Vice President for Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Wianda Pusponegoro

Saya Tidak Perlu Menutup-Nutupi Kondisi di Perusahaan

18 June 2015, Editor

Vice President for Corporate Communication Pertamina Wianda Pusponegoro. ©Fachry Latief/MigasReview.com
facebook
10
twitter
google+
0
linkedin
0

MigasReview, Jakarta – Pekerjaan seorang wartawan dan juru bicara sebuah institusi bisa dibilang sebagai suatu hal yang berlawanan. Wartawan memberitakan hal-hal, baik itu baik maupun buruk. Sementara, jubir perusahaan tentu ingin agar pemberitaan media terkait tempatnya bekerja selalu bernada positif. Tak jarang, hal itu akhirnya membuat para jubir menutup-nutupi kondisi yang sebenarnya demi mendapatkan publikasi yang baik.

Namun bagi Vice President for Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Wianda Pusponegoro, yang dulu bekerja sebagai wartawan, dirinya merasa tidak mempunyai beban untuk harus menutup-nutupi apa yang terjadi di perusahaannya. Bagi penyuka film The Godffather dan buku-buku John Grisham ini, bekerja adalah memberikan hasil yang maksimal bagi perusahaan dan masyarakat. Dengan semangat itu, dia merasa tidak perlu lagi bekerja dalam keadaan tertekan dan harus menutup-nutupi kondisi yang sebenarnya.

Berikut penuturan Wianda kepada MigasReview beberapa waktu lalu saat menceritakan perjalanan kariernya sejak dari magang sebagai wartawan hingga menduduki posisi vice president di usia yang relatif masih muda.

----------

Saya mengawali karier sebagai wartawan di Metro TV pada 2000, sebelum stasiun ini on air. Namun waktu kuliah di Hubungan Internasional Universitas Indonesia, saya sempat mengisi liburan dengan magang di RCTI. Menurut saya, jurnalis itu adalah pekerjaan yang mengasyikkan karena lebih banyak di lapangan dan bertemu dengan bermacam-macam orang. Kita juga harus cepat dalam mengolah informasi.

Saat magang itu, saya tidak dapat uang makan. Jadi ya belajar saja. Karena tidak mendapat uang makan, kadang-kadang saya nebeng teman makan.  Proses pembelajarannya itu yang menurut saya luar biasa. Sampai tidak dibayar sekalipun tetap saya kerjakan.

Tapi semua itu ada hikmahnya. Setelah masuk kuliah lagi untuk bikin skripsi, saya ditawari untuk bergabung dengan Metro TV. Bos-bos yang dulu di RCTI pindah ke Metro yang merupakan stasiun TV baru. Meski belum punya ijazah, saya tetap diminta ikut bergabung. Lumayan.

Metro TV baru mulai siaran pada September 2000 sementara saya masuk kerja sejak Maret. Kesempatan itu digunakan untuk mengajari para wartawannya untuk membuat berita. Setelah beberapa lama menjadi reporter, bersama beberapa teman lain kami diseleksi menjadi news anchor, sampai akhirnya punya acara sendiri.

Selama bekerja di Metro TV, saya mengambil S 2 jurusan marketing di UI juga. Menjelang selesai, ada peluang untuk menjadi manajer media di Pertamina. Saya mendaftar bersama dengan 7-8 orang kandidat yang sama-sama berasal dari media untuk saling bersaing memperebutkan posisi tersebut. Saya diterima dan mulai Oktober 2008 saya bekerja di Pertamina.

Tidak Terbebani

Memang ada perbedaan nyata antara bekerja sebagai wartawan dan juru bicara perusahaan. Meski demikian, semua itu tergantung  pada motif di mana kita bekerja. Di Pertamina, direksi saat ini punya visi yang sama untuk bisa memperlakukan bisnis ini secara serius. Kalau ada produk baru, bagaimana kami bisa mengeluarkannya dengan kualitas terbaik bagi masyarakat. Kami bekerja untuk memberikan hasil yang maksimal bagi masyarakat. Dengan semangat itu, kami tidak perlu lagi dalam keadaan tertekan bahwa kondisi harus ditutup-tutupi. Bahwa risiko dalam berbisnis di dunia migas itu pasti ada, mulai dari tabung Elpiji yang meledak hingga kebocoran minyak. Yang penting, kita tahu bahwa itu bukan kesengajaan.

Untuk hal-hal yang berbau kurang akuntabel, kami pagari dengan rambu-rambu. Tinggal bagaimana kita memilih supaya sesuai. Saya rasa, dengan direksi yang relatif belum terlalu lama, mereka punya tanggung jawab dan kebutuhan untuk bisa membuktikan bahwa keberadaan mereka di sini bisa memberikan yang lebih baik lagi bagi perusahaan. Dan itu dengan sendirinya menurun ke karyawan Pertamina untuk berkinerja dengan lebih baik.

