Salis S. Aprilian

Perjalanan Hidup Manusia Tidak Lepas dari DUIT (Doa, Usaha, Ikhtiar, Tawakal)

05 March 2013, Editor admin

Senior Vice President Gas & Power Direktorat Gas PT Pertamina (Persero), Salis S. Aprilian. ©salis4phe.wordpress.com
facebook
10
twitter
google+
0
linkedin
0

Itulah yang diyakini oleh Salis S. Aprilian, dan dirinya juga meyakini bahwa di dunia ini tidak ada yang kebetulan. Memilih jurusan perminyakan sebagai studi lanjutan setelah lulus SMA bukan suatu desakan dari orangtua maupun keluarga. Namun, karena dia melihat jurusan itu yang aneh, yang tidak ada di universitas lainnya di Indonesia (waktu itu namanya Proyek Perintis I). Kemudian, dia berpikir bahwa untuk mencari pekerjaan dibandingkan jurusan satu-satunya di antara perguruan tinggi negeri di Indonesia, maka besar kemungkinan lulusannya pun akan dicari banyak orang (perusahaan) dan lebih mudah untuk mencari pekerjaan dibandingkan jurusan lainnya.

Maka dengan dibarengi sholat istikharah dan belajar pagi, siang dan malam, Salis lulus masuk ke jurusan Teknik Perminyakan Institut Teknologi Bandung (TM-ITB), sebagai angkatan 1982. Memasuki dunia industri, perjalanan karir seorang ayah dari 3 anak inipun dimulai. Begitu banyak peristiwa di lapangan minyak dan gas bumi, serta mendapatkan pengalaman berharga yang mengalir begitu saja seakan memang sudah ditakdirkan. Itu sebabnya, pria yang kelahirannya bersamaan dengan Hari Kartini ini, selalu meyakini Allah SWT, Tuhan Maha Penentu takdir.

Berikut cerita kisah mantan Ketua Umum Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI) 2010-2012, yang saat ini menjabat Senior Vice President Gas & Power Direktorat Gas PT Pertamina (Persero) kepada MigasReview.com.

---

Alhamdulillah, dengan nilai pas-pasan saya lulus 5 tahun tanpa pernah ada mata kuliah yang diulang. Saat masuk dunia industri, saya diajak mas Doddy Abdassah dan Abah Djati (Sudjati Rachmat) ikut dalam proyek studi yang namanya West Java Gas Deliverability Study (WJGDS) Project. Proyek ini merupakan kajian pertama yang sangat komprehensif dalam mengevaluasi potensi gas, khususnya Jawa Barat, guna memenuhi kebutuhan gas pada saat itu di 1987/1988. Proyek ini dikerjakan bersama antara Pertamina dan Lemigas dengan melibatkan dosen TM-ITB.

Melalui beberapa interaksi, mulai dari pengambilan data, presentasi serta diskusi, dengan pejabat-pejabat Pertamina dan Lemigas pada saat itu, kami menjadi sangat mengenal beliau-beliau lebih dekat baik formal dan infromal. Dalam kurun waktu setahun, kami saat itu masih “bau kencur” dalam pengalaman kerja menjadi terdongkrak pada saat Pertamina menerima pekerjaan baru, dimana pada saat itu merupakan penerimaan karyawan pertama Pertamina yang belum pernah dilakukan sebelumnya, yakni dalam program BPST (Bimbingan Profesi Sarjana Teknik) pertama.

Tes yang saat itu dilakukan bertahap saya ikuti sambil tetap bekerja dengan status pegawai honorer Lemigas. Alhamdulillah, pada saat wawancara saya sudah kenal beberapa pejabat Pertamina, dan dapat bercerita banyak tentang WJGDS, barangkali saya juga ditolong bapak-bapak di Lemigas yang juga saya kenal sangat baik. Sehingga, saya ikut terpanggil masuk sebagai perserta BPST 1 di Direktorat EP, 1989. Sebuah rejeki yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya.

