MigasReview, Jakarta - Sektor panas bumi menempuh jalan yang cukup panjang sebelum akhirnya masuk dalam Direktoral Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Dulu, panas bumi ini ditangani oleh berbagai macam institusi. Mulai dari Pertamina, Direktorat Jenderal Pertambangan Umum, hingga di bawah Kasubdit di Direktorat Jenderal Migas. Jadi, dulu Ditjen Migas mengurus minyak, gas dan panas bumi.
Jadi, ketika saya ditempatkan di panas bumi, sebetulnya ini bukan hal yang baru bagi saya mengingat saya 2,5 tahun di Ditjen Migas. Selain itu, secara operasional panas bumi tidak jauh beda dengan migas.
Bedanya, di migas itu bekerjanya banyak di kawasan pantai, sedangkan panas bumi di gunung. Tapi secara operasional, khususnya, pengeborannya sama.
Namun, tentunya spesifikasinya, cara penanganannya, dan pengelolahannya berbeda. Kalau minyak, sifatnya bisa ditransportasikan, bisa disimpan, dan bisa di ekspor. Tapi kalau panas bumi tidak bisa ditransportasikan, tidak bisa disimpan, dan tidak bisa diekspor. Jadi merupakan energi setempat.
Begitulah, saya ditempatkan di bawah Ditjen EBT, sebuah unit kerja baru yang dibentuk pada 2010. Di bawah Ditjen EBT ini, ada Direktorat Panas Bumi. Mungkin karena saya dipandang punya pengalaman, saya dipercaya oleh pimpinan untuk mengemban amanat sebagai direktur panas bumi ini.
Selama 2,5 tahun di Ditjen Migas, sudah banyak kegiatan yang saya tangani, mulai dari eksplorasi dan produksi migas, pemanfaatan migas, sampai persetujuan pengembangan lapangan baru. Sebelumnya, saya 14 tahun berkiprah di Sekretariat OPEC di Jakarta, mulai 1990 sampai 2004.
Di Direktorat Panas Bumi, saya harus mengembangkan ilmu pengetahuan tentang panas bumi dan untuk mempercepat pengembangan sektor ini.
Yang jelas, bagi saya di Kementerian ESDM ini, di sektor komoditas migas atau panas bumi, semuanya diberi target-target pencapaian. Target kinerja itu setiap tahun dievaluasi. Hal-hal yang membuat saya puas adalah apabila target yang dibebankan bisa saya selesaikan. Itu yang membuat saya termotivasi untuk bekerja.
Seperti halnya di Ditjen Migas, di Ditjen Panas Bumi ini, kami juga dibebani target. Kami harus punya roadmap. Jadi memang sekarang kami termotivasi agar target itu bisa tercapai karena kita tahu bahwa dalam mencapai target-target dalam roadmap itu, ada kendala-kendalanya, mulai dari regulasi, koordinasi, kendala perizinan, sampai kendala SDM. Di sinilah kita harus mampu memanfaatkan semua network yang ada. Misalnya, kita harus bisa memanfaatkan lintas kementerian hingga Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).
Belum Tersosialisasi dengan Baik
Salah satu kendala dalam pemanfaatan panas bumi adalah belum tersosialisaikannya hal ini dengan baik di masyarakat. Akibatnya, masih saja ada yang menentang.
Saya ingin agar masyarakat mendukung, jangan hanya menolak sehingga membuat proyek panas bumi tertunda.
Oleh sebab itu, saya datangi mereka. Maunya apa sih? Kami jelaskan. Di TV-TV saya jelaskan, di media cetak saya paparkan, di forum-forum wartawan sudah saya sosialisasikan. Di komunitas energi, saya paparkan untuk mencapai koordinasi dan kolaborasi demi mencapai pemecahan masalah.
Saya sangat senang mensosialisasikan panas bumi. Saya ingin agar orang tidak berpikir panas bumi itu jelek, merusak lingkungan, dan tidak diterima masyarakat. Tolong kalimat-kalimat itu dihindari kalau kita masih sayang bukan hanya pada negeri ini, tapi juga pada kehidupan di dunia.
