Itulah yang diyakini oleh Salis S. Aprilian, dan dirinya juga meyakini bahwa di dunia ini
tidak ada yang kebetulan. Memilih jurusan perminyakan sebagai studi lanjutan
setelah lulus SMA bukan suatu desakan dari orangtua maupun keluarga. Namun,
karena dia melihat jurusan itu yang aneh, yang tidak ada di universitas lainnya
di Indonesia (waktu itu namanya Proyek Perintis I). Kemudian, dia berpikir
bahwa untuk mencari pekerjaan dibandingkan jurusan satu-satunya di antara
perguruan tinggi negeri di Indonesia, maka besar kemungkinan lulusannya pun
akan dicari banyak orang (perusahaan) dan lebih mudah untuk mencari pekerjaan
dibandingkan jurusan lainnya.
Maka dengan dibarengi sholat istikharah dan belajar pagi,
siang dan malam, Salis lulus masuk ke jurusan Teknik Perminyakan Institut
Teknologi Bandung (TM-ITB), sebagai angkatan 1982. Memasuki dunia industri,
perjalanan karir seorang ayah dari 3 anak inipun dimulai. Begitu banyak
peristiwa di lapangan minyak dan gas bumi, serta mendapatkan pengalaman
berharga yang mengalir begitu saja seakan memang sudah ditakdirkan. Itu
sebabnya, pria yang kelahirannya bersamaan dengan Hari Kartini ini, selalu
meyakini Allah SWT, Tuhan Maha Penentu takdir.
Berikut cerita kisah mantan Ketua Umum Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI) 2010-2012,
yang saat ini menjabat Senior Vice
President Gas & Power Direktorat Gas PT Pertamina (Persero) kepada MigasReview.com.
---
Alhamdulillah,
dengan nilai pas-pasan saya lulus 5 tahun tanpa pernah ada mata kuliah yang
diulang. Saat masuk dunia industri, saya diajak mas Doddy Abdassah dan Abah
Djati (Sudjati Rachmat) ikut dalam proyek studi yang namanya West Java Gas Deliverability Study (WJGDS)
Project. Proyek ini merupakan kajian pertama yang sangat komprehensif dalam
mengevaluasi potensi gas, khususnya Jawa Barat, guna memenuhi kebutuhan gas
pada saat itu di 1987/1988. Proyek ini dikerjakan bersama antara Pertamina dan
Lemigas dengan melibatkan dosen TM-ITB.
Melalui beberapa interaksi, mulai dari pengambilan data,
presentasi serta diskusi, dengan pejabat-pejabat Pertamina dan Lemigas pada
saat itu, kami menjadi sangat mengenal beliau-beliau lebih dekat baik formal
dan infromal. Dalam kurun waktu setahun, kami saat itu masih “bau kencur” dalam pengalaman kerja
menjadi terdongkrak pada saat Pertamina menerima pekerjaan baru, dimana pada
saat itu merupakan penerimaan karyawan pertama Pertamina yang belum pernah
dilakukan sebelumnya, yakni dalam program BPST (Bimbingan Profesi Sarjana
Teknik) pertama.
Tes yang saat itu
dilakukan bertahap saya ikuti sambil tetap bekerja dengan status pegawai
honorer Lemigas. Alhamdulillah, pada
saat wawancara saya sudah kenal beberapa pejabat Pertamina, dan dapat bercerita
banyak tentang WJGDS, barangkali saya juga ditolong bapak-bapak di Lemigas yang
juga saya kenal sangat baik. Sehingga, saya ikut terpanggil masuk sebagai
perserta BPST 1 di Direktorat EP, 1989. Sebuah rejeki yang tidak pernah saya
bayangkan sebelumnya.
