Peran Ahli Geologi dalam Penemuan Cadangan Migas melalui Eksplorasi

08 March 2013, Editor admin

facebook
10
twitter
google+
0
linkedin
1
Minyak dan gas bumi (migas) adalah sumber daya hidrokarbon yang tidak dapat diperbaharui. Untuk menemukan dan menambah cadangan migas, cara yang harus ditempuh adalah melalui kegiatan eksplorasi. Sebab, pada hakikatnya, setiap migas yang diproduksi wajib diganti dengan cadangan baru sebesar migas yang diproduksi. Ini yang dinamakan reserve replacement ratio (RRR). Namun, tentu saja kegiatan eksplorasi membutuhkan waktu dan biaya yang tidak sedikit.

Eksplorasi disebut juga penjelajahan atau pencarian, merupakan tindakan mencari atau melakukan perjalanan dengan tujuan menemukan sesuatu. Dalam dunia migas, eksplorasi atau pencarian migas merupakan suatu kajian panjang yang melibatkan beberapa bidang kajian kebumian dan ilmu eksak. Untuk kajian dasar, riset dilakukan oleh para geologis, yaitu orang-orang yang menguasai ilmu kebumian. Mereka adalah orang yang bertanggung jawab atas pencarian hidrokarbon tersebut.

Kajian geologi merupakan kajian regional. Jika secara regional tidak memungkinkan untuk mendapat hidrokarbon, maka tidak ada gunanya untuk diteruskan. Setelah kajian secara regional dengan menggunakan metoda geologi dilakukan, dan hasilnya mengindikasikan potensi hidrokarbon, tahap selanjutnya adalah tahapan kajian geofisika. Pada tahapan ini, metoda-metoda khusus digunakan untuk mendapatkan data yang lebih akurat guna memastikan keberadaan hidrokarbon dan kemungkinannya untuk dapat diekploitasi.

Metode Seismik

Salah satu metode geofisika yang dilakukan untuk mengetahui kondisi geologi di bawah permukaan adalah metode seismik. Direktur Eksplorasi dan Pengembangan Pertamina EP Doddy Priambodo memaparkan pencapaian kinerja eksplorasi yang signifikan dengan menggunakan survei seismik 3D di lapangan Akasia Bagus, Indramayu, Jawa Barat. “Eksplorasi ini terluas sepanjang sejarah eksplorasi Pertamina yang menggunakan seismik 3D sepanjang 2011-2012 dengan total luas 1012 km persegi dengan durasi pekerjaan lebih cepat 3 bulan dari rencana awal dan tanpa kecelakaan kerja,” ujarnya.

Selain itu, Doddy juga mengatakan, pihaknya juga telah melakukan survei seismik 2D offshore (lepas pantai) terpanjang dalam sejarah eksplorasi di lapangan Matindok, di cekungan Banggai Sulawesi dengan total panjang lintasan 3,060 km. Survei dilaksanakan selama 40 hari hingga Oktober 2012 dan tanpa kecelakaan kerja.

Data-data yang dihasilkan dari pengukuran-pengukuran merupakan cerminan kondisi dan sifat-sifat batuan di dalam bumi. Ini penting sekali untuk mengetahui apakan batuan tersebut memiliki sifat-sifat sebagai batuan sumber, reservoir, batuan perangkap atau hanya batuan yang tidak penting dalam artian hidrokarbon. Setelah melakukan eksplorasi seismik, selanjutnya perlu dilakukan pengecekan data-data seismik tersebut melalui pengeboran eksplorasi.

Rencana pengeboran juga melalui berbagai pertimbangan, yaitu menentukan lokasi, kedalaman akhir, latar belakang geologi, serta jenis bor yang diperlukan. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Migas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, kegiatan pengeboran eksplorasi tiap tahunnya terus menunjukkan peningkatan. Pada 2010 terjadi pengboran eksplorasi atas 90 sumur dari 126 sumur yang direncanakan.  Dari jumlah itu, 27 sumur teridentifikasi kandungan migas dengan success ratio 30 persen.