Pertamina Bukan Pilihan

Berkarir di Pertamina bukanlah menjadi pilihan pertama lulusan TM-ITB, karena pada saat itu gaji tidak besar, jika dibandingkan dengan perusahaan minyak asing dan penempatan kerja yang dipelosok Indonesia. Mulai dari Ahli Teknik Lapangan di lapangan Tanjung (Kalsel), diselingi melanjutkan pendidikan S2 di TM-ITB, pindah ke Jakarta sebagai asisten ahli water flooding di Dinas Produksi, sampai datang kesempatan untuk mengikuti pendidikan S3 di AS. Lulus dari Texas A&M University jurusan Petroleum Engineering 1998.

Saya pernah ditempatkan di PPRP-EP (proyek persiapan riset dan pengembangan Direktorat EP), pindah ke dinas teknologi sebagai ahli utama RDA (reservoir development analysis), kemudian pada 2000 ke DOH Prabumulih (Sumsel), sebagai ahli secondary recovery/EOR di bawah keteknikan reservoir sampai diangkat sebagai manajer pengembangan. Di 2003, dipromosikan sebagai Manajer Eksploitasi (divisi produksi) di kantor pusat Pertamina Direktorat Hulu. Kemudian di 2005, menjadi Manajer Manajemen Resevoir (divisi eksploitasi) dengan tanggung jawab mengelola reservoir seluruh own-operation Pertamina Hulu.

Ketika Pertamina EP berdiri, saya diangkat sebagai Vice President Region KTI (Kalimantan dan Timur Indonesia) membawahi lapangan Bunyu, Sanggata, dan Papua. tahun berikutnya ditunjuk merangkap jabatan sebagai Deputy Project Executive di Mobil Cepu, Ltd (MCL). September 2006, resmi pindah MCL, hampir 3 tahun di MCL, kemudian mengikuti fit and proper test untuk menggantikan presiden direktur Pertamina EP Cepu (PEPC) yang memasuki masa pensiun dengan tugas mewujudkan proyek Early Production. PEPC merupakan anak perusahaan Pertamina yang bermitra dengan MCL

Blok Cepu Mengesankan

Pengalaman menginisiasi produksi awal (early production) di Blok Cepu adalah pengalaman yang sangat mengesankan, karena benar-benar profesionalisme kami sebagai ahli perminyakan asli Indonesia mendapat tantangan. Bayangkan, bahwa Blok Cepu yang sangat digadang-gadang produksinya, bukan hanya oleh pemerintah dan masyarakat Indonesia, tapi juga oleh perusahaan Amerika sekelas Exxonmobil, mengalami stagnasi di awal pengembangannya, karena harus menyelesaikan satu per satu persoalan yang terkait dengan persetujuan (approval), perijinan dan eksekusi proyek yang tidak mudah.

Mulai dari diskusi masalah POD (Plan of Development) yang melibatkan seluruh bagian di BPMigas yang dibantu oleh para ahli dan pakar dari perguruan tinggi dan Lemigas, hingga mendapatkan tekanan (pressure) dari pemerintah daerah dan pusat yang menginginkan proyek ini segera dimulai. Hambatan dilapangan juga muncul manakala sudah diketok palu persetujuan POD yang terbagi 2 skenario, yaitu Full Production dan Early Production.

Kepala BPMigas saat itu, Kardaya Warnika, mengajukan usulan persetujuan POD Blok Cepu dengan skenario bahwa sambil menunggu full field production, diharapkan ada kajian kemungkinan produksi lebih awal. Permintaan ini wajar karena saat itu ada 6 sumur eksplorasi dan infill yang sangat berpotensi langsung dikembangkan. Maka, dalam beberapa kali pertemuan tetap diusulkan Early Production Project. Akan tetapi, sebagian besar expatriates dari MCL merencanakan Full-Field Development.

Sehingga mulailah kami mengkaji satu persatu opsi yang akan dilakukan, ketiadaan fasilitas produksi di sana membuat kami harus berpikir berbagai opsi untuk mengangkut (penyaluran) minyak mentah dari sumur Banyu Urip ke fasilitas produksi terdekat. Namun, hal yang menyulitkan kami adalah karena MCL tidak mau bertanggung jawab pada apapun skenario penyalurannya. Mereka setuju konsep Early Production, jika minyak mentah dijual di kepala sumur (well head).