Pertamina Bukan Pilihan
Berkarir di Pertamina bukanlah menjadi pilihan pertama
lulusan TM-ITB, karena pada saat itu gaji tidak besar, jika dibandingkan dengan
perusahaan minyak asing dan penempatan kerja yang dipelosok Indonesia. Mulai
dari Ahli Teknik Lapangan di lapangan Tanjung (Kalsel), diselingi melanjutkan
pendidikan S2 di TM-ITB, pindah ke Jakarta sebagai asisten ahli water flooding
di Dinas Produksi, sampai datang kesempatan untuk mengikuti pendidikan S3 di
AS. Lulus dari Texas A&M University jurusan Petroleum Engineering 1998.
Saya pernah ditempatkan di PPRP-EP (proyek persiapan riset
dan pengembangan Direktorat EP), pindah ke dinas teknologi sebagai ahli utama
RDA (reservoir development analysis),
kemudian pada 2000 ke DOH Prabumulih (Sumsel), sebagai ahli secondary recovery/EOR di bawah keteknikan
reservoir sampai diangkat sebagai manajer pengembangan. Di 2003, dipromosikan
sebagai Manajer Eksploitasi (divisi produksi) di kantor pusat Pertamina
Direktorat Hulu. Kemudian di 2005, menjadi Manajer Manajemen Resevoir (divisi
eksploitasi) dengan tanggung jawab mengelola reservoir seluruh own-operation Pertamina Hulu.
Ketika Pertamina EP berdiri, saya diangkat sebagai Vice
President Region KTI (Kalimantan dan Timur Indonesia) membawahi lapangan Bunyu,
Sanggata, dan Papua. tahun berikutnya ditunjuk merangkap jabatan sebagai Deputy
Project Executive di Mobil Cepu, Ltd (MCL). September 2006, resmi pindah MCL,
hampir 3 tahun di MCL, kemudian mengikuti fit
and proper test untuk menggantikan presiden direktur Pertamina EP Cepu
(PEPC) yang memasuki masa pensiun dengan tugas mewujudkan proyek Early
Production. PEPC merupakan anak perusahaan Pertamina yang bermitra dengan MCL
Blok Cepu Mengesankan
Pengalaman menginisiasi produksi awal (early production) di
Blok Cepu adalah pengalaman yang sangat mengesankan, karena benar-benar
profesionalisme kami sebagai ahli perminyakan asli Indonesia mendapat
tantangan. Bayangkan, bahwa Blok Cepu yang sangat digadang-gadang produksinya,
bukan hanya oleh pemerintah dan masyarakat Indonesia, tapi juga oleh perusahaan
Amerika sekelas Exxonmobil, mengalami stagnasi di awal pengembangannya, karena
harus menyelesaikan satu per satu persoalan yang terkait dengan persetujuan (approval), perijinan dan eksekusi proyek
yang tidak mudah.
Mulai dari diskusi masalah POD (Plan of Development) yang melibatkan seluruh bagian di BPMigas yang
dibantu oleh para ahli dan pakar dari perguruan tinggi dan Lemigas, hingga
mendapatkan tekanan (pressure) dari
pemerintah daerah dan pusat yang menginginkan proyek ini segera dimulai.
Hambatan dilapangan juga muncul manakala sudah diketok palu persetujuan POD
yang terbagi 2 skenario, yaitu Full
Production dan Early Production.
Kepala BPMigas saat itu, Kardaya Warnika, mengajukan usulan
persetujuan POD Blok Cepu dengan skenario bahwa sambil menunggu full field
production, diharapkan ada kajian kemungkinan produksi lebih awal. Permintaan
ini wajar karena saat itu ada 6 sumur eksplorasi dan infill yang sangat
berpotensi langsung dikembangkan. Maka, dalam beberapa kali pertemuan tetap
diusulkan Early Production Project. Akan tetapi, sebagian besar expatriates
dari MCL merencanakan Full-Field Development.
Sehingga mulailah kami mengkaji satu persatu opsi yang akan
dilakukan, ketiadaan fasilitas produksi di sana membuat kami harus berpikir
berbagai opsi untuk mengangkut (penyaluran) minyak mentah dari sumur Banyu Urip
ke fasilitas produksi terdekat. Namun, hal yang menyulitkan kami adalah karena
MCL tidak mau bertanggung jawab pada apapun skenario penyalurannya. Mereka
setuju konsep Early Production, jika minyak mentah dijual di kepala sumur (well head).
