MigasReview, Jakarta – PT Energy Management Indonesia
(Persero) (EMI) mulai menyasar lingkungan Istana Negara
dalam mengampanyekan efisiensi energi.
Ini merupakan momen yang sangat pas sebelum
menyasar gedung-gedung pemerintahan, rumah tangga, BUMN, BUMN, di samping apa
yang telah dilakukannya di beberapa sektor industri.
Berikut penuturan Direktur Utama PT EMI Aris Yunanto yang diwawancara usai media gathering di kantornya, Rabu
(28/1).
Bisa diceritakan
awal mula EMI memperoleh proyek dari Istana Negara?
Tahun ini kami
ditunjuk oleh Biro Rumah Tangga Istana untuk pemeliharaan biaya listrik sehingga
tercapai efisiensi energi. Bila biaya konsumsi listrik di Istana biasanya diperkirakan
sekitar Rp 15 miliar pada tahun-tahun sebelumnya, tahun ini biaya listrik dikurangi
jadi sekitar Rp10 miliar. Ini sangat berisiko. Lalu bagaimana cara menghemat
konsumsi energi untuk rumah tangga Istana?
Apa yang akan
dilakukan EMI untuk itu?
Dalam melakukan penghematan di lingkungan rumah tangga
Istana Negara, EMI akan mengefisienkan jam-jam penggunaan pendingin ruangan (AC).
Kami akan bekerjasama dengan Biro Rumah Tangga Istana untuk mengaudit penggunaan
energi di sana. Sekaligus, kami akan merekomendasikan implementasi efisiensi energi. Lingkungan Istana harus menjadi pelopor dalam
efisiensi energi, sekaligus menjadi contoh bagi masyarakat bahwa puncak
pimpinan tertinggi di Indonesia saja melakukan itu.
Setelah rumah tangga Istana, kami berharap, selanjutnya gedung pemerintahan,
industri dan masyarakat juga melakukan hal yang demikian. Efisiensi enegi agar menjadi sesuatu yang penting dan
menjadi prioritas dalam rangka penghematan anggaran. Ini menjadi sebuah potensi
yang bagus bagi EMI untuk berkontribusi
lebih besar bagi efisiensi energi di Indonesia.
Apa kesulitan
dalam upaya efisiensi di Istana Negara?
Kami belum dapat mengetahui kapasitas listrik yang telah digunakan di lingkungan Istana Negara yang membuat konsumsi energinya menjadi besar. Nanti setelah kami tahu, konstruksi
energinya di sana bisa didapatkan sehingga ketahuan apa yang menyebabkan boros. Saat ini kami baru bisa
merekomendasikan implementasi penghematannya dari beberapa sisi. Sekarang kami belum
berbicara apa-apa karena belum masuk ke dalamnya. Yang dilakukan ini baru rekomendasi untuk mematikan dan menghidupan AC pada jam-jam tertentu. Biasanya yang menyerap
banyak energi dari suatu bangunan itu adalah lampu dan pendingin. Mungkin juga jaringan listriknya itu sendiri yang harus
diperbaiki.
Bisa dicontohkan soal inefisiensi jaringan?
Untuk bangunan, kadangkala jaringan-jaringan real out-nya masih tidak
efisien. Jadi bolak-balik menggunakan
kabel listrik tertentu untuk lingkungan perkantorannya. Tidak perlu menggunakan kabel listrik yang sama untuk untuk AC sentral, misalnya. Kadangkala kita
pukul rata. Itu sebetulnya jangan dilakukan. Hingga saat ini kami belum tahu mana yang harus diefisienkan karena kami belum melakukan
audit.
Tapi paling tidak kabel
di real-out itu diganti, disusun
ulang tata letaknya. Untuk lampunya tidak perlu sebanyak sekarang, yang penting cahayanya sudah cukup. Untuk AC, kita bisa menggunakan
AC yang lebih hemat energi atau bisa juga dapat memisahkan berdasarkan fungsi ruangan. Apakah AC-nya perlu jadi satu atau tidak. Mungkin AC-nya tidak perlu sentral tapi disesuaikan dengan fungsi
ruangan. (albi wahyudi)

Komentar