MigasReview, Jakarta - Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konversi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Rida Mulyana menjadi narasumber dalam diskusi "Energi Kita" di Gedung Dewan Pers, Jl. Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Rabu (20/06/2015). Indonesia memiliki jumlah energi yang terbatas saat ini. Oleh karena itu menjadi prioritas pemerintahan sekarang untuk lebih cepat dan tepat mencarikan alternatif dan inovatif bagaimana memanfaatkan energi terbarukan demi masa depan bersama.
Dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2016, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengusulkan anggaran Rp 25 triliun. Dari anggaran itu, 40 persen dialokasikan untuk pengembangan Energi Baru Terbarukan dan Konversi Energi (EBTKE).
Rida menegaskan, porsi anggaran sudah menunjukkan keseriusan dan komitmen pemerintah menekan penggunaan energi fosil dan mengembangkan energi baru terbarukan. Indonesia sudah tak bisa lagi mengandalkan energi fosil untuk kebutuhan dalam negeri. Karena itu, pemerintah sengaja mengalokasikan anggaran besar untuk sektor energi baru. Tujuan akhirnya menekan impor energi fosil yang selama ini dilakukan.
"Bahwa potensi energi listrik yang bisa dihasilkan dari limbah kelapa sawit mencapai lima gigawatt. Ada 850 pabrik kelapa sawit (PKS) di Indonesia, jika satu pabrik produksinya 30-40 ton per hari, kurang lebih listrik yang dihasilkan empat megawatt. Itu satu pabrik, jika semuanya kurang lebih lima gigawatt," kata Rida.
Limbah padat mencapai 15,2 juta ton per tahun dan limbah PKS cair mencapai 28,7 juta ton per tahun, apabila dapat dikonversi, maka dari angka tersebut bisa dihasilkan 90 juta meter kubik biogas atau setara 187,5 juta ton gas elpiji.(FL)
Komentar