MigasReview, Jakarta - Perkembangan teknologi saat ini
memaksa banyak perusahaan untuk semakin mengembangkan bisnisnya. Hal ini
dilakukan agar perusahaan tidak terkena imbas inovasi disruptif (disruptive innovation), yakni inovasi
yang membantu menciptakan pasar baru, mengganggu atau merusak pasar yang sudah
ada, dan pada akhirnya menggantikan teknologi terdahulu tersebut.
Profesor Manajemen Universitas Indonesia Rhenald Kasali
mengungkapkan, bahwa teknologi mempengaruhi gaya hidup masyarakat dan menyebabkan
disrupsi salah satunya dalam hal konsumsi energi. Perkembangan teknologi pun
membuat energi menjadi hal yang semakin dibutuhkan masyarakat.
Di tengah kondisi tersebut, Rektor Sekolah Tinggi Teknik
(STT) PLN Supriadi Legino justru menawarkan skema back to simple technology, terutama untuk pemerataan rasio
elektrifikasi melalui pengembangan energi baru terbarukan.
Komitmen PLN untuk mengembangkan Energi Baru Terbarukan
tertuang dalam RUPTL. Supriadi menilai, PLN perlu menerapkan pola baru untuk
mengejar target tersebut, yakni melalui konsep Listrik Kerakyatan. Konsep ini
terinspirasi dari upaya pemerataan rasio elektrifikasi hingga ke seluruh
pelosok negeri.
Listrik Kerakyatan merupakan inisiatif untuk menghasilkan
pembangkit energi terbarukan skala kecil dan sederhana yang tersedia di sekitar
masyarakat, seperti matahari, angin dan sampah. Menurutnya, sampah adalah
sumber energi terbaik yang dimiliki dan dikelola oleh masyarakat setempat.
“Tantangan membangun
pembangkit besar sangat kompleks dan penarikan jaringan membutuhkan biaya yang
sangat mahal. Sementara itu, investasi untuk membangun pembangkit- pembangkit
kecil yang dapat dikelola rakyat sendiri lebih murah. Dan kita tidak lagi
bergantung pada investor asing,” ungkap Supriadipln.co.id.
Dia menerangkan, setiap tahun di APBN tersedia Rp 70 Triliun
dana desa. Setiap desa punya alokasi dana hampir Rp 1 milyar. Hal ini dapat
digunakan untuk mendanai investasi tenaga listrik oleh rakyat, dari rakyat,
untuk rakyat.
Metode sederhana untuk menerapkan konsep ini adalah melalui
Tempat Olah Sampah Setempat (TOSS) dimana sampah diolah di sumbernya sendiri
oleh masyarakat setempat dengan alat yang sederhana dan dijadikan bahan
komoditas berupa bricket atau pellet bahan bakar. Pellet ini diubah menjadi
sintetik gas dengan gas in fire.
“Jadi alat tambahannya
hanya gas in fire. Peralatannya hampir 100% bisa dibuat di dalam negeri,”
imbuhnya.
Berangkat dari gagasan ini, STT PLN dan PT Indonesia Power
berhasil membuat bahan bakar sampah yang diujicobakan dan diimplementasikan di
Kabupaten Klungkung dan PLTD Pesanggrahan, Bali.
“Diesel adalah mesin
yang paling efektif untuk masuk ke pelosok daerah. Dan bricket pellet ini
berhasil menghemat penggunaan minyak solar untuk diesel sedikitnya 80%. Jadi
energi fosil sudah disubtitusi dengan sampah,” jelas Supriadi.
TOSS juga bisa digunakan untuk campuran coal firing atau campuran batubara. Jadi PLTU tidak sepenuhnya
menggunakan batubara tapi berkontribusi juga menggunakan bio fuel atau sampah. Sebagai perkiraan, 3 ton sampah sehari dapat
menghasilkan energi listrik sebesar 15 kW (kilo Watt).
“Saya sudah hitung,
skema listrik kerakyatan dapat menghemat hampir separuh anggaran investasi
listrik desa yang ada di RUPTL,” kata Supriadi.
Langkah selanjutnya, untuk produksi massa, perlu adanya edukasi kepada masyarakat dan dukungan regulasi pemerintah apakah PLN akan membeli listrik tersebut baik untuk coal firing maupun sambungan ke konsumen.

Komentar