Panas bumi itu tidak merusak lingkungan dan hutan. Itu yang saya sedihkan. Tolong bantu saya. Nggak ada itu merusak lingkungan.
Tapi seringkali orang kalau tidak percaya dengan omongan saja. Makanya, saya ajak mereka ke proyek yang sudah jalan. Proyek yang sudah jalan itu bisa dikunjungi dan bisa menjadi objek wisata. Bayangin, bisa menjadi tempat yang sangat ramah untuk rekreasi.
Betul, kalau masih ada yang menentang, saya minta perwakilannya untuk saya ajak ke tempat-tempat yang sudah jalan proyek panas buminya. Benar nggak merusak lingkungan? Benar nggak tidak ada untungnya buat masyarakat? Perhatikan, ekonomi masyarakat setempat tumbuh dan berkembang. Sumber energi melimpah. Sumber pendapatan juga melimpah menjadi tempat wisata sehingga banyak objek yang bisa dibisniskan. Perhotelan maju, tenaga kerja bertambah karena kepada pengembang selalu saya tekankan untuk memmanfaatkan tenaga setempat untuk pekerjaan yang non-skilled.
Karena itu, saya menjadi sangat optimis tidak ada lagi yang mogok dan membuat statement-statement yang nggak nyaman. Kasihan panas bumi ini.
Masyarakat kita memang rentan terhadap masukan-masukan yang tidak mendukung. Contohnya seperti Gunung Ciremai itu. Ada oknum-oknum tidak bertanggung jawab yang menyampaikan bahwa panas bumi itu merusak lingkungan. Mereka juga bilang Gunung Ciremai itu dijual.
Dikatakan lagi bahwa panas bumi mengganggu aktivitas masyarakat dan merusak lingkungan.
Kami bekerjasama dengan media, pemerintah daerah, kontraktor, dan LSM. Akhirnya mereka paham.
Kalau kita melakukan penolakan pada EBT, khususnya panas bumi, ke depan mau pakai apa energi kita? Energi panas bumi sangat bersih. Ini sudah terbukti.
Pada 2019, kita diramalkan akan mengalami krisis energi. Kebutuhan listrik akan makin meningkat. Kita akan berebut menggunakan listrik panas bumi karena minyak sudah mahal. Energi panas bumi ini nggak ada habisnya sepanjang magmanya masih ada. Jadi, ya sampai dunia ini berakhir, sampai kiamat.
Keberadaan gunung api yang sangat banyak di negara kita jangan dilihat sebagai bencana, tapi sebagai rahmat, sebagai sumber energi. Kita dikasih ilmu untuk memanfaatkannya. Produksi panas bumi merupakan siklus tertutup. Oleh sebab itu, tidak ada unsur yang hilang karena kita hanya mengambil uap panasnya.
Uap panas di permukaan, setelah kita gunakan untuk memutar turbin, akan berubah menjadi air dan turun untuk kemudian dipanasi lagi oleh magma. Dia menjadi uap, naik ke dan memutar turbin. Begitu seterusnya. Mungkin ada juga yang agak sedikit hilang dalam siklus di kompleks pengembangan panas bumi itu. Oleh sebab itu, kita tumbuhkan pohon sebanyak mungkin, sehijau mungkin supaya hujan banyak turun di pegunungan.
Air hujan itu akan diserap oleh pepohonan sehingga air yang kita butuhkan dipanasi lagi oleh magma, dan ini tidak akan berkurang. Ini yang harus kita pertahankan dan kita jaga. Bukan hanya promosi omong kosong. Itu semua karunia Allah.
Cadangan panas bumi kita adalah terbesar di dunia, sekitar 29 gigawatt, sementara yang baru difungsikan baru 1.341 megawatt. Inilah yang akan selalu kita kembangkan. Negara kita dilalui oleh cincin api adalah karunia Tuhan. Ini jangan dilihat sebagai musibah. Gunung api ini rahmat. (albi wahyudi)
MigasReview, Jakarta – Sektor panas bumi menempuh jalan yang cukup panjang sebelum akhirnya masuk dalam Direktoral Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Dulu, panas bumi ini ditangani oleh berbagai macam institusi. Mulai dari Pertamina, Direktorat Jenderal Pertambangan Umum, hingga di bawah Kasubdit di Direktorat Jenderal Migas. Jadi, dulu Ditjen Migas mengurus minyak, gas dan panas bumi.
