MigasReview, Jakarta – Perjalanan panjang di jalur birokrasi Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Rida Mulyana telah mencapai puncak karirnya dengan menjadi dirjen termuda di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Di awal karirnya, Rida mengemban tugas di Pusat Penelitian dan Teknologi Minyak dan Gas Bumi (Lemigas) hingga menjadi Kepala Biro Perencanaan dan Kerjasama pada Kementerian ESDM sebelum menjabat sebagai Dirjen EBTKE. Namanya pun muncul kembali pada lelang jabatan eselon satu Kementerian ESDM.
Berikut ini penuturannya kepada MigasReview beberapa waktu lalu.
Puncak karir pegawai negeri adalah eselon satu meskipun saya tidak mengejarnya. Saya menjadi direktur jenderal pun tidak mengetahui alasannya. Tidak pernah saya mempunyai cita-cita atau mimpi menjadi dirjen. Saya diangkat menjadi dirjen pada umur 49 tahun, Dirjen termuda di Kementerian ESDM. Umumnya, dirjen yang lain diangkat di umur sekitar 55 tahun atau mendekati masa pensiun.
Saya kerja hanya untuk diri sendiri saja. Artinya, bekerja untuk mendapatkan kepuasan diri, dapat melakukan pekerjaan yang mempunyai tantangan sendiri, dan bukan untuk mendapatkan pujian dari menteri. Bukan itu tujuan saya. Cita-cita saya hanya memuaskan diri saya, yang ternyata berguna bagi orang lain.
Tidak mungkin selama 10 tahun saya menjadi dirjen EBTKE . Mungkin saja saya dipindah ke Setjen DEN atau ke Ditjen Migas, meski tentu saja jabatan ke depannya saya tidak tahu. Itu juga kalau Menteri ESDM masih memerlukan saya. Jika jadi staf lagi, ya tidak apa-apa.
Saya tidak khawatir kehilangan jabatan dirjen karena saya tidak merasa memiliki jabatan itu. Kenapa orang merasa khawatir? Karena dia merasa mempunyai sesuatu. Ibaratnya, kita terpikirkan apakah rumah kita sudah dikunci atau belum saat meninggalkan rumah. Kenapa terpikir seperti itu? Karena kita takut rumah kita kemasukan maling dan barang-barang kita dicuri. Jika rumahnya kosong, tidak ada apa-apanya, maka kita tidak khawatir. Jadi, kalau kita tidak mau khawatir, berlakulah tidak memiliki apa-apa.
Berlakulah tidak mempunyai apa-apa termasuk rasa memiliki jabatan. Kenapa mesti khawatir kehilangan jabatan yang tidak pernah saya miliki? Jabatan Dirjen sifatnya hanya sementara. Jabatan hanyalah bungkus yang dipinjamkan untuk saya, yang besok atau lusa dapat diberikan kepada orang lain. Jangankan jabatan, nafas saja kita dipinjami.
Yang mahal adalah yang sifatnya inheren. Itu adalah karakter kita sendiri, yang melekat terus-menerus di mana pun dan kapan pun. Itu yang menjadi modal jabatan.
Lelang Jabatan
Adanya lelang jabatan eselon satu saat ini, menurut saya, yang dijual adalah nilainya. Jangan melihat siapa yang akan duduk di sana. Tapi lihatlah proses dan sejarahnya. Kemarin kami (Kementerian ESDM, red) dalam keadaan terpuruk dan mempunyai cap yang tidak menyenangkan. Menteri ESDM dan Sekjen ESDM saja masuk (tahanan) KPK. Orang pun melihat bahwa satu kementerian ini isinya garong semua. Terjadilah demotivasi para pegawai di kementerian ini.
Kemarin itu, jangankan pegawai kementerian ini memberikan tanda tangan, masuk kantor saja tidak mau. Sebabnya karena teman sebelah meja mereka dipanggil untuk diperiksa. Pegawai pun merasa mereka juga akan dipanggil. Apalagi jika mereka merasa melakukannya secara berjamaah. Yang ada rasa was-was. Belum lagi pertanyaan dari keluarga yang meminta untuk pindah pekerjaan. Terus dituduh masyarakat, pers dan segala macam, yang mengecap Kementerian ESDM geblek semua. Kementerian ini terkena hukuman sosial. Hukuman yang berat itu adalah hukuman sosial, sementara income yang diperoleh para pegawai kecil.
Kementerian ini terlalu stategis karena mengelola dana Rp400 triliun setiap tahunnya. Dengan kondisi yang terpuruk saja dapat mengelola Rp400 triliun, bayangkan kalau Kementerian ini sudah dibenahi. Menteri saat ini punya tekad untuk mengubah kementerian ini dengan terlebih dahulu menghancurkan budaya lama. Kami masuk ke proses perubahan, lalu rekonstruksi. Misalnya, seperti yang dilakukan kemarin dengan mencopot sejumlah pejabat. Alasannya memang benar, dan dia harus dicopot jabatannya.
Sekarang sedang diadakan proses berbenah, dan proses itu membutuhkan waktu. Sekarang berbenah pun, besok-besok belum tentu sudah ada hasilnya. Nanti hasilnya belakangan. Minimum setelah beliau (Sudirman Said, red) tidak jadi menteri lagi, Kementerian ini sudah di jalan yang benar. Kementerian ESDM sifatnya penting dan strategis, sehingga sayang kalau tidak dibenahi. (tyo raha)

Komentar