Jadi terus terang, saya tidak punya beban untuk menutup-nutupi, menyembunyikan, atau berpura pura. Semua saya jalani apa adanya, tergantung niat kita. Pertamina menjalankan usaha sesuai peraturan yang ada. Pertamina tidak bisa sewenang-wenang untuk menyembunyikan dan menutup-nutupi informasi. Selama itu masih bisa kami sampaikan secara bertahap dan tidak menyangkut formula yang bersifat persaingan, kami masih bisa berbicara.

Menduduki posisi sebagai salah satu VP di usia seperti saat ini tidak membuat saya terbebani. Yang perlu saya buktikan adalah kinerja. Saya duduk di sisi bukan berarti tidak harus bersaing dengan orang lain. Saya harus bersaing. Tentunya itu bisa dilihat saat fit and proper test dan assessment. Kandidatnya bukan saya saja. Silakan beri penilaian yang objektif. Silakan saja antar kandidat diperbandingkan. Kami sangat open dengan hal-hal seperti itu.

Sebelum di sini, saya bertugas di Pertagas selama satu tahun terakhir. Itu kan sebenarnya tidak di bawah radar manajemen Pertamina. Saya hanya melapor ke direktur utama anak perusahaan Pertamina tersebut. Tetapi kalau ternyata kinerja saya di Pertagas dikenali oleh manajemen Pertamina, mungkin ada sesuatu dari yang pernah saya buat ternyata bisa untuk perbaikan perusahaan. Atau paling tidak, dari segi publikasi ada sesuatu yang positif untuk perusahaan.

Jadi menurut saya, pada prinsipnya bekerja itu adalah memberikan hasil . Kita tidak usah harus banyak pusing dengan apa kata orang tentang posisi kita. Menurut saya, posisi adalah amanah. Yang penting bagaimana kita menjalankan posisi ini dan berbuat semaksimal mungkin. Urusan apakah besok-besok mau dicopot, itu sudah garis tangan.

Menduduki posisi ini menggantikan Ali Mundakir yang lebih senior pun buat saya tidak ada beban. Kenapa? Saya tidak perlu mirroring orang. Saya harus yakin dengan apa yang saya kerjakan. Kalau saya tidak bisa kerja, tidak usah dari dulu saya masuk Pertamina. Tidak usah dari dulu saya pindah-pindah tempat kerja. Pada akhirnya, silakan dinilai kinerja saya secara proporsional, apa yang sudah saya hasilkan. Kerjakan secara objektif dan give the best effort.

Amanah dan Bertanggung Jawab

Amanah dan bertanggung jawab itu menjadi prinsip atau moto hidup saya dalam bekerja. Bertanggung jawab itu mempunyai arti yang luas. Contohnya, saya bisa membereskan satu tugas dengan tiga kegiatan. Tapi hasilnya sekadar beres saja. Kalau saya tambah effort saya dengan enam kegiatan dan ternyata hasilnya lebih cepat dan tidak sekadar beres tapi luar biasa, itu yang menurut saya disebut sebagai bertanggung jawab.

Kita harus bisa menemukan energi di dalam diri kita untuk passion dan berbuat yang the best untuk perusahaan. Tidak ada lagi kata malas dan susah. Buat saya, masalahnya bukan tidak bisa, tapi mau atau tidak mau. Itu saja.

Template Data Info

Meski sudah menduduki posisi VP, masih banyak yang harus saya kejar. Paling tidak, urusan publikasi dan hubungan dengan media harus lebih baik. Saya berharap, ke depan Pertamina punya template data info yang bisa di-share secara berkala dengan wartawan. Dengan data itu, wartawan bisa mandiri dalam mengembangkan berita.

Jadi, menurut saya adalah bagaimana kita memberikan level of service kepada wartawan sebagai penghubung ke masyarakat dan bagaimana kita sebagai komunikator harus bersifat melayani, instead of harus didatangi.

Saya sebagai pribadi dan pemegang amanah ini harus mendukung kinerja Pertamina. Menurut saya, Pertamina jangan hanya bisa menghasilkan berita positif, meski itu salah satu yang penting, tapi yang tidak kalah penting adalah bagaimana wartawan bisa memahami kondisi yang sebenarnya terjadi. Kalau wartawan lebih paham, kami akan mendapatkan lebih banyak dukungan dalam menjalankan bisnis. (cd)

Komentar

Artikel Lainnya ×
 
 
 
 
 

Tahan Penurunan Produksi Blok Mahakam

Total Exploration & Production menunjuk Arividya Noviyanto sebagai President & General Manager Total E&P Indonesie (TEPI) dan Group Representative untuk Indonesia yang baru menggantikan Hardy Pramono (2014 – 2016), yang akan memasuki masa…