Jumlah pengeboran itu lebih tinggi dibandingkan 2009 yang mencapai 75 sumur dari 84 sumur yang direncanakan. Dari 75 sumur tersebut, 35 sumur teridentifikasi kandungan migas dengan success rasio 47 persen.  Sedangkan pada 2008 dilakukan pengeboran pada 70 sumur dari 145 sumur yang direncanakan. Dari jumlah itu, teridentifikasi 34 sumur mengandung migas dengan success ratio 49 persen.

Tingkat Success Ratio

Doddy menjelaskan, status tindak lanjut sumur-sumur pengeboran eksplorasi 2008-2012 yang dilakukan dan berada di lahan milik Pertamina EP, success ratio-nya mencapai 80 persen dari 83 sumur yang dilakukan ekplorasi. Sebanyak 20 sumur dinyatakan dry hole (kosong), 26 sumur produksi, 14 sumur tahap evaluasi, 9 sumur tahap pengembangan (POD/plan of development), dan sisanya 17 sumur dalam rencana produksi.

“Temuan eksplorasi dari tahun ke tahun sebenarnya naik. Pada 2012, Pertamina EP menemukan hasil eksplorasi sebesar 229 MMBOE (Million Barrels of Oil Equivalent). Hal ini diperlihatkan dari RRR telah mencapai 202 persen dengan cadangan terbukti yang ada sebesar 114 MMBOE,” terangnya.

Rencana dan Realisasi Pengeboran Eksplorasi Pertamina EP 2012

•Rencana Pengeboran (WP&B Original) : 25 Sumur (13 Wildcat + 11 Delineasi + 1 Reentry)

•Rencana Pengeboran (WP&B Revisi) : 29 Sumur (14 Wildcat + 14 Delineasi + 1 TW)

•Selesai : 24 Sumur (9 Wildcat + 14 Delineasi + 1TW)

•Ongoing : 4 Sumur (3 Wildcat + 1 Deliniasi)

Temuan Cadangan Eksplorasi(INPLACE)(RECOVERABLE)
Target Temuan223 MMBO1683 BCFG513 MMBOE56 MMBO1194 BCFG262 MMBOE
Realiasi293 MMBO1046 BCFG473 MMBOE95 MMBO777 BCFG229 MMBOE
 131%62%92%169%65%87%

 

Biaya Ekplorasi

Kegiatan eksplorasi Pertamina EP pada 2013 menargetkan melakukan pengeboran sebanyak 28 sumur. Adapun target survei seismik 2D eksplorasi sebanyak 817 km dan survei seismik 3D adalah 1488 km persegi. Jumlah studi yang akan dilaksanakan pada 2013 adalah 6 studi. Tentu, untuk melakukannya paling tidak membutuhkan biaya yang cukup besar. Doddy juga mengatakan, Pertamina EP telah mengalokasikan anggaran sebesar US$300 juta untuk melakukan kegiatan eksplorasi migas tersebut.

Berdasarkan data Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas (SKK Migas), biaya eksplorasi migas sejak 2002-2012 tercatat mencapai US$1,327 miliar. Biaya tersebut merupakan total biaya eksplorasi yang dikeluarkan oleh kontraktor kontrak kerja Sama (KKKS). Perlu diketahui, biaya tersebut tidak dimasukkan dalam cost recovery sehingga nilai tersebut menjadi tanggungan KKKS meski tidak menghasilkan cadangan migas komersial untuk dikembangkan dan tidak dapat diproduksi.

Besarnya risiko kegiatan menemukan cadangan migas menjadi pertimbangan bagi perusahaan migas untuk melakukan eksplorasi. Tetapi, begitu cadangan tersebut ditemukan dan memiliki nilai komersial, tentu menjadi barang rebutan bagi siapapun. (anovianti muharti)

Komentar

Artikel Lainnya ×
 
 
 
 
 

2025, Pemerintah Targetkan 1,8 GW Pembangkit Tenaga Bayu Terbangun di Indonesia

Dengan potensi total mencapai 60,6 Giga Watt (GW), Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) menjadi salah satu potensi besar dalam pengembangan ketenagalistrikan nasional, khususnya pada daerah yang memiliki potensi kecepatan angin di atas 4 meter per second…