MigasReview, Yogyakarta - Industri
ekstraksi seperti di dunia pertambangan dan perminyakan, setidaknya membutuhkan
ahli geologi (ilmu kebumian), karena tanpa pendataan dari geologist dapat menimbulkan messed
up bagi semua pihak di perusahaan tambang maupun minyak dan gas bumi (bumi).
Tentunya, untuk meminimalisir hal tersebut (messed
up) memerlukan sumber daya manusia (SDM) peka (terlatih) dan memahami
terhadap kondisi ataupun situasi berdasarkan perkembangan waktu.
Seperti yang dikatakan Vice President
Exploration BP Indonesia Moektianto Soeryowibowo, bahwa mutu, menjadi
salah satu kunci dalam hal kompetensi bagi (calon) seorang ahli geologi. “Kompetensi
tersebut bagaimana kita memahami ilmu geologi itu sendiri, itulah satu hal yang
harus dipahami oleh mahasiswa geologi,”
Berikut obrolannya bersama tim Geoweek 2016 dari Universitas Gajah Mada bekerjasama dengan MigasReview.com, beberapa waktu lalu.
---
Sebagai geologist, apa yang mungkin bisa didapatkan dan bagaimana perannya dalam industri migas?
Peran seorang geologist untuk migas atau komoditas ekstraksi fossil fuel, sangat penting, karena saya cuma bisa mengatakan
analogi simple, seolah-olah orang
lain tidak bisa melihat, seorang geologist
bisa melihat, artinya kita berurusan dengan sesuatu yang ada di dalam perut
bumi, yang tidak terlihat oleh orang lain.
Sekarang ini tersembunyi di dalam perut
bumi, tetapi bagaimana, siapa yang mengetahui bahwa di suatu tempat itu
terdapat potensi apa atau tidak, yang tahu adalah geologist, walaupun dia tidak kemudian bisa tahu seperti
paranormal, tetapi dia harus tetap dibantu dengan alat-alat geofisika dan
geokimia.
Peran geologist sangat fungsi terutama menentukan potensi potensi
komoditas ekstraksi yang ada di dalam perut bumi, tentu jadi tantangan sebagai
seorang yang mengaku sebagai geologist
adalah mengembangkan kompetensinya, memahami dan menerapkan potentsi yang ada di dalam sana
seperti apa, itu yang harus tetap ada dalam radarnya seorang geologist. Bagaimana dia bisa
mengembangkan kemampuan dirinya, dengan menerapkan prinsip-prinsip geologi,
dimana mengetahui suatu tempat ada potensi atau tidak.
Sebagai ahli geologi, menurut Anda bagaimana geografis Indonesia, terutama dalam sektor sumber daya alam baik itu migas ataupun mineral?
Jadi sebagai seorang geologist, kita tahu mengenai konsep plate tectonic. Konsep plate tectonic itu adalah awalnya untuk
tahu bahwa suatu daerah itu punya potensi migas, panas bumi ataupun mineral.
Jadi, dengan memahami konsep plate
tectonic, seorang mahasiswa geologi akan bisa langsung mengatakan bahwa
misalnya disepanjang gunung api, daerah magamatik tentunya tidak akan mencari
minyak bumi, namun lebih mencari mineral seperti mineral logam dan sebagainya.
Atau, kalau kita mencari batubara, ya
tidak di daerah gunung api, tapi kita cari di daerah cekungan, begitu juga
untuk minyak.
Menurut Anda, apakah pendataan sumber daya di Indonesia yang dimiliki saat ini sudah cukup ter-update?
Sebelumnya saya mau meluruskan terlebih
dahulu mengenai istilah cadangan, agar masyarakat dapat membedakan mana yang
disebut cadangan dan mana yang disebut sumber daya. Kalau yang namanya
cadangan, itu adalah sumber daya yang bisa diproduksikan dengan teknologi yang
ada sekarang secara ekonomis. Sehingga dengan begitu kita tahu persis, sekarang
ini dari sumber daya yang ada, yang begitu besar jumlahnya bahwa angka cadangan
akan lebih kecil dari jumlah sumber daya.
Karena tidak semua sumber daya bisa
diproduksikan dengan teknologi yang ada sekarang ini secara ekonomis. Bisa saja
diproduksikan namun dengan harga yang mahal. Sementara semua industri akan
mencari yang untung. Jadi kalau cadangan, sekarang ini kita bisa memahami
jumlahnya seberapa dan memiliki data yang cukup baik dan akurat. Kalau masalah
sumber daya, sumber daya kita cukup besar. Secara konsep kita bisa tahu sumber
daya nya seberapa. Tapi sumber daya itu harus dibuktikan melalui kegiatan
eksplorasi, pemboran (di migas), dan dengan penambahan data.
Bagaimana cara menghadapi update data tersebut dalam segi tantangannya?
Untuk
kita bisa memahami, perlu data. Karena kita sebagai geologist, kita dapat memprediksikan dimana ada atau tidaknya suatu
komoditas tertentu. Untuk mengetahuinya kita peru data. Jadi data tersebut
memanglah penting. Sementara masyarakat kita masih belum bisa menghargai data.
