MigasReview, Jakarta - Tidak sekadar menyediakan pasokan
energi dan menghasilkan penerimaan negara, pertumbuhan sektor hulu migas yang
berkesinambungan juga menciptakan efek berganda atau multiplier effect bagi
sektor-sektor lainnya. Pertumbuhan mempengaruhi juga sektor pendukung dan
sektor pengguna, serta pemberdayaan perekonomian lokal melalui kegiatan
pengembangan masyarakat (community development) yang dijalankan para Kontraktor
Kontrak Kerja Sama (KKKS) Migas.
Tahun ini, sedikitnya ada 15 orang pelopor kegiatan
pengembangan ekonomi lokal dari program pengembangan masyarakat di berbagai
daerah penghasil migas, mulai Aceh hingga Papua, akan hadir pada acara Pameran dan Konvensi Indonesian Petroleum
Association ke-42 (IPA Convex) di
Jakarta Convention Center, Jakarta, 2-4 Mei 2018.
Direktur Eksekutif
IPA Marjolijn Wajong mengingatkan, kehadiran industri migas di tengah
masyarakat mendukung pada peningkatkan kesejahteraan masyarakat secara
berkelanjutan (sustainable).
“Dengan menghadirkan
para local heroes tersebut kami berharap KKKS semakin termotivasi untuk
melanjutkan kemitraan bersama masyarakat sekitar dalam membangun ekonomi lokal
yang kuat dan berkelanjutan,” paparnya di Jakarta, Jumat (27/04/2018).
Besaran investasi di hulu migas, lanjutnya, sangat berbeda
dengan sektor-sektor yang lain. Nilai satu proyek di industri hulu migas dapat
mencapai miliaran dollar AS. Nilai investasi tersebut tidak hanya berkontribusi
pada ketahanan energi nasional, tetapi juga memunculkan efek berganda kepada
ekonomi lokal dan nasional. Industri pendukung dan turunannya, termasuk hilir,
akan tumbuh berkali-kali lipat jika sektor hulu migas hadir terus meningkatkan
investasinya.
Selain berkontribusi memberdayakan dan menggerakkan
perekonomian lokal, sektor hulu migas juga terus memberi efek berganda yang
positif bagi perekonomian nasional. Selama 2015-2016 kontribusi langsung
industri hulu migas memang turun drastis hanya 3,1% dari Produk Domestik Bruto
(PDB) karena terkena imbas anjloknya harga minya dunia dan kurang kompetitifnya
iklim investasi di Indonesia dibanding negara lain. Walau demikian, efek bergandanya
tetaplah signifikan mengingat 45 sektor pengguna dan 75 sektor pendukung hulu
migas mampu mempengaruhi 83% PDB nasional.
Penyerapan Tenaga Kerja
Tambahan lagi dari peluang penyerapan tenaga kerja nasional.
Satuan Kerja Khusus Kegiatan Usaha Hulu (SKK Migas) membatasi penggunaan jasa
tenaga kerja asing di KKKS Migas. Kebijakan ini terbukti menunjukkan hasil yang
baik sebab 96% atau sekitar 32 ribu orang dari total pekerja di KKKS adalah
Warga Negara Indonesia (WNI). Sektor perbankan juga merasakan dampak positif
dari kewajiban KKKS untuk menyimpan dana rehabilitasi pasca operasi (Abandonment and Site Restoration/ASR) di
perbankan BUMN saat pemerintah menyetujui rencana pengembangan lapangan (POD).
Kemudian sarana pengangkutan hasil produksi, usaha hulu migas lepas pantai
telah menggunakan jasa lebih dari 650 kapal berbendera Indonesia.
Manfaat lain kehadiran industri hulu migas adalah soal alih
teknologi. Seperti diketahui bahwa sektor hulu migas adalah industri
berteknologi tinggi. Keadaan itu tentu berdampak positif bagi tenaga lokal yang
bekerja di sana.
