Laporan Petunjuk Strategis (Strategic Directions Report) menyoroti tren global yang mendorong peluang sektor gas
MigasReview, Jakarta - Harga rendah gas alam yang terus
berlanjut dan terus berkembangnya dinamika pasokan global mendorong para pelaku
usaha industri gas alam untuk berinovasi serta menemukan solusi fleksibel untuk
memenuhi kebutuhan pasar. Petunjuk Strategis
2017 yang baru dirilis: Laporan Industri Gas Alam oleh Black & Veatch
meneliti bagaimana perusahaan merencanakan operasi berkelanjutan jangka panjang
yang dapat mengakomodasi kenaikan pasokan dan mengantarkannya menuju pasar yang
berkeinginan untuk menggunakan gas alam sebagai sumber pembangkit listrik yang
lebih murah dan lebih bersih.
Temuan utama dalam laporan tersebut mencerminkan pertumbuhan peran perdagangan gas alam cair (liquefied natural gas/ LNG) dalam mengalihkan pasokan berlebih dari negara-negara seperti Amerika Serikat ke pusat-pusat permintaan yang terus meningkat di Asia, Amerika Latin, India dan Afrika Sub-Sahara.
Presiden Bisnis Minyak & Gas Black & Veatch Hoe Wai Cheong mengatakan, kegiatan LNG global dipengaruhi oleh sejumlah faktor termasuk hubungan luar negeri, para pemimpin produksi baru dan ketersediaan infrastruktur.
"Beberapa dari isu ini dapat dianggap sebagai tantangan, namun banyak pemimpin industri sekarang terus mencermati peristiwa internasional dan memetakan peluang bisnis di masa depan secara proaktif," ungkapnya, melalui keterangan pers, Rabu (08/11/2017).
Laporan tersebut menekankan seruan dari industri untuk mendanai investasi infrastruktur yang akan menjadi sangat penting dalam mengakomodasi peningkatan impor dan ekspor LNG, termasuk aplikasi floating LNG (FLNG) serta pembangkit berbasis gas alam dengan siklus gabungan (combined-cycle).
Menurut Presiden Black & Veatch untuk Manajemen Konsultasi John Chevrette, efisiensi produksi yang dilakukan dalam beberapa tahun terakhir telah memicu peningkatan yang stabil akan pasokan global.
"Namun, kemampuan
pasar negara berkembang untuk menyerap pasokan ini akan membutuhkan kolaborasi
dengan pengguna akhir dan pakar integrasi untuk gas ke tenaga listrik,
mengingat kurangnya ketersidaan terminal penerimaan, jaringan pipa dan
infrastruktur lainnya," ujarnya.
Temuan penting lainnya meliputi,
- Salah satu perubahan paling dramatis dari survei tahun-tahun
sebelumnya adalah harapan untuk mempertahankan harga minyak mentah dunia tetap
rendah dari sekarang hingga tahun 2020. Hampir setengah dari responden industri
sekarang ini memperkirakan harga akan tetap berkisar pada US$40 dan US$50 per
barel. Dalam laporan 2016, hanya 7 persen yang mencantumkan kisaran harga ini
sebagai ekspektasi mereka. Harga minyak dan gas secara historis telah diindeks
di banyak pasar, menandakan pergeseran pandangan responden survei untuk
industri ini.
- Hasil survei menunjukkan bahwa industri melihat pembangunan
jalur pipa (32 persen) dan investasi di LNG (27 persen) sebagai investasi yang
paling penting bagi pertumbuhan industri.
- Hampir sepertiga responden (27 persen) merencanakan untuk
menyeimbangkan energi baru terbarukan dengan sumber daya gas.
- Kurang dari sepertiga responden (32 persen) menggunakan data
untuk mengelola risiko, dengan fungsi manajemen kunci lainnya seperti
penganggaran, perencanaan strategis dan operasional sehari-hari yang bahkan
kurang bergantung pada data (30 persen).
- Menurut 44 persen operator penyimpanan gas alam, peraturan
akhir yang akan dikeluarkan oleh U.S. Pipeline & Hazardous Materials Safety
Administration (PHMSA) dapat menyebabkan bisnis menjadi lebih rumit dan
meningkatkan biaya bagi pelanggan.
Laporan tersebut juga menganalisis bagaimana penyedia gas alam memusatkan perhatian untuk menemukan efisiensi operasional, melakukan divestasi aset non-inti dan memperkuat fondasi organisasi secara komprehensif agar tetap kompetitif. Organisasi seperti operator penyimpanan juga menerapkan beragam strategi untuk mengatasi kebijakan peraturan yang berubah.
"Mereka yang
tidak berkomitmen untuk mengoptimalkan proses internal sekarang, atau tidak
melihat gambaran global yang lebih besar akan arah pergerakan pasar, berisiko
untuk tidak dapat memanfaatkan peluang besar di jalan," tambah Cheong.

Komentar