Moektianto Soeryowibowo

Mutu Sebagai Kunci Kompetensi Ahli Geologi

07 October 2016, Editor Anovianti Muharti

facebook
10
twitter
google+
0
linkedin
0

MigasReview, Yogyakarta - Industri ekstraksi seperti di dunia pertambangan dan perminyakan, setidaknya membutuhkan ahli geologi (ilmu kebumian), karena tanpa pendataan dari geologist dapat menimbulkan messed up bagi semua pihak di perusahaan tambang maupun minyak dan gas bumi (bumi). Tentunya, untuk meminimalisir hal tersebut (messed up) memerlukan sumber daya manusia (SDM) peka (terlatih) dan memahami terhadap kondisi ataupun situasi berdasarkan perkembangan waktu.


Seperti yang dikatakan Vice President Exploration BP Indonesia Moektianto Soeryowibowo, bahwa mutu, menjadi salah satu kunci dalam hal kompetensi bagi (calon) seorang ahli geologi. “Kompetensi tersebut bagaimana kita memahami ilmu geologi itu sendiri, itulah satu hal yang harus dipahami oleh mahasiswa geologi,”


Berikut obrolannya bersama tim Geoweek 2016 dari Universitas Gajah Mada bekerjasama dengan MigasReview.com, beberapa waktu lalu.

---

Sebagai geologist, apa yang mungkin bisa didapatkan dan bagaimana perannya dalam industri migas?

Peran seorang geologist untuk migas atau komoditas ekstraksi fossil fuel, sangat penting, karena saya cuma bisa mengatakan analogi simple, seolah-olah orang lain tidak bisa melihat, seorang geologist bisa melihat, artinya kita berurusan dengan sesuatu yang ada di dalam perut bumi, yang tidak terlihat oleh orang lain.


Sekarang ini tersembunyi di dalam perut bumi, tetapi bagaimana, siapa yang mengetahui bahwa di suatu tempat itu terdapat potensi apa atau tidak, yang tahu adalah geologist, walaupun dia tidak kemudian bisa tahu seperti paranormal, tetapi dia harus tetap dibantu dengan alat-alat geofisika dan geokimia.


Peran geologist sangat fungsi terutama menentukan potensi potensi komoditas ekstraksi yang ada di dalam perut bumi, tentu jadi tantangan sebagai seorang yang mengaku sebagai geologist adalah mengembangkan kompetensinya, memahami dan  menerapkan potentsi yang ada di dalam sana seperti apa, itu yang harus tetap ada dalam radarnya seorang geologist. Bagaimana dia bisa mengembangkan kemampuan dirinya, dengan menerapkan prinsip-prinsip geologi, dimana mengetahui suatu tempat ada potensi atau tidak.


Sebagai ahli geologi, menurut Anda bagaimana geografis Indonesia, terutama dalam sektor sumber daya alam baik itu migas ataupun mineral?

Jadi sebagai seorang geologist, kita tahu mengenai konsep plate tectonic. Konsep plate tectonic itu adalah awalnya untuk tahu bahwa suatu daerah itu punya potensi migas, panas bumi ataupun mineral. Jadi, dengan memahami konsep plate tectonic, seorang mahasiswa geologi akan bisa langsung mengatakan bahwa misalnya disepanjang gunung api, daerah magamatik tentunya tidak akan mencari minyak bumi, namun lebih mencari mineral seperti mineral logam dan sebagainya. Atau, kalau kita mencari batubara, ya tidak di daerah gunung api, tapi kita cari di daerah cekungan, begitu juga untuk minyak.


Menurut Anda, apakah pendataan sumber daya di Indonesia yang dimiliki saat ini sudah cukup ter-update?

Sebelumnya saya mau meluruskan terlebih dahulu mengenai istilah cadangan, agar masyarakat dapat membedakan mana yang disebut cadangan dan mana yang disebut sumber daya. Kalau yang namanya cadangan, itu adalah sumber daya yang bisa diproduksikan dengan teknologi yang ada sekarang secara ekonomis. Sehingga dengan begitu kita tahu persis, sekarang ini dari sumber daya yang ada, yang begitu besar jumlahnya bahwa angka cadangan akan lebih kecil dari jumlah sumber daya.


Karena tidak semua sumber daya bisa diproduksikan dengan teknologi yang ada sekarang ini secara ekonomis. Bisa saja diproduksikan namun dengan harga yang mahal. Sementara semua industri akan mencari yang untung. Jadi kalau cadangan, sekarang ini kita bisa memahami jumlahnya seberapa dan memiliki data yang cukup baik dan akurat. Kalau masalah sumber daya, sumber daya kita cukup besar. Secara konsep kita bisa tahu sumber daya nya seberapa. Tapi sumber daya itu harus dibuktikan melalui kegiatan eksplorasi, pemboran (di migas), dan dengan penambahan data.


Bagaimana cara menghadapi update  data tersebut dalam segi tantangannya?

Untuk kita bisa memahami, perlu data. Karena kita sebagai geologist, kita dapat memprediksikan dimana ada atau tidaknya suatu komoditas tertentu. Untuk mengetahuinya kita peru data. Jadi data tersebut memanglah penting. Sementara masyarakat kita masih belum bisa menghargai data. Sehingga data yang harganya mahal, seperti pengambilan data di Gunung Jayawijaya atau data seismic di laut dalam yang membutuhkan budget yang mahal. Sehingga, menurut saya, yang pertama, kita kurang menghargai data. Sehingga data-data yang tekumpul dari jaman dulu hingga sekarang mungkin pengelolaannya belum maksimal.