Jadi, ketika saya ditempatkan di panas bumi, sebetulnya ini bukan hal yang baru bagi saya mengingat saya 2,5 tahun di Ditjen Migas. Selain itu, secara operasional panas bumi tidak jauh beda dengan migas.
Bedanya, di migas itu bekerjanya banyak di kawasan pantai, sedangkan panas bumi di gunung. Tapi secara operasional, khususnya, pengeborannya sama.
Namun, tentunya spesifikasinya, cara penanganannya, dan pengelolahannya berbeda. Kalau minyak, sifatnya bisa ditransportasikan, bisa disimpan, dan bisa di ekspor. Tapi kalau panas bumi tidak bisa ditransportasikan, tidak bisa disimpan, dan tidak bisa diekspor. Jadi merupakan energi setempat.
Begitulah, saya ditempatkan di bawah Ditjen EBT, sebuah unit kerja baru yang dibentuk pada 2010. Di bawah Ditjen EBT ini, ada Direktorat Panas Bumi. Mungkin karena saya dipandang punya pengalaman, saya dipercaya oleh pimpinan untuk mengemban amanat sebagai direktur panas bumi ini.
Selama 2,5 tahun di Ditjen Migas, sudah banyak kegiatan yang saya tangani, mulai dari eksplorasi dan produksi migas, pemanfaatan migas, sampai persetujuan pengembangan lapangan baru. Sebelumnya, saya 14 tahun berkiprah di Sekretariat OPEC di Jakarta, mulai 1990 sampai 2004.
Di Direktorat Panas Bumi, saya harus mengembangkan ilmu pengetahuan tentang panas bumi dan untuk mempercepat pengembangan sektor ini.
Yang jelas, bagi saya di Kementerian ESDM ini, di sektor komoditas migas atau panas bumi, semuanya diberi target-target pencapaian. Target kinerja itu setiap tahun dievaluasi. Hal-hal yang membuat saya puas adalah apabila target yang dibebankan bisa saya selesaikan. Itu yang membuat saya termotivasi untuk bekerja.
Seperti halnya di Ditjen Migas, di Ditjen Panas Bumi ini, kami juga dibebani target. Kami harus punya roadmap. Jadi memang sekarang kami termotivasi agar target itu bisa tercapai karena kita tahu bahwa dalam mencapai target-target dalam roadmap itu, ada kendala-kendalanya, mulai dari regulasi, koordinasi, kendala perizinan, sampai kendala SDM. Di sinilah kita harus mampu memanfaatkan semua network yang ada. Misalnya, kita harus bisa memanfaatkan lintas kementerian hingga Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).
Belum Tersosialisasi dengan Baik
Salah satu kendala dalam pemanfaatan panas bumi adalah belum tersosialisaikannya hal ini dengan baik di masyarakat. Akibatnya, masih saja ada yang menentang.
Saya ingin agar masyarakat mendukung, jangan hanya menolak sehingga membuat proyek panas bumi tertunda.
Oleh sebab itu, saya datangi mereka. Maunya apa sih? Kami jelaskan. Di TV-TV saya jelaskan, di media cetak saya paparkan, di forum-forum wartawan sudah saya sosialisasikan. Di komunitas energi, saya paparkan untuk mencapai koordinasi dan kolaborasi demi mencapai pemecahan masalah.
Saya sangat senang menyosialisasikan panas bumi. Saya ingin agar orang tidak berpikir panas bumi itu jelek, merusak lingkungan, dan tidak diterima masyarakat. Tolong kalimat-kalimat itu dihindari kalau kita masih sayang bukan hanya pada negeri ini, tapi juga pada kehidupan di dunia.