Selain itu, dari sisi komersial, mereja juga menginginkan
adanya penundaan DMO (domestic market obligation)
Holiday sampai pada saat peak
production nanti di saat full field
production. Maka, kami dari Pertamina bahu membahu mengupayakan bagaimana
cara menggolkan skenario ini dengan tetap menghargai keinginan partner, yang memang bukan partner
biasa.
Setelah mendapat
lampu hijau dari manajemen Pertamina, bahwa skenario ini dapat dijalankan
dengan menugaskan PEPC yang bertanggung jawab dalam proses pengangkutan minyak
mentah dari Banyu Urip ke FSO di Palang (Pantai Tuban), maka selanjutnya adalah
menentukan project milestones yang
akan dieksekusi selanjutnya, dan Alhamdulillah berhasil dengan baik. Sungguh,
ini suatu pengalaman yang sangat berharga, bagaimana memperjuangkan produksi
pertama dari Blok Cepu dengan skenario Early
Production yang sebelumnya dianggap tidak mungkin dapat dilakukan.
Dari prestasi
tersebut, MCL mulai percaya pada kerja keras Pertamina, sehingga pada giliran
PEPC mengusulkan menjadi operator dalam pengembangan gas di Blok Cepu (lapangan
Jambaran) disetujui MCL dan BPMigas dengan konsep win-win. Sebenarnya tidak ada yang sulit selama saya berada di
lapangan, karena akhirnya dapat diselesaikan dengan baik. Mungkin yang hampir
setiap tahun kita semua alami adalah kesulitan memprediksi target produksi
dengan tepat.
Kesulitan Tersendiri
Ini menjadi kesulitan tersendiri, karena perusahaan kita
selalu dituntut untuk tumbuh dan berkembang (growth) sedangkan sifat lapangan migas kan secara alamiah
produksinya akan menurun terus, apalagi untuk lapangan-lapangan tua (mature) seperti di Pertamina dan
sebagian KKKS lainnya. Maka, sebenarnya jika kita sudah bisa mempertahankan
produksi saja (tanpa adanya penemuan lapangan baru) upaya kita sudah sangat
maksimal.
Tak lama kemudian, baru 6 bulan di PEPC, saya mengikuti fit
and proper test dicalonkan sebagai Presiden Direktur Pertamina EP untuk
menggantikan Presiden Direktur Pertamina EP yang memasuki masa pensiun, pada
April 2009 dipercaya menjadi Presiden Direktur Pertamina EP. Kemudian November
2011 hingga Januari 2013 menjabat Presiden Direktur Pertamina Hulu Energi,
selanjutnya pindah ke Pertamina pusat di Direktorat Gas untuk mengembangkan
pemanfaatan gas dan energi terbarukan.
Dengan kesibukan pekerjaan tersebut, saya selalu berusaha
untuk menghabiskan waktu akhir pekan dengan keluarga, walaupun saya masih harus
sering meminta maaf, karena seringkali saya juga harus menghadiri acara golf
yang sudah menjadi media networking
di lingkungan industri migas, atau undangan resepsi pernikahan. Tapi InsyaAllah, kami masih bisa saling berbagi waktu (bukan “menyisakan”
waktu) di antara anggota keluarga.
Saya sangat memimpikan industri migas Indonesia dapat
berdiri tegak sejajar dengan industri migas di dunia, memiliki perusahaan milik
negara yang kokoh yang bukan saja sebagai operator yang berkelas dunia di dalam
negeri, tetapi juga yang disegani di mancanegara. Dengan demikian, keuntungan
yang diperolehnya dapat untuk membangun infrastruktur yang dibutuhkan
masyarakat, yang akan menumbuhkan perekomian Indonesia yang maju dan berdaulat
dan mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur.
(anovianti muharti)

Komentar