MigasReview, Bogor - Pengamanan dan keselamatan instalasi
minyak dan gas bumi (migas) di lepas pantai Indonesia tidak dapat dilaksanakan
oleh satu kementerian saja, melainkan diperlukan kerja sama beberapa
kementerian dan lembaga (K/L) serta badan usaha. Sinergi diperlukan dalam
kegiatan migas yang saat ini semakin kompleks.
Direktur Teknik dan Lingkungan Migas Soerjaningsih
menjelaskan, pada masa lalu hingga saat ini, kegiatan eksplorasi produksi
dilakukan di laut yang relatif dangkal dan kondisi lingkungan bersahabat. Sejak
10 tahun terakhir, industri migas Indonesia telah mulai melakukan eksplorasi di
laut dalam seperti di Selat Makasar, Laut Banda dan Laut Arafura.
Untuk keperluan produksi, saat ini terdapat 631 platform di lepas pantai Indonesia yang
terdiri dari 523 platform aktif, 102
tidak aktif dan 6 dibongkar. Platform
ini dioperasikan oleh 28 Kontraktor Kontrak Kerja Sama, dengan berbagai fungsi
dan pipa penyalur bawah air dengan panjang ratusan kilometer.
Di sisi lain, untuk memenuhi kebutuhan BBM dalam negeri
serta mendistribusikannya ke seluruh pelosok tanah air, dibutuhkan keterlibatan
ratusan kapal tanker dan lebih dari 200 terminal atau pelabuhan khusus BBM. Di
samping itu, pasokan BBM juga didukung oleh beberapa terminal untuk bongkar
muat BBM impor.
Laut Indonesia juga strategis karena merupakan jalur yang
digunakan untuk memenuhi pasokan minyak di Asia Timur yaitu Korea, Jepang dan
China. Hampir 90% kebutuhan minyak Jepang dan Cina diangkut melalui perairan
Indonesia khususnya Selat Malaka, Sunda, Lombok dan Selat Makasar.
"Dengan program
tol laut dan perekonomian yang terus tumbuh, lalu lintas pelayaran antar pulau
maupun antar benua dari pelabuhan-pelabuhan utama di Indonesia tentu akan
meningkat," ujar Soerjaningsihmigas.esdm.go.id.
Berdasarkan gambaran-gambaran tersebut,
memberikan tantangan dan ancaman dalam menjaga operasi kegiatan migas yang
aman.
"Integritas
instalasi migas tidak hanya dipengaruhi oleh kesesuaian dan pemenuhan terhadap
peraturan yang berlaku dan standar, tetapi juga oleh faktor eksternal. Oleh
karena itu diperlukan tindakan preventif untuk mencegah hal tersebut, khususnya
pada daerah lepas pantai," ujar Soerjaningsih.
Kejadian tumpahan minyak yang terjadi di Pertamina RU V
Balikpapan dan kebocoran pipa gas CNOOC di Perairan Banten, juga dapat
dijadikan sebagai pelajaran bahwa koordinasi dan sistem peringatan dini menjadi
faktor yang sangat penting dalam pencegahan dan penanggulangan keadaan darurat.
Agar peristiwa tersebut tidak terulang kembali, Kementerian
ESDM bersama Kementerian Perhubungan,
Bakamla dan Pushidrosal TNI AL akan bersinergi. Pertama, melakukan penyamaan
data, koordinat sehingga semua pihak terkait memilki data yang sama.
Perizinan dan Sertifikasi
Sinergi selanjutnya adalah menghimbau badan usaha untuk
melakukan pemutakhiran perizinan dan sertifikasi yang dimiliki.
"Kita juga akan
melakukan sinergi dalam bidang teknologi. Teknologi automatic system akan kita sinergikan dengan fasilitas migas
di lepas pantai sehingga bisa memonitor pergerakan kapal agar supaya bisa diantisipasi
keamanannya," jelas Soerjaningsih.
Pertemuan secara berkala juga akan dilakukan sebagai tindak
lanjut sinergi ini dan selanjutnya diharapkan dapat diperoleh formula yang
efektif dan efisien untuk menjawab tantangan pengamanan dan keselamatan
instalasi migas di laut lepas pada masa mendatang.
Untuk mempercepat pelaporan awal kecelakaan migas oleh badan
usaha, pelaporan kondisi tidak aman ataupun pangaduan keselamatan migas, Direktorat
Jenderal Migas telah menyiapkan SMS Center
Keselamatan Migas di 081290001717.
Badan usaha maupun masyarakat dapat melaporkan kejadian keselamatan migas ke nomor tersebut agar
dapat segera ditindaklanjuti.

Komentar