MigasReview, Bandung - Batubara terbagi menjadi dua kelompok
utama yaitu batubara termal (thermal/steaming
coal) yang biasa digunakan sebagai pembangkit listrik dan batubara
metalurgi (coking coal atau metallurgical coal) yang biasa digunakan
sebagai salah satu bahan utama dalam industri metalurgi.
Di Indonesia sendiri, batubara lebih banyak dimanfaatkan
sebagai sumber pembangkit listrik, yang sering disebut batubara termal.
Pengetahuan tentang batubara metalurgi Indonesia masih sangat terbatas.
"Kajian,
eksplorasi dan pemanfaatan batubara metalurgi di Indonesia belum banyak
dilakukan baik dari segi sumber daya maupun pengusahaannya," ujar Kepala
Bidang Batubara, Pusat Sumber Daya Mineral Batubara dan Panas Bumi (PSDMBP)
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Rita Susilawatiesdm.go.id.
Lebih lanjut Rita menyebut, batubara metalurgi merupakan
batubara kalori tinggi yang memiliki karakteristik tertentu yang menghasilkan
kokas. Kokas diproduksi dengan jalan memanaskan batubara metalurgi dalam oven pada kondisi reduksi tanpa udara
dalam suhu sangat tinggi. Kokas yang dihasilkan dari pemanasan batubara
bersifat porous, keras dan hanya terdiri dari konsentrasi karbon.
Kokas sendiri adalah salah satu material utama yang
dibutuhkan dalam produksi baja. Permintaan batubara metalurgi untuk mendukung
industri pembuatan baja meningkat beberapa tahun terakhir ini. Sebagian besar
didorong oleh Cina dan India yang telah mengubah batubara metalurgi, terutama
kokas menjadi komoditas yang sangat dicari.
Potensi penghasilan negara yang lebih besar bisa didapat
jika batubara termal jenis kalori tinggi dan kalori sangat tinggi Indonesia
berhasil dikarakterisasi potensi metalurginya. Keberadaan batubara metalurgi
domestik dan penggunaannya dalam industri smelter nasional juga dapat
mengurangi ketergantungan pada batubara metalurgi impor, sehingga mengurangi
pengunaan cadangan devisa negara.
Dalam hal keekonomian produk tambang, terdapat perbedaan
harga yang sangat signifikan antara batubara termal dan batubara metalurgi.
Selisih harga bisa mencapai US$ 100/ton.
Tahun 2018, PSDMBP melakukan evaluasi potensi batubara
metalurgi di 4 cekungan, yaitu Cekungan Sumsel, Cekungan Ombilin, Cekungan
Barito dan Cekungan Kutai.
Rita mengungkapkan, dari 257 area, terdapat 69 area yang
memiliki indikasi karakteristik batubara metalurgi.
"Total sumberdaya
tereka batubara metalurgi Indonesia pada 69 area tersebut sebesar 1,56 miliar
ton," ujarnya.
Indonesia merupakan salah satu penghasil batubara termal
terbesar di dunia. Sumber daya batubara di Indonesia juga memiliki potensi
menghasilkan batubara metalurgi yang dapat mendorong investasi di sektor ini.
Untuk itu perlu kerja sama yang baik antara Pemerintah dengan pihak swasta untuk mendorong adanya riset riset akademik untuk dapat melakukan penelitian-penelitian ilmiah terhadap jenis endapan batubara guna pengembangan batubara metalurgi lebih lanjut.

Komentar