Direktur Utama PT Energy Management Indonesia Aris Yunanto

Kampanyekan Efisiensi Energi, EMI Sasar Istana Negara

28 January 2015, Editor Cundoko

Direktur Utama PT EMI Aris Yunanto. (Fachry Latief/ MigasReview.com)
facebook
3
twitter
6
google+
0
linkedin
0

MigasReview, Jakarta – PT Energy Management Indonesia (Persero) (EMI) mulai menyasar lingkungan Istana Negara dalam mengampanyekan efisiensi energi.

Ini merupakan momen yang sangat pas sebelum menyasar gedung-gedung pemerintahan, rumah tangga, BUMN, BUMN, di samping apa yang telah dilakukannya di beberapa sektor industri.

Berikut penuturan Direktur Utama PT EMI Aris Yunanto yang diwawancara usai media gathering di kantornya, Rabu (28/1).

Bisa diceritakan awal mula EMI memperoleh proyek dari Istana Negara?

Tahun ini kami ditunjuk oleh Biro Rumah Tangga Istana untuk pemeliharaan biaya listrik sehingga tercapai efisiensi energi. Bila biaya konsumsi listrik di Istana biasanya diperkirakan sekitar Rp 15 miliar pada tahun-tahun sebelumnya, tahun ini biaya listrik dikurangi jadi sekitar Rp10 miliar. Ini sangat berisiko. Lalu bagaimana cara menghemat konsumsi energi untuk rumah tangga Istana?

Apa yang akan dilakukan EMI untuk itu?

Dalam melakukan penghematan di lingkungan rumah tangga Istana Negara, EMI akan mengefisienkan jam-jam penggunaan pendingin ruangan (AC). Kami akan bekerjasama dengan Biro Rumah Tangga Istana untuk mengaudit penggunaan energi di sana. Sekaligus, kami akan merekomendasikan implementasi efisiensi energi. Lingkungan Istana harus menjadi pelopor dalam efisiensi energi, sekaligus menjadi contoh bagi masyarakat bahwa puncak pimpinan tertinggi di Indonesia saja melakukan itu.

Setelah rumah tangga Istana, kami berharap, selanjutnya gedung pemerintahan, industri dan masyarakat juga melakukan hal yang demikian. Efisiensi enegi agar menjadi sesuatu yang penting dan menjadi prioritas dalam rangka penghematan anggaran. Ini menjadi sebuah potensi yang bagus bagi EMI untuk berkontribusi lebih besar bagi efisiensi energi di Indonesia.

Apa kesulitan dalam upaya efisiensi di Istana Negara?

Kami belum dapat mengetahui kapasitas listrik yang telah digunakan di lingkungan Istana Negara yang membuat konsumsi energinya menjadi besar. Nanti setelah kami tahu, konstruksi energinya di sana bisa didapatkan sehingga ketahuan apa yang menyebabkan boros. Saat ini kami baru bisa merekomendasikan implementasi penghematannya dari beberapa sisi. Sekarang kami belum berbicara apa-apa karena belum masuk ke dalamnya. Yang dilakukan ini baru rekomendasi untuk mematikan dan menghidupan AC pada jam-jam tertentu. Biasanya yang menyerap banyak energi dari suatu bangunan itu adalah lampu dan pendingin. Mungkin juga jaringan listriknya itu sendiri yang harus diperbaiki.

Bisa dicontohkan soal inefisiensi jaringan?

Untuk bangunan, kadangkala jaringan-jaringan real out-nya masih tidak efisien. Jadi bolak-balik menggunakan kabel listrik tertentu untuk lingkungan perkantorannya. Tidak perlu menggunakan kabel listrik yang sama untuk untuk AC sentral, misalnya. Kadangkala kita pukul rata. Itu sebetulnya jangan dilakukan. Hingga saat ini kami belum tahu mana yang harus diefisienkan karena kami belum melakukan audit.
Tapi paling tidak kabel di real-out itu diganti, disusun ulang tata letaknya. Untuk lampunya tidak perlu sebanyak sekarang, yang penting cahayanya sudah cukup. Untuk AC, kita bisa menggunakan AC yang lebih hemat energi atau bisa juga dapat memisahkan berdasarkan fungsi ruangan. Apakah AC-nya perlu jadi satu atau tidak. Mungkin AC-nya tidak perlu sentral tapi disesuaikan dengan fungsi ruangan. (albi wahyudi)


Komentar

Artikel Lainnya ×
 
 
 
 
 

Masa Depan Batubara Indonesia di Underground Mining

Migas Review, Jakarta – Program pemerintah menambah daya listrik nasional sebesar 35.000 megawatt dalam 5 tahun ke depan akan sangat membutuhkan batubara mengingat 60 persen pembangkit rencananya menggunakan sumber energi tersebut. Meski saat ini persediaan…