Kemudian yang kedua, data baru juga mahal sehingga pemerintah harus berpikir siapa yang dapat membantu pemerintah untuk memperoleh data, karena tidak mungkin pemerintah sendiri yang memperolehnya. Sehingga, pemerintah harus kerjasama dengan industri. Namun industri baru akan tertarik kalau mereka bisa menginvestasikan uangnya jika mendapatkan untung. Sekarang, bagaimana pemerintah men-set up suatu regulasi atau aturan main yang dapat menarik industri untuk mau mencari data.


Dari segi teknologi dan juga SDM, seberapa siapkah Indonesia untuk melakukan eksplorasi baik itu dari industri ekstraktif maupun dari industri yang berhubungan dengan ilmu kebumian?

Menurut saya, dari segi sumber daya manusia, kita siap. Karena industri seperti migas sudah 100 lebih atau paling tidak 50 tahun, dari tahun 70an hingga sekarang. Kita punya tenaga ahli yang cukup banyak. Tetapi jangan lupa, bahwa industri ini butuh yang namanya komitmen dalam investasi dan modal. Yang saya sampai saat ini masih belum mendapatkan perusahaan-perusahaan nasional yang memiliki kombinasi yang pas, yaitu kombinasi mengenai modal, komitmen dan kemampuan me-manage resiko.


Kombinasi inilah yang dibutuhkan oleh perusahaan-perusahaan nasional untuk mengambil alih kegiatan itu. Kalua dari sisi sumber daya manusia, saya yakin SDM kita bisa. Cuma itu tadi, harus ada dukungan modal, komitmen, dan kemampuan mengelola resiko.


Berdasarkan pengalaman Anda, bagaimana penyusunan kebijakan oleh pemerintah terhadap industri ekstraktif? Siapa saja yang ikut berperan dalam penyusunan tersebut serta seberapa besar peran ahli geologi?

Kalau menurut saya, kebijakan kita saat ini belum terkoordinasi. Kegiatan-kegiatan di lapangan masih bersinggungan dengan masalah hutan, laut dan lingkungan. Jadi, kita tidak hanya berbicara masalah sumber daya, tapi ada kepentingan-kepentingan lain. Belum lagi masalah-masalah pemerintah daerah, masyarakat, sosial, dan sebagainya. Sinkronisasi peraturan ini belum terjadi di dalam pemerintah yang menjadi issue long standing,  jangka panjang yang sebetulnya sudah dikeluhkan dari dulu tapi masih belum ada resolusinya. Isu-isu non-teknis ini jauh lebih mendominasi daripada isu isu yang bersifat teknis. Sehingga, kita berbicara teknis lebih mudah daripada masalah-masalah non-teknis seperti ini.


Jadi hal itu yang perlu diselesaikan. Peran pemerintah sudah berjalan dengan pasti. Peran IAGI (Ikatan Ahli Geologi Indonesia) juga harusnya mengadvokasi masalah ini secara berkelanjutan. Karena tanpa dilakukan itu, menyebabkan terhambat ditengah jalan. Akibatnya, eksplorasi tidak jalan, pencarian cadangan baru juga tidak terjadi, yang terjadi malah defisit. Dan kita telah mengalami defisit.


Apa harapan Anda untuk calon geologist di masa mendatang, karena jumlah mahasiswa geologi tentunya akan semakin bertambah?

Tantangan kita kalau jumlah semakin banyak, sementara kesempatan semakin sedikit, atau kesempatan relatif tetap seperti itu tapi jumlah orangnya makin banyak, artinya kompetisinya semakin tinggi. Kalau kompetisinya semakin tinggi, maka yang menjadi kunci adalah mutu. Mutu, sebagai masalah teknis itu diterjemahkan sebagai kompetensi. Kompetensi bagaimana kita memahami ilmu geologi itu sendiri, itulah satu hal yang harus dipahami oleh mahasiswa geologi.


Yang kedua, masalah non-teknis yaitu softskill. Softskill itu artinya kemampuan untuk berinteraksi, bekerjasama dengan teman. Karena kita tidak bekerja sendiri. Tiap orang akan memiliki keahlian masing-masing. Nah, kemampuan kita bekerjasama dengan keahlian yang berbeda-beda (profesi lain) itu sangat penting. Kemudian yang ketiga yaitu kepemimpinan, bagaimana kita bisa memimpin orang lain. Karena dengan berkerjasama dengan profesi yang lain, kita harus leading the team. Kemudian masalah komunikasi. Bagaimana kita bisa bertanya dengan benar, bagaimana kita bisa men-challenge orang lain tanpa menyakiti orang tersebut. Nah, skill-skill yang non-teknis inilah yang perlu dikembangkan disamping skill teknisnya. (fauzy akhyar/aisha waren/anovianti muharti)

Komentar

Artikel Lainnya ×
 
 
 
 
 

Kompetisi Positif dan Peningkatan Kualitas

MigasReview, Jakarta - Terbentuknya Holding Pertambangan dari 3 perusahaan BUMN yaitu PT Antam Tbk (ANTM), PT Bukit Asam Tbk (PTBA), dan PT Timah Tbk (TINS), tentunya terdapat manfaat dan tantangan yang akan dihadapi oleh masing-masing perusahaan. Sekretaris…