Pendapatan Asli Daerah
Selain membuka lapangan pekerjaan, menghasilkan tambahan
pajak dan pendapatan asli daerah (PAD), sejatinya industri hulu migas mampu
memberi kontribusi signifikan yang lebih jauh bagi gerak ekonomi masyarakat,
tanpa harus selalu terkait atau terlibat langsung dalam kegiatan operasional
perusahaan. Hal itu pun berlaku di industri hulu migas nasional.
Hal itu tercermin dari pengalaman Petani Budidaya Ikan Kerapu Azianto, di Kabupaten Kepulauan
Anambas, Provinsi Kepulauan Riau yang menjadi salah satu contoh motor penggerak
perubahan di kalangan nelayan tangkap menjadi nelayan budidaya di sekitar
wilayah kerja Medco E&P Natuna Ltd tersebut.
“Lautan Anambas kaya
akan beragam hasil tangkapan laut seperti Ikan Kerapu. Sebelum ada pelatihan
budidaya dari Medco E&P Natuna Ltd pada 2007, kami mengandalkan benih ikan
yang ditangkap dari laut dalam,” ujar pria 42 tahun yang akrab disapa Bang Ian
ini.
Azianto memulai program itu bersama 49 orang penduduk
Anambas untuk mempelajari teknik budi daya ikan dalam jaring terapung, hingga
belajar berorganisasi dalam wadah kelompok budi daya ikan Teladan. Meskipun pada awalnya banyak yang pesimis program ini akan
berdampak besar, setelah dijalankan dengan benar, budi daya ikan kerapu
merupakan jawaban akan potensi sumber pendapatan keluarga yang dapat
diandalkan. Kini keramba jaring apung (KJA) milik kelompok itu telah menjadi
Balai Budi Daya Ikan (BBI) Anambas yang dikelola secara profesional oleh
masyarakat dengan pendampingan tenaga ahli dari Balai Budi Daya Laut (BBL)
Batam.
“Sejak 2013 hingga
saat ini BBI Anambas telah berhasil membudidayakan 101.929 ekor ikan kerapu
dengan total transaksi lebih dari Rp 2,6 miliar. Sebaran benih ikan itu
berhasil menjangkau 178 nelayan,” ujar ayah tiga anak berusia 42 tahun ini.
Berbagai jenis benih ikan kerapu disiapkan di BBI, seperti kerapu macan, kerapu cantang, kerapu cantik, kerapu bebek, kerapu batik, juga kerapu kertang. Sejak tahun lalu, Azianto dan tim BBI Anambas fokus mengembangkan balai benih darat yang akan berfungsi sebagai pemijahan telur ikan kerapu. Pengembangan balai benih darat ini dapat menurunkan harga benih dari Rp2.500 per cm menjadi Rp1.500 per cm. Kini tercatat ada sebanyak 271 nelayan dari 19 desa di lima kecamatan dalam Kabupaten Kepulauan Anambas.
“Dengan kerja keras,
fokus, serta semangat pantang menyerah, kami akan terus mengembangkan sayap
produksi BBI Anambas di Kabupaten Kepulauan Anambas,” tandasnya.
Azianto tentu tidak sendiri, karena di hampir seluruh
wilayah kerja migas terselip kisah sukses dari jalinan harmonis antara
masyarakat dengan industri hulu migas. Karena itu, sebagai bentuk penghargaan
terhadap kiprah para tokoh daerah yang telah mampu memberdayakan diri dengan
kemitraan tersebut, sebanyak 15 local
heroes (termasuk Azianto) diundang menghadiri IPA Convex 2018.
“Kehadiran para local
heroes ini juga menunjukan betapa pentingnya usaha semua pihak untuk
meningkatkan daya saing industri hulu migas Indonesia. Sehingga kegiatan
eksplorasi dapat bertambah dan cadangan migas pun meningkat. Peran industri
hulu migas nasional sebagai penopang dan pendorong kegiatan perekonomian di
Indonesia dapat berjalan maksimal,” pungkas Marjolijn Wajong.

Komentar