Selain itu, dari sisi komersial, mereja juga menginginkan adanya penundaan DMO (domestic market obligation) Holiday sampai pada saat peak production nanti di saat full field production. Maka, kami dari Pertamina bahu membahu mengupayakan bagaimana cara menggolkan skenario ini dengan tetap menghargai keinginan partner, yang memang bukan partner biasa.

 Setelah mendapat lampu hijau dari manajemen Pertamina, bahwa skenario ini dapat dijalankan dengan menugaskan PEPC yang bertanggung jawab dalam proses pengangkutan minyak mentah dari Banyu Urip ke FSO di Palang (Pantai Tuban), maka selanjutnya adalah menentukan project milestones yang akan dieksekusi selanjutnya, dan Alhamdulillah berhasil dengan baik. Sungguh, ini suatu pengalaman yang sangat berharga, bagaimana memperjuangkan produksi pertama dari Blok Cepu dengan skenario Early Production yang sebelumnya dianggap tidak mungkin dapat dilakukan.

 Dari prestasi tersebut, MCL mulai percaya pada kerja keras Pertamina, sehingga pada giliran PEPC mengusulkan menjadi operator dalam pengembangan gas di Blok Cepu (lapangan Jambaran) disetujui MCL dan BPMigas dengan konsep win-win. Sebenarnya tidak ada yang sulit selama saya berada di lapangan, karena akhirnya dapat diselesaikan dengan baik. Mungkin yang hampir setiap tahun kita semua alami adalah kesulitan memprediksi target produksi dengan tepat.

Kesulitan Tersendiri

Ini menjadi kesulitan tersendiri, karena perusahaan kita selalu dituntut untuk tumbuh dan berkembang (growth) sedangkan sifat lapangan migas kan secara alamiah produksinya akan menurun terus, apalagi untuk lapangan-lapangan tua (mature) seperti di Pertamina dan sebagian KKKS lainnya. Maka, sebenarnya jika kita sudah bisa mempertahankan produksi saja (tanpa adanya penemuan lapangan baru) upaya kita sudah sangat maksimal.

Tak lama kemudian, baru 6 bulan di PEPC, saya mengikuti fit and proper test dicalonkan sebagai Presiden Direktur Pertamina EP untuk menggantikan Presiden Direktur Pertamina EP yang memasuki masa pensiun, pada April 2009 dipercaya menjadi Presiden Direktur Pertamina EP. Kemudian November 2011 hingga Januari 2013 menjabat Presiden Direktur Pertamina Hulu Energi, selanjutnya pindah ke Pertamina pusat di Direktorat Gas untuk mengembangkan pemanfaatan gas dan energi terbarukan.

Dengan kesibukan pekerjaan tersebut, saya selalu berusaha untuk menghabiskan waktu akhir pekan dengan keluarga, walaupun saya masih harus sering meminta maaf, karena seringkali saya juga harus menghadiri acara golf yang sudah menjadi media networking di lingkungan industri migas, atau undangan resepsi pernikahan. Tapi InsyaAllah, kami masih bisa saling berbagi waktu (bukan “menyisakan” waktu) di antara anggota keluarga.

Saya sangat memimpikan industri migas Indonesia dapat berdiri tegak sejajar dengan industri migas di dunia, memiliki perusahaan milik negara yang kokoh yang bukan saja sebagai operator yang berkelas dunia di dalam negeri, tetapi juga yang disegani di mancanegara. Dengan demikian, keuntungan yang diperolehnya dapat untuk membangun infrastruktur yang dibutuhkan masyarakat, yang akan menumbuhkan perekomian Indonesia yang maju dan berdaulat dan mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur.

 

(anovianti muharti)

Komentar

Artikel Lainnya ×
 
 
 
 
 

Tahan Penurunan Produksi Blok Mahakam

Total Exploration & Production menunjuk Arividya Noviyanto sebagai President & General Manager Total E&P Indonesie (TEPI) dan Group Representative untuk Indonesia yang baru menggantikan Hardy Pramono (2014 – 2016), yang akan memasuki masa…