam benua. Di kawasan Asia Pasifik, Conergy telah memenuhi lebih dari 460 MWp kontrak EPC dan telah menyediakan layanan jasa untuk pembangunan dan pemeliharaan untuk lebih dari 400 MWp proyek panel surya.

Komentar