Sehingga data yang harganya mahal, seperti pengambilan data di Gunung Jayawijaya
atau data seismic di laut dalam yang
membutuhkan budget yang mahal.
Sehingga, menurut saya, yang pertama, kita kurang menghargai data. Sehingga
data-data yang tekumpul dari jaman dulu hingga sekarang mungkin pengelolaannya
belum maksimal.
Kemudian
yang kedua, data baru juga mahal sehingga pemerintah harus berpikir siapa yang
dapat membantu pemerintah untuk memperoleh data, karena tidak mungkin
pemerintah sendiri yang memperolehnya. Sehingga, pemerintah harus kerjasama
dengan industri. Namun industri baru akan tertarik kalau mereka bisa
menginvestasikan uangnya jika mendapatkan untung. Sekarang, bagaimana
pemerintah men-set up suatu regulasi
atau aturan main yang dapat menarik industri untuk mau mencari data.
Dari segi teknologi dan juga SDM, seberapa siapkah Indonesia untuk melakukan eksplorasi baik itu dari industri ekstraktif maupun dari industri yang berhubungan dengan ilmu kebumian?
Menurut
saya, dari segi sumber daya manusia, kita siap. Karena industri seperti migas
sudah 100 lebih atau paling tidak 50 tahun, dari tahun 70an hingga sekarang. Kita
punya tenaga ahli yang cukup banyak. Tetapi jangan lupa, bahwa industri ini
butuh yang namanya komitmen dalam investasi dan modal. Yang saya sampai saat
ini masih belum mendapatkan perusahaan-perusahaan nasional yang memiliki
kombinasi yang pas, yaitu kombinasi mengenai modal, komitmen dan kemampuan me-manage resiko.
Kombinasi
inilah yang dibutuhkan oleh perusahaan-perusahaan nasional untuk mengambil alih
kegiatan itu. Kalua dari sisi sumber daya manusia, saya yakin SDM kita bisa.
Cuma itu tadi, harus ada dukungan modal, komitmen, dan kemampuan mengelola
resiko.
Berdasarkan pengalaman Anda, bagaimana penyusunan kebijakan oleh pemerintah terhadap industri ekstraktif? Siapa saja yang ikut berperan dalam penyusunan tersebut serta seberapa besar peran ahli geologi?
Kalau
menurut saya, kebijakan kita saat ini belum terkoordinasi. Kegiatan-kegiatan di
lapangan masih bersinggungan dengan masalah hutan, laut dan lingkungan. Jadi,
kita tidak hanya berbicara masalah sumber daya, tapi ada
kepentingan-kepentingan lain. Belum lagi masalah-masalah pemerintah daerah,
masyarakat, sosial, dan sebagainya. Sinkronisasi peraturan ini belum terjadi di
dalam pemerintah yang menjadi issue long
standing, jangka panjang yang
sebetulnya sudah dikeluhkan dari dulu tapi masih belum ada resolusinya. Isu-isu
non-teknis ini jauh lebih mendominasi daripada isu isu yang bersifat teknis.
Sehingga, kita berbicara teknis lebih mudah daripada masalah-masalah non-teknis
seperti ini.
Jadi
hal itu yang perlu diselesaikan. Peran pemerintah sudah berjalan dengan pasti.
Peran IAGI (Ikatan Ahli Geologi Indonesia) juga harusnya mengadvokasi masalah
ini secara berkelanjutan. Karena tanpa dilakukan itu, menyebabkan terhambat
ditengah jalan. Akibatnya, eksplorasi tidak jalan, pencarian cadangan baru juga
tidak terjadi, yang terjadi malah defisit. Dan kita telah mengalami defisit.
Apa harapan Anda untuk calon geologist di masa mendatang, karena jumlah mahasiswa geologi tentunya akan semakin bertambah?
Tantangan kita kalau jumlah semakin
banyak, sementara kesempatan semakin sedikit, atau kesempatan relatif tetap
seperti itu tapi jumlah orangnya makin banyak, artinya kompetisinya semakin
tinggi. Kalau kompetisinya semakin tinggi, maka yang menjadi kunci adalah mutu.
Mutu, sebagai masalah teknis itu diterjemahkan sebagai kompetensi. Kompetensi
bagaimana kita memahami ilmu geologi itu sendiri, itulah satu hal yang harus
dipahami oleh mahasiswa geologi.
Yang kedua, masalah non-teknis yaitu softskill. Softskill itu artinya
kemampuan untuk berinteraksi, bekerjasama dengan teman. Karena kita tidak
bekerja sendiri. Tiap orang akan memiliki keahlian masing-masing. Nah,
kemampuan kita bekerjasama dengan keahlian yang berbeda-beda (profesi lain) itu
sangat penting. Kemudian yang ketiga yaitu kepemimpinan, bagaimana kita bisa
memimpin orang lain. Karena dengan berkerjasama dengan profesi yang lain, kita
harus leading the team. Kemudian
masalah komunikasi. Bagaimana kita bisa bertanya dengan benar, bagaimana kita
bisa men-challenge orang lain tanpa
menyakiti orang tersebut. Nah, skill-skill
yang non-teknis inilah yang perlu dikembangkan disamping skill teknisnya. (fauzy akhyar/aisha
waren/anovianti muharti)

Komentar