MigasReview, Jakarta - Usaha keluarga Eddy Tampi bermula dari bisnis katering untuk industri migas pada 1971, terutama memasok makanan ke Petro Merten dan ConocoPhillips. Semula bisnis kateringnya dijalankan lewat CV Sele Raya, kemudian berubah menjadi PT Sele Raya pada 1977. Eddy Tampi lalu terlibat lebih dalam di industri migas dengan terjun ke bidang seismik akuisisi pada 1980-an. Seismik akuisisi adalah kegiatan pertama yang harus dilakukan sebelum pengeboran. Jadi, Sele Raya bergerak sebagai layanan pendukung industri migas.
Tahun 1986, Sele Raya mendapat kepercayaan untuk mengoperasikan Sembakung Field di Kalimantan selama empat tahun dengan produksi minyak sekitar 3.600 barel per hari. “Bila dilihat dari kemampuan, kami sudah tahu know-how dari seismik, sudah berpengalaman dalam pengoperasian produksi.
Eddy Tampipun punya cita-cita. "Perusahaan dan pengusaha nasional harus bisa berkompetisi dengan perusahaan asing dalam pengelolaan minyak dan gas bumi,” ujarnya.
Menurut Eddy Tampi selaku pemilik tunggal (Owner) PT Sele Raya mengatakan mampu memproduksi minyak dari perusahaannya tersebut saat ini sekitar 2.000 bph tetapi potensinya 200 bph, sehingga kehilangan dari penerimaan negara hanya dari perusaannya itu sekitar US$10 juta perbulan.
Eddy Tampi, Chairman Sele Raya mengungkapkan, investasi sebesar US$ 20 juta untuk membeli alat bor serta membangun infrastruktur di kawasan Merangin II. "Angka tersebut terbilang kecil dalam besaran investasi pada sektor energi, terlebih di usaha minyak dan gas bumi," ungkap Eddy.
Tetapi permasalahannya untuk pembebasan lahan dari pemerintah selalu dihambat dengan birokrasi yang rumit. Eddy meminta pemerintah segera membuat Undang Undang (UU) mengatur perizinan dan pembebasan lahan untuk kegiatan hulu migas di Indonesia.
Komentar