Kristanto Hartadi

Dari Pers ke Migas

24 May 2014, Editor admin

Head of Department for Media Relations di PT. Total E&P; Indonesie, Kristanto Hartadi. ©Fachry Latief/MigasReview.com
facebook
10
twitter
google+
0
linkedin
0
MigasReview, Jakarta – Berkecimpung di sektor migas merupakan hal yang relatif baru bagi Kristanto Hartadi yang didapuk menjadi head of Department for Media Relations di PT. Total E&P Indonesie. Dia baru aktif di situ setelah puluhan tahun menjadi insan pers. Banyak pengalaman baru yang dia temui di situ. Berbeda ketika menjadi wartawan yang terbiasa merdeka dalam mengungkapkan gagasannya, di sebuah perusahaan, banyak kepentingan yang harus dijaga.
Tapi itu adalah harga yang harus dibayar. Konsekuensi dari sebuah pilihan. Kristanto juga masih bisa menuangkan fungsi komunikatornya sebagai pengajar di the President University. Bicara soal isu nasionalisme yang sering digaungkan para pengamat energi, Kristanto sangat menyesalkan pernyataan-pernyataan yang keluar dari orang-orang yang sebenarnya tidak paham dengan kondisi yang terjadi di industri migas.
 Berikut penuturannya kepada MigasReview.com yang menemuinya di sela Konvensi dan Eksibisi the Indonesian Petroleum Association ke-37 di Jakarta Convention Center pekan lalu.

Bisa diceritakan asal-muasal sampai Anda ‘terdampar’ di sektor migas dan bekerja di Total?

Sebelum bekerja di oil and gas, selama 23 tahun saya bekerja di dunia pers. Selama 23 tahun itu, mulai dari reporter sampai dengan pemimpin redaksi sudah saya lewati. Terakhir, dari 2001 sampai 2010 saya memimpin surat kabar Sinar Harapan. Jika ditanya kenapa saya ke sektor industri oil and gas, sebetulnya bukan karena kenapa-kenapa. Saya hanya ingin mencari suasana baru saja.
Sebelumnya, sejak 2008 saya sudah mengajar di President University di Kawasan Industri Jababeka karena di minta oleh Bu Sumita Tobing, mantan direktur TVRI. Mata kuliahnya adalah krisis komunikasi. Saya mengajar mata kuliah itu hampir 4 tahun sampai sekarang. Saya sangat paham dengan krisis komunikasi, apalagi yang berkaitan dengan dunia pers. Kurang lebih seperti itu. Saat itu ada peluang di Total Indonesie. Saya coba. Ya udah, akhirnya saya sekarang berada perusahaan ini.

Dari wartawan yang lebih independen dalam menulis dan berbicara, kemudian menjadi pejabat di perusahaan, tentunya Anda merasakan perbedaan yang sangat nyata, bukan?

 Di Total, pastinya suasana berbeda (dengan di pers). Tetapi yang paling terpenting buat saya adalah selama di situ ada ruang komunikasi dan di dalam komunikasi itu ada komunikator. Ada orang yang menyampaikan pesan dan ada yang menerima pesan. Selama kita bisa memainkan peran sebagai komunikator, itu buat saya oke-oke saja. Sama halnya seperti di media, kita sebagai komunikator menyampaikan pesan kepada khalayak. Kira-kira seperti itu.

Kebebasan Tidak Berkurang?

Peralihan dari wartawan yang cenderung bebas dalam memberikan informasi, lalu kemudian di perusahaan minyak, tidak membuat saya merasa terkekang atau tidak leluasa. Ini karena sebetulnya saya masih memiliki kolom di Sinar Harapan, di mana saya dapat menuangkan kebebasan berpikir saya. Tetapi persoalannya sekarang adalah saya sudah sangat sibuk. Saya hanya fokus pada satu persoalan, minyak dan gas saja. Sehingga, ketika kita hanya (berkutat) pada satu persoalan, maka persoalan lainpun menjadi tidak tajam bagi saya mengingat saya tidak terlalu mengikutinya.
Disuruh menulis tentang politik, saya sudah tidak tajam. Disuruh menulis tentang ekonomi, saya juga sudah tidak tajam karena saya sekadang hanya fokus pada persoalan industri oil and gas ini saja. Sehingga, saya sudah tidak mau menulis lagi. Nanti takut diketawai orang karena sudah tidak tajam. Kalau saya masih ‘galak’ seperti dulu ketika jadi wartawan, saya bisa di marahi sama perusahaan saya (Total, red).
Tentu saja di perusahaan oil and gas tidak sebebas seperti yang dulu. Kalau jadi wartawan dulu kan sebebasnya saja. Tetapi kalau diperusahaan ini, banyak kepentingan yang harus dijaga. Tapi bagi saya, semua itu nggak jadi persoalan. Semua ada hargannya. Lagi pula, saya masih mengajar. Saya masih bisa ngomong di depan kelas. Bagi saya itu cukup.

Jadi Anda sudah merasa nyaman bekerja di industri migas ini?

Saya melihat di industri minyak ini kan kita bicara mengenai energy security, soal bagaimana kita menyediakan energi untuk kebutuhan masyarakat. Meski migas kita diekspor, tetapi kan kita mengimpor dalam bentuk energi juga. Jadi, saya bekerja di sektor yang sangat strategis di negara ini. Dan, menurut saya di dunia ini cuma ada 3 persoalan krusial yakni food, water dan energy. Jadi, ini sangat-sangat strategis. Tidak ada satu saja, bisa ‘selesai’ negara ini.

Kembali ke industri tempat Anda bekerja sekarang ini, bagaimana Anda menangapi isu nasionalisme yang dilontarkan oleh para pengamat industri migas?

Di dalam industri migas, banyak orang yang kurang begitu paham. Yang saya sayangkan adalah kenapa banyak pakar berkomentar mengenai perihal yang mereka tidak terlalu pahami. Nah, ini menjadi tugas saya untuk memberikan penjelasan, melakukan edukasi dan pemahaman mengenai industri migas. Sampai-sampai kami di Total memberikan pelatihan, mendekati para mahasiswa, mengajak para editor. Semua itu dalam rangka misi saya untuk memberikan pemahaman mengenai apa itu industri hulu migas. Kami juga aktif membagikan buku waktu acara di SKK Migas, yaitu buku A to Z Bisnis Hulu Migas karya A. Rinto Pudyantoro. Kami bagikan itu ke wartawan dan lainnya.
Tujuan saya hanya satu. Saya hanya ingin ketika kita berdialog, berdiskusi, kita berada dalam kerangka berpikir yang sama, dalam aturan main yang sama. Bahwa dalam aturan dan kerangka berfikir yang sama ada yang berbeda bendapat, itu tidak jadi soal. Yang terpenting kita sudah pada level pemikiran/pamahaman yang sama. (jamal saripudin)

Komentar

Artikel Lainnya ×
 
 
 
 
 

Tahan Penurunan Produksi Blok Mahakam

Total Exploration & Production menunjuk Arividya Noviyanto sebagai President & General Manager Total E&P Indonesie (TEPI) dan Group Representative untuk Indonesia yang baru menggantikan Hardy Pramono (2014 – 2016), yang akan memasuki masa…