Tahun 2018 merupakan tahun
bersejarah bagi PT Pertamina Internasional EP (PIEP). Di tahun ini, PIEP sukses
melakukan pengeboran perdananya di lapangan Menzel Lejmet North (MLN) Aljazair.
Hal ini menunjukan bahwa Pertamina semakin siap memasuki persaingan industri
migas global. Berikut penjelasan Presiden
Direktur Pertamina Internasional EP (PIEP) Denie S. Tampubolon kepada Energia terkait hal tersebut.
Bisa dijelaskan sejarah lapangan Menzel Lejmet North (MLN) di Aljazair
sebelum dikelola oleh Pertamina?
Sebelum Pertamina Internasional
EP (PIEP) mengoperasikan lapangan MLN bagian dari blok 405A yang berada di
Aljazair, blok itu sebelumnya dioperasikan oleh Conoco Philips. Dimana Conoco
Philips ber-partner dengan Talisman.
Setelah Pertamina mengambil alih
dari Conoco Philips, kami sebagai operator yang kemudian bermitra dengan
Repsol.
Tidak hanya lapangan MLN yang
PIEP operasikan sendiri, di blok 405A Pertamina juga memegang partisipasi
interest lapangan unitisasi lainnya, yakni lapangan unitisasi Ourhoud dan El
Merk. Namun yang fokus kami kerjakan operasikan adalah lapangan MLN.
Sejak kapan PIEP mulai lakukan pengeboran di blok 405A serta mengapa
PIEP memilih lapangan MLN untuk kegiatan operasinya?
Pertamina mengambil alih blok
405A termasuk lapangan MLN dari Conoco Philips itu sekitar pertengahan tahun
2013. Setelah itu, PIEP terus berupaya mengoptimalkan pengembangan lapangan
dengan tujuan untuk menggenjot produksi migas. Hingga pada akhirnya di tahun
2018 ini kami mulai mengembangkan lapangan tersebut yang ditandai dengan
pengeboran sumur pertama kita yang berada di lapangan MLN.
Kami memilih lapangan MLN karena
kami melihat lapangan ini masih memiliki potensi cukup besar. Masih ada
peluang-peluang untuk meningkatkan produksi lebih lanjut, baik itu perluasan
lapangan maupun peluang untuk mengambil lapisan-lapisan di lapangan yang selama
ini belum dimanfaatkan secara optimal.
Teknologi apa yang digunakan dalam pengeboran tersebut?
Untuk lapangan MLN ini karena
memang sudah zamannya, tentunya kami menggunakan teknologi yang paling mutakhir
untuk mengerjakan lapangan MLN ini. Untuk pengeboran kita menggunakan rig-rig
yang fully automatic. Kalau untuk
menggerakan dan mengendalikan sudah pakai peralatan canggih dan sebagainya.
Prinsipnya kami menggunakan peralatan-peralatan dan teknologi yang paling
mutakhir.
Adakah kendala yang dihadapi dalam kegiatan operasional di lapangan
MLN?
Kendalanya tipikal kendala di
operasi. Bahwa kami sebenarnya menginginkan pemboran itu bisa kita mulai lebih
awal sekitar bulan Febtuari 2018.
Namun, karena adanya kendala
operasi dan pengadaan peralatan termasuk rig dan material, ini memang rencana
kami sedikit tertunda. Hal ini harus dipahami.
mengingat bahwa MLN ini berlokasi
di negeri yang cukup jauh. Sehingga koordinasi dan lain sebagainya harus
dilakukan teman-teman di Aljazair. Selain itu, letak lapangan MLN yang berada
di tengah-tengah Gurun Sahara yang berjarak ratusan kilometer dari base operation kami. Namun, pada
akhirnya kami bersyukur karena pada akhirnya bisa mulai operasi pemboran itu di
bulan Juni 2018.
Dari 11 negara wilayah kerja dari PIEP, kontribusi terbesar datang dari
lapangan mana?
Aset-aset PIEP yang tersebar di
kawasan Asia, Afrika, Timur Tengah, dan Afrika memberikan kontribusi produksi
minyak dan gas yang paling besar bagi PIEP secara keseluruhan. Untuk di kawasan
Asia, asset PIEP terdekat saat ini berada di Malaysia. Selain itu, kami juga
memiliki participating interest di
Irak, dengan Exxon sebagai operatornya. PIEP juga dipercaya untuk mengelola
kepemilikan saham di sebuah perusahaan terbuka yang ada di Perancis, yakni
Maurel & Prom.
Misalnya sampai dengan saat ini,
angka produksi minyak dan gas itu sekitar di atas 150 ribu oil equivalent per hari. Jumlah ini termasuk yang kita peroleh
melalui partisipasi yang ada di Maurel & Prom.
Dari kawasan Afrika, memiliki
kontribusi sekitar 79 ribu barrel oil
equivalent per hari, untuk produksi minyak dan gas. Sementara di Irak,
partisipasi PIEP terbilang kecil, hanya 10% atau sekitar 45 ribu barel per
hari. Malaysia juga tidak kalah penting, dari Malaysia kontribusi kita itu
sekitar 33 ribu barrel oil equivalent per hari. Semua penting dan besar bagi
PIEP.
Apakah upaya PIEP untuk meningkatkan jumlah produksi?
Semua aset itu sama, isunya
bagaimana kita harus melawan decline alamiah. Salah satu cara bagi perusahaan
minyak dan gas sebagai upaya untuk mengatasi adanya penurunan alamiah adalah
dengan mengoptimalkan dan menjaga produksi lapangan-lapangan yang masih
produktif. Selain itu, kami juga melakukan pengeboran pengembangan maupun
upaya-upaya lainnya untuk menahan decline
alamiah lapangan yang ada.
Selain untuk menahan decline agar
tidak terlalu tajam, dengan melakukan pengembangan lapangan-lapangan baru juga
bertujuan untuk bisa menambah produksi dan terus melakukan eksplorasi.
Sebagai contoh, untuk lapangan
MLN, supaya tidak terus turun produksinya kita merencanakan pengembangan,
pengeboran sumur baru yang tidak hanya sekedar mengurangi penurunan produksi
tapi akan bisa meningkatkan produksi.
Memang itulah nature-nya sebagai perusahaan minyak operating company, melakukan kegiatan
optimasi produksi, melakukan pengembangan, dan juga melakukan eksplorasi. Beda
halnya dengan yang terjadi di Irak. Untuk di Irak sendiri, justru produksinya
terus meningkat. Jadi kami belum mengalami penurunan produksi disana.
Bagaimana dengan kinerja PIEP di Semester I tahun 2018 ini?
Sampai dengan Juni 2018, secara
umum produksi kami secara operasional sangat baik. Kita bisa mencapai target
produksi minyak dan gas (103% dari target). Harga minyak yang kian membaik di
beberapa bulan terakhir juga ikut memberikan pengaruh positif hingga berdampak
pada pencapaian profit kami. Secara
persentase, dalam setengah tahun ini saja sudah hampir mencapai target yang
kita perkirakan untuk setahun.
Apakah pencapaian tersebut sudah sesuai dengan target RKAP?
Kami masih mengharapkan suasana
kinerja operasi dan lingkungan harga minyak dunia mendukung untuk investasi
kita secara seimbang. Sehingga target RKAP kita bisa tercapai tahun ini. Kalau
investasi RKAP saat ini sudah hampir 60% dari target kita yang untuk setengah
tahun.
Artikel ini telah tayang di
Energia Weekly, No. 39 Tahun LIV, 24 September 2018

Komentar