Panas bumi itu tidak merusak lingkungan dan hutan. Itu yang saya sedihkan. Tolong bantu saya. Nggak ada itu merusak lingkungan.
Tapi seringkali orang kalau tidak percaya dengan omongan saja. Makanya, saya ajak mereka ke proyek yang sudah jalan. Proyek yang sudah jalan itu bisa dikunjungi dan bisa menjadi objek wisata. Bayangin, bisa menjadi tempat yang sangat ramah untuk rekreasi.
Betul, kalau masih ada yang menentang, saya minta perwakilannya untuk saya ajak ke tempat-tempat yang sudah jalan proyek panas buminya. Benar nggak merusak lingkungan? Benar nggak tidak ada untungnya buat masyarakat? Perhatikan, ekonomi masyarakat setempat tumbuh dan berkembang. Sumber energi melimpah. Sumber pendapatan juga melimpah menjadi tempat wisata sehingga banyak objek yang bisa dibisniskan. Perhotelan maju, tenaga kerja bertambah karena kepada pengembang selalu saya tekankan untuk memmanfaatkan tenaga setempat untuk pekerjaan yang non-skilled.
Karena itu, saya menjadi sangat optimis tidak ada lagi yang mogok dan membuat statement-statement yang nggak nyaman. Kasihan panas bumi ini.
Masyarakat kita memang rentan terhadap masukan-masukan yang tidak mendukung. Contohnya seperti Gunung Ciremai itu. Ada oknum-oknum tidak bertanggung jawab yang menyampaikan bahwa panas bumi itu merusak lingkungan. Mereka juga bilang Gunung Ciremai itu dijual.
Dikatakan lagi bahwa panas bumi mengganggu aktivitas masyarakat dan merusak lingkungan.
Kami bekerjasama dengan media, pemerintah daerah, kontraktor, dan LSM. Akhirnya mereka paham.
Kalau kita melakukan penolakan pada EBT, khususnya panas bumi, ke depan mau pakai apa energi kita? Energi panas bumi sangat bersih. Ini sudah terbukti.
Pada 2019, kita diramalkan akan mengalami krisis energi. Kebutuhan listrik akan makin meningkat. Kita akan berebut menggunakan listrik panas bumi karena minyak sudah mahal.
Energi panas bumi ini nggak ada habisnya sepanjang magmanya masih ada. Jadi, ya sampai dunia ini berakhir, sampai kiamat.
Keberadaan gunung api yang sangat banyak di negara kita jangan dilihat sebagai bencana, tapi sebagai rahmat, sebagai sumber energi. Kita dikasih ilmu untuk memanfaatkannya. Produksi panas bumi merupakan siklus tertutup. Oleh sebab itu, tidak ada unsur yang hilang karena kita hanya mengambil uap panasnya.
Uap panas di permukaan, setelah kita gunakan untuk memutar turbin, akan berubah menjadi air dan turun untuk kemudian dipanasi lagi oleh magma. Dia menjadi uap, naik ke dan memutar turbin. Begitu seterusnya. Mungkin ada juga yang agak sedikit hilang dalam siklus di kompleks pengembangan panas bumi itu. Oleh sebab itu, kita tumbuhkan pohon sebanyak mungkin, sehijau mungkin supaya hujan banyak turun di pegunungan.
Air hujan itu akan diserap oleh pepohonan sehingga air yang kita butuhkan dipanasi lagi oleh magma, dan ini tidak akan berkurang. Ini yang harus kita pertahankan dan kita jaga. Bukan hanya promosi omong kosong. Itu semua karunia Allah.
Cadangan panas bumi kita adalah terbesar di dunia, sekitar 29 gigawatt, sementara yang baru difungsikan baru 1.341 megawatt. Inilah yang akan selalu kita kembangkan. Negara kita dilalui oleh cincin api adalah karunia Tuhan. Ini jangan dilihat sebagai musibah. Gunung api ini rahmat. (albi wahyudi)
- See more at: http://migasreview.com/dampak-positif-panas-bumi-sangat-besar.html#sthash.Ym888fQt.dpuf
Komentar